Photobucket
Tampilkan postingan dengan label Ternak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ternak. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Desember 2012

PENGARUH CEKAMAN PANAS TERHADAP PRODUKTIVITAS UNGGAS


BAB I
PENDAHULUAN
Unggas termasuk golongan hewan berdarah panas (endotermik/homeotermik) yang suhu tubuhnya diatur dalam suatu batasan yang sesuai. Secara normal, suhu tubuh unggas dewasa berkisar mulai dari 41-42°C dengan variasi sekitar 1,5°C. Unggas dapat berproduksi secara optimum bila faktor-faktor internal dan eksternal berada dalam batasan-batasan normal yang sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Suhu lingkungan merupakan salah satu faktor eksternal yang dapat mempengaruhi produktivitas unggas. Suhu panas pada suatu lingkungan pemeliharaan unggas telah menjadi salah satu perhatian utama karena dapat menyebabkan kerugian ekonomi akibat peningkatan angka kematian ataupun penurunan produktvitas.
Cekaman panas (heat stress) menyebabkan gangguan terhadap pertumbuhan pada unggas. Penurunan pertumbuhan ini terkait dengan penurunan konsumsi pakan dan peningkatan konsumsi air minum selama unggas mengalami cekaman panas.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengaruh suhu terhadap fisiologis unggas
2.1.1. Aktivitas metabolisme
                Suhu lingkungan yang tinggi menyebabkan naiknya suhu tubuh unggas. Peningkatan fungsi organ tubuh dan alat pernafasan merupakan gambaran dari aktifitas metabolisme basal pada suhu lingkungan tinggi menjadi naik. Meningkatnya laju metabolisme basal disebabkan karena bertambahnya penggunaan energi akibat bertambahnya frekuensi pernafasan, kerja jantung serta bertambahnya sirkulasi darah periferi. Melihat hasil tersebut, nampak bahwa pada suhu lingkungan yang tinggi di atas thermoneutral akan mengakibatkan kebutuhan energi lebih tinggi. Namun demikian, dengan adanya heat increament sebagai akibat pencernaan makanan dan metabolisme zat-zat makanan, akan menimbulkan beban panas bagi unggas dan akhirnya aktifitas metabolisme menjadi berkurang. Berkurangnya aktifitas metabolisme karena suhu lingkungan yang tinggi, dapat dilihat manifestasinya berupa menurunnya aktifitas makan dan minum.

2.1.2. Aktivitas hormonal
            Pengaruh cekaman panas terhadap unggas dapat dilihat melalui skema di bawah ini:
            Fase alarm ini ditandai dengan peningkatan tekanan darah, kandungan glukosa darah, kontraksi otot dan percepatan respirasi . Hormon yang mempunyai peranan pada fase alarm ini adalah hormon adrenalin yang dihasilkan pada ujung syaraf dan hormon norephinephrin yang dihasilkan oleh medulla adrenal. Lebih lanjut dinyatakan bahwa selama fase alarm, hormon yang berasal dari hypothalamus ikut berperan. Hypothalamus mensekresikan Corticotropin Realising Faktor (CRF) ke hipofise anterior. Selanjutnya hipofise anterior mensintesa adrenocorticotropin (ACTH) dan selanjutnya disekresikan keseluruh pembuluh darah. Jaringan kortiko adrenal bertanggung jawab terhadap sintesa ACTH dengan peningkatan dan pelepasan hormon steroid .

2.1.3. Kontrol suhu tubuh
Pada suhu lingkungan di atas thermoneutral, produksi panas meningkat karena unggas tak dapat mengontrol hilangnya panas dengan menguapkan air dari pori-pori keringat, akhirnya cara yang dilakukan ialah melalui pernafasan yang cepat, dangkal atau suara terengah-engah (panting) . Panting tak dapat digunakan sebagai alat mengontrol hilangnya panas untuk waktu tak terbatas, seandainya suhu lingkungan tidak turun atau panas tubuh yang berlebihan tidak dibuang, maka unggas akan mati karena hyperthermy (kelebihan suhu). Suhu tubuh unggas naik dalam lingkungan suhu tinggi. Pada suhu lingkungan 23°C, sekitar 75% dari panas tubuh dikeluarkan dengan cara sensible yaitu melalui kenaikan suhu lingkungan di sekitarnya ; 25% panas tubuh selebihnya dikeluarkan dengan jalan penguapan (insensible) yaitu dengan mengubah air dalam tubuh menjadi uap air . Pada suhu lingkungan 35°C, sekitar 25% panas tubuh dikeluarkan melalui kulit dan 75% melalui penguapan, biasanya unggas terengah-engah sehingga lebih banyak air dapat diuapkan dari permukaan paru-paru.

2.2. Pengaruh cekaman panas terhadap produktivitas ayam broiler dan layer
2.2.1. Ayam broiler
            Penurunan bobot badan ini disebabkan selama mengalami cekaman panas, ayam mengurangi pakan dan meningkatkan konsumsi air minum agar pembentukan panas endoterm tubuhnya dapat berkurang. Di sisi lain, kurangnya asupan pakan ini menyebabkan kebutuhan energi dan zat gizi lainnya untuk pertumbuhan menjadi berkurang. Pada ayam yang dipelihara di luar kandang berpemanas, temperatur dan kelembabannya lebih rendah, sehingga penggunaan energi oleh ayam menjadi efisien, karena tidak ada energi yang dikonsumsi terbuang dalam upaya tubuh melepas panas, seperti megap-megap (panting). Hal ini juga terlihat dari rasio konversi pakan pada perlakuan kontrol (tanpa diberi stres panas). Meskipun secara statistik tidak berpengaruh, tetapi rata-rata RKPnya lebih rendah dari kelompok ayam yang diberi stres panas. Temperatur dan kelembaban yang lebih rendah ini akan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan ransum (nilai FCR yang lebih rendah), karena ayam tidak perlu lagi mengeluarkan energi untuk mengatasi cekaman panas. Tingginya nilai RKP diduga karena debit aliran darah saluran pencernaan pada ayam yang diberi stres panas akan menurun, sedangkan debit aliran darah ke permukaan tubuh seperti alat-alat respirasi bagian atas meningkat dalam usaha untuk melepaskan panas tubuh. Penurunan debit aliran darah ke saluran pencernaan akan menyebabkan penurunan aktivitas enzimatik khususnya proteinase sehingga terjadi penurunan pada nilai cerna asam amino.
Stres panas dapat menyebabkan kehilangan rata-rata bobot badan sebesar 15% jika dibandingkan dengan pertambahan bobot badan ayam pada perlakuan tanpa cekaman panas (yang tidak terkena cekaman panas). Tingkat penurunan bobot badan sebesar 15% tersebut jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan laporan peneliti lainnya. Menurut Kuczynski (2002) bahwa pemeliharaan ayam broiler sampai umur 35 hari pada suhu di atas 31 0C dapat menyebabkan penurunan bobot badan mencapai 25% jika dibadingkan dengan pemeliharaan pada suhu 21,1-22,2 0C. Diduga bahwa salah satu penyebab rendahnya selisih kehilangan BB pada penelitian ini terkait dengan relatif tingginya suhu dan kelembaban di luar kandang berpemanas, yaitu pada kisaran 28-30,7 0C dan 74-77%. Menurut Borges et al. (2004), pada ayam broiler berumur di atas 21 hari, keadaan suhu lingkungan yang optimum untuk pertumbuhan berkisar antara 20-25 0C dengan kelembaban relatif berkisar antara 50-70%.

2.2.2. Ayam layer
            Produksi telur ayam yang dipelihara pada suhu lingkungan tinggi (25-31°C) adalah 25% lebih rendah dibandingkan dengan yang dipelihara pada suhu lingkungan rendah (19-25 °C). Menurut BIRD et al. (2003) suhu lingkungan tinggi dapat menurunkan produksi telur. Pada suhu lingkungan tinggi diperlukan energi lebih banyak untuk pengaturan - suhu tubuh, sehingga mengurangi penyediaan energi untuk produksi telur . Pada suhu lingkungan tinggi konsumsi pakan turun, ini berarti berkurangnya nutrisi dalam tubuh , dan akhirnya menurunkan produksi telur .
            Pada ayam betina dewasa, makanan yang dikonsumsi digunakan untuk kebutuhan hidup pokok dan kebutuhan produksi telur. Dengan terjadinya penurunan konsumsi pakan, maka yang lebih dahulu dipenuhi adalah kebutuhan hidup pokok, sehingga penurunan konsumsi pakan berakibat langsung terhadap penurunan produksi telur. Berikut ini disampaikan data produksi telur ayam buras di daerah bersuhu lingkungan tinggi dan rendah yang diperoleh dari beberapa daerah dengan memperhatikan kesamaan.


BAB III
KESIMPULAN
            Cekaman panas sangat mempengaruhi produktivitas unggas karena pada saat unggas terkena cekaman panas unggas akan berupaya mempertahankan suhu tubuhnya seperti dengan panting, minum yang lebih banyak sehingga mempengaruhi produktivitas unggas baik dalam bobot karkas atau produktivitas telurnya. Penurunan produktivitas unggas terutama disebabkan oleh penurunan konsumsi zat gizi maupun perubahan kondisi fisiologis ayam yang timbul karena pengaruh suhu lingkungan tinggi . Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi penurunan produktivitas adalah penyesuaian tatalaksana pemeliharaan dan manipulasi zat gizi pakan.


DAFTAR PUSTAKA
Aengwanich, W. and O. Chinrasri. 2002. Effect of heat stress on body temperature and hematological parameters in male layers. Thai .J. Physiol. Sci. 15:27-33.

Al-Fataftah, A.R.A. and Z.H.M. Abu-Dieyeh. 2007. Effect of Chronic Heat Stress on Broiler Performance in Jordan. Intern. J. Poult. Sci. 6(1): 64-70.

BIRD, N.A., P. HuNToN, W.D . MORRISON dan L.J. WEBER. 2003. Heat Stress in Caged Layers. Ontario-Ministry -if Agriculture and Food.

Borges, S.A., F.A.V. da Silva, A. Maiorka,D.M. Hooge, and K.R. Cummings. 2004. Effects of diet and cyclic daily heat stress on electrolyte, nitrogen and water intake, excretion and retention by colostomized male broiler chickens. Int. J. Poult. Sci. 3: 313-321.

Cooper, M.A. and K.W. Washburn. 1998. The Relationships of Body Temperature to Weight Gain, Feed Consumption, and Feed Utilization in Broilers under Heat Stress. Poult. Sci. 77:237–242

FULLER, H.L . dan M. RENDON. 1977. Energetic efficiency of different dietary fats for growth of young chicks . Poultry Sci . 56: 549.

GUYTON, A.C . 1983 . Fisiologi Kedokteran. Ed. 5 . CV. EGC. Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta .

Kuczynski, T. 2002. The application of poultry behaviour responses on heat stress to improve heating and ventilation systems efficiency. Electr. J. Pol. Agric. Univ. Vol. 5 and Issue 1.

Mashaly, M.M., G.L. Hendricks, M.A. Kalama, A.E. Gehad, A.O. Abbas, and P.H. Patterson. 2004. Effect of heat stress on production parameters and immune responses of commercial laying hens. Poult. Sci. 83:889-894.
»»  Baca Selengkapnya...

Kamis, 13 Desember 2012

Pengaruh Suplementasi Enzim pada Kinerja, karakteristik karkas, Komposisi Karkas dan Parameter Darah beberapa Ayam Broiler dan Pengaruh Suplementasi Enzim dari Diet Broiler yang Mengandung Tingkat Variasi Pakan Bunga Matahari dan Serat Kasar


BAB I
PENDAHULUAN
Suplemen adalah bahan kimia atau makanan tertentu yang berfungsi sebagai penunjang kesehatan tubuh. Enzim adalah protein yang berperan sebagai katalis dalam metabolisme makhluk hidup. Enzim berperan untuk mempercepat reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh makhluk hidup, tetapi enzim itu sendiri tidak ikut bereaksi. Enzim berperan secara lebih spesifik dalam hal menentukan reaksi mana yang akan dipacu dibandingkan dengan katalisator anorganik sehingga ribuan reaksi dapat berlangsung dengan tidak menghasilkan produk sampingan yang beracun.



BAB II
PEMBAHASAN
1.1. Pengaruh Suplementasi Enzim pada Kinerja, karakteristik karkas, Komposisi Karkas dan Parameter Darah beberapa Ayam Broiler.

Enzim endogen dari ayam pedaging tidak dapat memadai mencerna nonstarch polisakarida dan kemudian menyerap NSP larut menyebabkan peningkatan digesta viskositas dan kecernaan nutrien berkurang dan penyerapan. Suplementasi NSP merendahkan enzim dapat menghapus efek nutrisi anti NSP dan melepaskan beberapa nutrisi (pati, protein) dari elemen-elemen. Oleh karena itu, dalam rancangan acak lengkap efek multi-enzim (Endofeed W dihasilkan dari Aspergillus niger, dengan aktivitas minimal 2.250 ug-1 xilanase dan 700 ug-1 β-glukanase) suplementasi pada kinerja, karakteristik karkas, komposisi karkas dan parameter darah beberapa di Cobb 500 broiler diberi jagung-bungkil kedelai-gandum diet dipelajari.
Sebanyak 150 satu anak ayam usia sehari pedaging (Cobb 500) yang digunakan dalam sepenuhnya desain acak dengan 2 perlakuan dan 3 ulangan. Para ingeridients utama diet termasuk jagung, bungkil kedelai dan gandum. Tingkat enzim ditambahkan ke diet adalah 0,00 (kontrol) dan 500 mg kg-1 DM.


Suplementasi enzim secara signifikan meningkatkan pertumbuhan relatif, efisiensi energi dan efisiensi protein 11-28 hari usia. Menambahkan enzim menurun secara signifikan pertambahan bobot badan, konsumsi pakan dan pakan ditingkatkan untuk mendapatkan rasio, efisiensi energi dan efisiensi protein 29-44 hari usia (p <0,05). Pertumbuhan relatif, efisiensi energi dan efisiensi protein meningkat dan tubuh berat badan, konsumsi pakan dan pakan untuk mendapatkan rasio mengalami penurunan sebesar suplemen enzim 1-44 hari (p <0,05). Penambahan enzim meningkat secara signifikan karkas dan paha + persentase drumsticks di 44 hari usia. Menambahkan enzim secara signifikan meningkatkan konsentrasi darah triiodothyronine (T3) pada 28 dan 44 hari dan mengurangi konsentrasi darah Tiroksin (T4) pada 44 hari usia. Inklusi Enzim meningkatkan konsentrasi kolesterol darah total pada hari 10, 28 dan 44 usia, Namun konsentrasi trigliserida meningkat pada 10 dan 44 hari (p <0,05). Konsentrasi asam urat darah secara signifikan menurun pada 28 dan 44 hari pada ayam pedaging yang diberi diet suplemen enzim.

2.1. Pengaruh Suplementasi Enzim dari Diet Broiler yang Mengandung Tingkat Variasi Pakan Bunga Matahari dan Serat Kasar
Penelitian dilakukan untuk mengevaluasi efektivitas enzim multi diet yang mengandung pedaging berbagai tingkat makan bunga matahari dan serat kasar. Enam belas pakan isonitronenik adalah disusun dengan menggunakan 0, 5, 10 dan 15% SFM dan 4, 5, 6, dan 7% CF, masing-masing dengan dan tanpa enzim suplementasi dan diumpankan ke 480 anak ayam broiler hari tua. Data konsumsi pakan, pertambahan berat badan, pakan rasio konversi dan persentase berpakaian dikumpulkan.


Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang signifikan (P <0,05) antara diet percobaan yang berbeda untuk berat badan dan konversi pakan. Bobot tertinggi keuntungan diamati pada anak ayam yang diberi diet yang mengandung MHL 10% dan 6% CF dengan Grindazym sementara berat badan terendah diperoleh pada diet memiliki PHL 10% dan 6% CF tanpa enzim suplementasi. Diet yang mengandung PHL 15% dan 7% CF dengan enzim NIBGE @ 1% dari 2,5 Lipat adalah ditemukan terbaik di sisi lain diet yang mengandung SFM 5% dan CF 5% tanpa suplementasi enzim memiliki konversi pakan termiskin di antara semua pakan.
Konsumsi pakan selama percobaan Periode tidak berpengaruh (p> 0,05) baik oleh PHPL diet dan tingkat CF atau suplemen enzim. Namun, maksimal pakan yang dikonsumsi oleh diet makan burung mengandung SFM 5% dan CF 5% tanpa enzim suplemen. Sementara konsumsi pakan minimal diamati pada diet diformulasikan dengan 15% SFM dan CF 7% tanpa penambahan enzim apapun. Persentase Dressing dihitung sebagai bangkai berat badan termasuk kulit termasuk yaitu organ internal, jantung., hati, rempela dan ginjal dari burung-burung. Tidak perbedaan (p> 0,05) diamati untuk berpakaian persentase pada diet percobaan yang berbeda.





BAB III
KESIMPULAN
Hasil penelitian pada performan karkas menunjukkan bahwa suplementasi diet dengan 500 mg kg-1 multi-enzim (Endofeed W) di jagung-bungkil kedelai-gandum diet berbasis ayam broiler perbaikan pakan untuk mendapatkan rasio, karkas hasil dan dapat mengubah konsentrasi hormon tiroid dan beberapa metabolit dalam darah, tapi itu tidak berpengaruh signifikan terhadap komposisi karkas. Hasil dari penelitian pada pemberian pakan bunga matahari dan serat kasar menunjukkan bahwa suplementasi enzim dapat meningkatkan Nilai nutrisi dari diet serat tinggi broiler. Ayam broiler dapat tumbuh lebih cepat dan lebih efisien pada diet yang mengandung enzim merendahkan serat daripada diet tanpa enzim.




DAFTAR PUSTAKA
Hajati. 2010. Effects of Enzyme Supplementation on Performance, Carcass characteristics, Carcass Composition and Some Blood Parameters of Broiler Chicken. American Journal of Animal and Veterinary Sciences 5 (3): 221-227

Raza., et al. 2009. EFFECT OF ENZYME SUPPLEMENTATION OF BROILER DIETS CONTAINING VARYING LEVEL OF SUNFLOWER MEAL AND CRUDE FIBER. Pak. J. Bot., 41(5): 2543-2550
»»  Baca Selengkapnya...

Selasa, 11 Desember 2012

CFT (Complement Fixation Test) dan Fluorescent Antibody Test (FAT)


1. CFT (Complement Fixation Test)
            CFT adalah tes medis imunologi yang dapat digunakan untuk mendeteksi adanya antibodi spesifik atau antigen spesifik dalam serum. Secara luas digunakan untuk mendiagnosa infeksi, terutama dengan mikroba yang tidak mudah terdeteksi oleh metode budaya, dan penyakit rematik. Namun, di laboratorium diagnostik klinis sebagian besar telah digantikan oleh metode serologis lain seperti ELISA dan dengan DNA berbasis metode deteksi patogen, terutama PCR.
            Sistem CFT adalah sistem protein serum yang bereaksi dengan antigen-antibodi kompleks. Jika reaksi ini terjadi pada permukaan sel, maka akan mengakibatkan pembentukan trans-membran pori-pori dan karena penghancuran sel. Langkah-langkah dasar dari tes fiksasi komplemen adalah sebagai berikut:
1. Serum diisolasi dari pasien.
2. Pasien secara alami memiliki tingkat yang berbeda dari protein komplemen dalam serum mereka. Untuk meniadakan efek ini mungkin pada tes, protein komplemen dalam serum pasien harus dihancurkan dan diganti dengan jumlah yang diketahui dari protein komplemen standar. Serum dipanaskan sedemikian rupa sehingga semua pelengkap protein hancur tapi tidak ada antibodi-dalamnya dihancurkan. (Hal ini dimungkinkan karena protein komplemen jauh lebih rentan terhadap kerusakan oleh panas dibandingkan antibodi). Sejumlah protein komplemen standar yang diketahui ditambahkan ke serum. (Protein ini sering diperoleh dari serum marmut).
3. Antigen penting ditambahkan ke serum.
4. Sel darah merah domba (sRBCs) [2] yang telah pra-terikat untuk anti-sRBC antibodi ditambahkan ke serum. Tes ini dianggap negatif jika hasilnya berubah merah muda seketika dan positif sebaliknya.


2. Fluorescent Antibody Test (FAT)
            adalah test menandai antibodi secara langsung (direct fluorescent antibody (DFA or dFA)). Namanya berasal dari kenyataan bahwa itu langsung menguji adanya antigen dengan antibodi ditandai, tidak seperti western blotting, yang menggunakan metode deteksi tidak langsung, di mana antibodi primer mengikat antigen target, dengan antibodi sekunder ditujukan terhadap primer, dan tag melekat pada antibodi sekunder.
Komersial DFA kit pengujian yang tersedia, yang mengandung antibodi berlabel fluorescently, dirancang untuk secara khusus menargetkan antigen yang unik hadir dalam bakteri atau virus, tetapi tidak hadir pada mamalia (Eukariota). Teknik ini dapat digunakan untuk dengan cepat menentukan apakah subjek memiliki infeksi virus atau bakteri tertentu.
Dalam kasus virus pernapasan, banyak yang memiliki gejala yang luas yang sama, deteksi bisa dilakukan dengan menggunakan sampel mencuci hidung dari subjek dengan infeksi dicurigai. Meskipun sel-sel shedding pada saluran pernapasan dapat diperoleh, sering dalam jumlah yang rendah, sehingga metode alternatif dapat diadopsi di mana kultur sel kompatibel dapat terkena terinfeksi sampel mencuci hidung, sehingga jika virus hadir dapat tumbuh untuk jumlah yang lebih besar, yang kemudian dapat memberikan pembacaan yang lebih jelas positif atau negatif.
Seperti dengan semua jenis mikroskop fluoresensi, panjang gelombang serapan yang tepat perlu ditentukan dalam rangka untuk merangsang tag fluorophore melekat pada antibodi, dan mendeteksi fluoresensi yang dilepaskan, yang menunjukkan sel-sel yang positif untuk kehadiran virus atau bakteri yang terdeteksi.

sumber: http://wikipedia.org
»»  Baca Selengkapnya...

Rabu, 28 November 2012

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Pakan pada Ternak


BAB I
PENDAHULUAN
Proses makan (feeding) adalah aktivitas yang komplek, yang meliputi mencari makanan, mengamati, pergerakan, aktifitas sensorik, memakan dan mencerna. Dalam saluran pencernaan makanan dan zat-zat makanan diserap dan dimetabolismekan. Semua proses ini dapat mempengaruhi konsumsi makanan dalam jangka pendek (short term basis). Namun demikian perlu diperhatikan bahwa, pada ternak dewasa kebutuhan pokoknya (berat tubuhnya) relatif konstan, walaupun makanan tersedia ad libitum. Dengan demikian konsep jangka pendek-jangka panjang dalam mengontrol konsumsi harus diperhatikan. Walaupun sistem kontrol ini sama pada setiap jenis ternak, namun ada perbedaan antar spesies yang tergantung pada pada struktur dan fungsi saluran pencernaannya.
Untuk menghasilkan performan produksi yang tertinggi, ternak memerlukan nutrien. Nutrien ini dibutuhkan untuk hidup pokok (maintenance) dan berbagai produksi (production). Faktor yang harus diperhatikan adalah jumlah makanan yang diberikan, semakin banyak jumlah makanan yang dikonsumsi setiap hari, akan semakin memberikan kesempatan untuk menghasilkan produksi tinggi. Peningkatan produksi yang diperoleh dari konsumsi makanan yang lebih tinggi biasanya berkaitan dengan peningkatan efesiensi proses-proses produksi, sehingga proporsi untuk kebutuhan pokok menurun sedangkan produksi meningkat.



BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Insting/naluri (kebutuhan tubuh)
            Tingkah laku ternak yang kebutuhan pakan sudah terpenuhi tapi ada zat nutrisi yang ia butuhkan tidak terdapat pada pakannya seperti kelinci yang memakan kotoran pertamanya di pagi hari, ayam yang mematuk-matuk kerikil, sapi yang menjilat air seninya sendiri dan lain-lain.

2.2. sensor lapar kenyang
a. kimia (kandungan glukosa dalam darah atau gula darah)
            Hipotalamus mengatur berbagai pengeluaran zat makanan dari makanan dalam saluran pencernaan, penyerapan serta transportasi zat-zat makanan. Berdasarkan teori khemostatik, peningkatan konsentrasi substansi tertentu memberikan signal untuk berhenti makan, sebaliknya jika konsentrasi rendah menyebabkan ternak akan mulai makan. Glukosa merupakan indikator yang menentukan kenyang atau lapar bagi ternak. Jika konsentrasi glukosa darah rendah dan disuntik dengan insulin maka ternak akan merasa lapar. Sebaliknya setelah makan konsentrasi glukosa akan meningkat dan ternak akan berhenti makan.

Mekanisme pengaturan gula darah diilustrasikan pada berikut:


Reseptor glukosa diduga terletak di hipothalamus. Hipotalamus dapat memonitor kadar glukosa baik di pembuluh vena maupun arteri. Penelitian yang lain menunjukan bahwa receptor tersebut saluran pencernaan dan hati. Sebagai bukti bahwa jika glukosa disuntikan di usus atau di sistem portal hepatik menyebabkan menurunan intake pakan yang lebih besar dibandingkan jika disuntikan di sirkulasi periperal. Dugaan lain yang mengatur komunikasi saluran pencernaan dan otak adalah hormon peptida cholecystokinin. Hormon ini dikeluarkan jika asam amino dan asam-asam lemak mencapai duodenum, dan ini merupakan kerja hipothalamus



b. fisik (kapasitas rumen atau lambung ternak)
Interaksi antara efek mekanistis makanan dalam lambung atau rumen (berupa distensi atau penggembungan lambung oleh makanan) dengan efek kimia dari makanan berupa pelepasan hormon-hormon tertentu seperti Kolesistokinin dari usus halus. Sehingga ternak akan merasa kenyang.
           
2.3. Thermostatik
Teori ini berlandasan bahwa ternak akan makan untuk mempertahankan panas dan akan berhenti makan untuk mencegah hyperthermia. Panas yang diproduksi dari hasil pencernaan dan metabolisme makanan adalah merupakan signal dalam pengaturan makan. Thermoreceptor sensitif terhadap perubahan panas yang terjadi di anterior hipothalamus dan juga di periperal kulit. Sebagai bukti, pada daerah panas ternak akan mengurangi makannya untuk menurunkan produksi panasnya.

2.4. palatabilitas, tekstur dan rasa
            Penginderaan penglihatan, penciuman, perabaan dan perasa memiliki peran yang penting dalam menstimulasi selera makan manusia, dan mempengaruhi jumlah makanan yang dicerna. Pada hewan penginderaan memiliki peran yang lebih kecil dari pada manusia. Palatabilitas adalah derajat kesukaan pada makanan tertentu yang terpilih dan dimakan. Pengertian palatabilitas berbeda dengan konsumsi. Palatabilitas melibatkan indera penciuman, perabaan dan perasa. Pada ternak peliharaan memperlihatkan prilaku mengendus (sniffing) makanan.
Kebanyakan hewan memiliki preferensi menyukai makanan tertentu, terutama jika memiliki kesematan memilih. Contohnya, anak babi muda lebih menyukai larutan gula dibandingkan air, sementara unggas tidak bisa membedakan rasa manis, tapi tidak dapat mencerna larutan garam dengan konsentrasi berlebih.



BAB III
KESIMPULAN
            Banyak faktor yang mempengaruhi ternak untuk mengkonsumsi pakan. Kapasitas rumen atau lambung, naluri atau insting ternak yang kekurangan zat nutrisi tertentu, keadaan lingkungan yang menyebakan ternak harus mempertahankan suhu tubuhnya, palatabilitas, tekstur, dan rasa mempengaruhi dorongan ternak untuk mengkonsumsi pakan.




DAFTAR PUSTAKA
http://aminuddin01.wordpress.com/2009/09/24/bagaimana-kita-merasa-lapar-dan-kenyang-mengapa-kita-perlu-merasakan-lapar/
»»  Baca Selengkapnya...

Selasa, 13 November 2012

Makalah Kesehatan Ternak ( Penyakit Pasteurellosis )

BAB I

PENDAHULUAN

Dalam usaha peternakan, penyakit merupakan salah satu resiko yang kadang-kadang harus dihadapi. Oleh karena itu mengenali gejala masing-masing penyakit, mengetahui sumber penyebabnya dan dapat melakukan pencegahan penyakit, merupakan salah satu bekal yang penting bagi suksesnya usaha peternakan. Beberapa serangan penyakit pada ternak masih merupakan momok menakutkan bagi para perternak. Hal ini karena serangan penyakit yang sangat parah (outbreaks) sangat merugikan peternak. Tidak jarang, peternak yang gulung tikar akibat peternakannya diserang penyakit. Penyakit pada ternak bisa disebabkan oleh agen infeksius maupun non infeksius. Beberapa penyebab penyakit yang bersifat non infeksius adalah penurunan respon immun, nutrisi, cacat genetik, trauma/perlukaan ataupun keracunan. Sedangkan penyebab penyakit infeksius bisa disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, parasit dan jamur. Penyakit Pasteurellosis adalah salah satu dari sekian banyak penyakit yang disebabkan oleh bakteri. 

BAB II

PEMBAHASAN


Pasteurellosis adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri Pasteurella yang merupakan bakteri anaerobik fakultatif (bakteri yang mampu bertahan hidup tanpa oksigen dan tetap berfungsi diberbagai kondisi). Pasteurella termasuk ke dalam Ordo Pasteurellales yang Familinya adalah Pasteurellaceae. Ada 4 spesies lagi dari genus Pasteurella ini, diantaranya adalah Pasteurella multocida, Pasteurella haemolitica, Pasteurella pneumotropca sama Pasteurella ureae. Pasteurella Multocida dan Mannheimia Haemolytica (Pasteurella Haemolitica) adalah dua spesies Pasteurella yang sering dituding terlibat dalam berbagai penyakit Pasteurellosis baik secara bersama sama maupun sendiri sendiri. Kebanyakan penyakit ini disebarkan oleh anjing dan kucing. Tidak menutup kemungkinan kambing, kuda, biri-biri, tikus, hamster, babi, serigala dan jenis-jenis unggas pun juga bisa menularkan penyakit ini. 


Bakteri ini punya suatu kapsul yang terdiri dari 5 kapsul + 16 serotipe. Kapsul itu antara lain adalah "A, B, D, E dan F" dengan komposisi kapsul terbanyak menimbulkan Pasteurellosis 5A, 8A dan 9A. Kapsul nantinya berfungsi sebagai tameng bakteri sewaktu ada sel fagositosis yang nyerang. Di Pasteurella multocida terdapat kapsul B dan E bisa menyebabkan septikemia hemoragik di berbagai hewan mamalia. Pada sapi sendiri yang mengalami penyakit ini banyak ditemukan serotype 6B dan 6E. Infeksi Pasteurellosis pada ternak domba bisa terjadi setiap saat sepanjang tahun, namun yang terjadi terhadap anak domba biasa terjadi pada bulan September hingga November. Walaupun bakteri ini termasuk flora normal di dalam tubuh, tapi bisa berubah jadi penyakit yang cukup ganas juga. Bakteri ini hidup di daerah nasofaring dan gingival termasuk kucing dan anjing. Saat menimbulkan gigitan, bakteri ini bisa saja ikut berpindah ke tubuh manusia.


Penyebaran Pasteurellosis selain masalah gizi buruk juga bisa melalui kontak langsung antara ternak yang terinfeksi dengan ternak sehat, melalui pakan dan minum yang terkontaminasi kotoran dari hidung dan mulut ternak yang terinfeksi dan factor factor predisposisi (kecenderungan dari sesuatu dapat menimbulkan penyakit) seperti; Kandang yang terlalu padat juga ikut mempermudah penyebaran, debu dan polusi yang ditimbulkan oleh asap knalpot kendaraan dapat merusak lapisan didinding trachea (tenggorokan) yang pada giliran akan dijadikan tempat melekatnya bakteri, kotoran ternak yang dibiarkan menumpuk ikut andil dalam memperkaya bakteri dipeternakan, ventilasi didalam kandang yang kurang pengaturannya (musim dingin kedinginan musim panas kepanasan), pasar ternak dimana tempat bergerombolnya ternak dari berbagai tempat, saat ternak berada dalam kendaraan pengangkut dan percampuran ternak dipeternakan penggemukan dimana ternak datang dari berbagai peternakan. Selain itu juga penularan dapat terjadi melalui gigitan hewan terutama kucing. Infeksi juga dapat terjadi melalui inhalasi. Infeksi pada manusia dibagi dalam 3 kelompok:

1. Infeksi setelah gigitan atau cakaran.
2. Infeksi setelah kontak dengan hewan tanpa melalui gigitan atau cakaran.
3. Infeksi tanpa pernah ada kontak dengan hewan.

Gejala umum dari Pasteurellosis yang dialami pada manusia sejauh ini diantaranya adalah:

1. Pembengkakan.
2. Selulitis dan drainase pada daerah yang terluka.
3. Dalam 1 atau 2 jam, terjadi edema, nyeri dan terjadi pula eksudat serosanguineous bersamaan dengan terjadinya inflamasi.
4. Demam tinggi atau sedang yang diikuti dengan mual dan muntah-muntah.
5. Sesak napas
6. Diare
7. Terjadi syok dan koagulopati (pembekuan atau gangguan peredaran darah) nantinya apabila koagulopati ini berlanjut, maka akan mengakibatkan diatesis perdarahan

Komplikasi yang terjadi saat infeksi muncul rata-rata berhubungan dengan gangguan system pernapasan, beberapa diantara komplikasi yang muncul adalah: 

1. Sinusitis
2. Mastitis (radang susu)
Umumnya menyerang ternak yang sedang bunting ditandai oleh pembengkakan berwarna kemerah merahan dan panas. Penyebabnya bakteri Pasteurella Haemolotica. 
3. Empyema
4. Otitis, 
adalah istilah umum untuk peradangan pada telinga
5. Osteitis, 
Yaitu inflamas yang terjadi pada tulang
6. Meningitis, 
radang pada membran pelindung otak dan sumsum tulang belakang.
7. Endokarditis, 
yaitu peradangan pada lapisan dalam dari jantung, yaitu pada endocardum.
8. Septicaemia (keracunan darah)
Umumnya diderita oleh anak domba muda umur 2 bulan, penyebabnya bakteri Pasteurella haemolytica. Tanda tanda klinis dalam bentuk akut berupa kematian mendadak pada domba.
9. Kadang muncul Pneumonia juga walaupun dalam frekuensi yang kecil.
Pneumonia (radang paru paru): umumnya menyerang domba dewasa yang disebabkan oleh infeksi bakteri P Multocida atau P Haemolytica atau oleh keduanya. Tanda tanda klinis seperti depresi, nafsu makan menurun, batuk batuk, gangguan pernafasan, demam tinggi dan dalam tingkatan akut sering menyebabkan kematian mendadak.
10. Diatesis perdarahan (kerentanan yang tidak biasa untuk perdarahan), diantaranya dapat berupa

a. Haemophlia
Yaitu kesulitan darah untuk membeku. Haemophilia sendiri terbagi menjadi 2 bentuk, diataranya adalah Haemophilia A dan Haemophilia B. Hemofilia A (defisiensi faktor pembekuan VIII) adalah bentuk paling umum dari gangguan tersebut, terjadi pada sekitar 1 di 5.000 – 10.000 kelahiran laki-laki dan Hemofilia B (kekurangan faktor IX.) Terjadi di sekitar 1 pada sekitar 20.000 – 34.000 kelahiran laki-laki

b. Leukemia 

c. Anemia atau kekurangan darah

d. Wiskott-Aldrich syndrome (WAS)
yaitu penyakit langka resesif terkait-X ditandai dengan eksim, trombositopenia (jumlah platelet rendah), defisiensi imun, dan diare berdarah (sekunder untuk trombositopenia itu). Hal ini juga kadang-kadang disebut sindrom eksim-trombositopenia-immunodeficiency


Pengendalian agar penyakit ini tidak meluas yaitu dengan cara memisahkan ternak yang terinfeksi dari kawasan ternak yang sehat, melaporkan kedinas peternankan atau kedokter hewan untuk ditindaklanjuti. Pengobatan dengan cara memberikan antibiotika seperti Medoxi-L yang mengandung antibiotika Oxitetracycline dengan dosis 0.5 -2.00 ml. untuk setiap <10 kg. berat badan. 2.00 - 4.00 ml untuk setiap 10 - 50 kg. berat badan. 4.00 - 8.00 ml. untuk setiap > 50 kg. berat badan.


Pengobatan diberikan secara Inframuskuler (disuntikan melalui daging/otot) atau secara Subuktan (disuntikan melalui bawah kulit). Yang perlu diperhatikan dalam pemberian obat yaitu Jangan memberikan melebihi 10 ml. dibagian tubuh yang sama pada ternak besar. Jangan mengkonsumsi susu yang diperah dalam waktu 4 hari setelah penyuntikan. Menghentikan pemberian Medoxi-L 5 hari sebelum ternak disembelih untuk dikonsumsi. Pencegahan terhadap penyakit Pasteurellosis yaitu dengan cara pemberian pakan yang bergizi tinggi, melakukan sanitasi pada lingkungan sekitar serta pemberian vaksinasi secara berkala yang terprogram sesuai ketentuan dari penyuluh peternakan.


BAB III

KESIMPULAN

Pasteurellosis adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri Pasteurella yang merupakan bakteri anaerobik fakultatif (bakteri yang mampu bertahan hidup tanpa oksigen dan tetap berfungsi diberbagai kondisi). Kebanyakan penyakit ini disebarkan oleh anjing dan kucing. Tidak menutup kemungkinan kambing, kuda, biri-biri, tikus, hamster, babi, serigala dan jenis-jenis unggas pun juga bisa menularkan penyakit ini. Penyebaran Pasteurellosis selain masalah gizi buruk juga bisa melalui kontak langsung antara ternak yang terinfeksi dengan ternak sehat, melalui pakan dan minum yang terkontaminasi kotoran dari hidung dan mulut ternak yang terinfeksi dan factor factor predisposisi (kecenderungan dari sesuatu dapat menimbulkan penyakit). Pencegahan terhadap penyakit Pasteurellosis yaitu dengan cara pemberian pakan yang bergizi tinggi, melakukan sanitasi pada lingkungan sekitar serta pemberian vaksinasi secara berkala yang terprogram sesuai ketentuan dari penyuluh peternakan.



DAFTAR PUSTAKA


Anonimus. 2004. Pegangan Peserta Latihan Paravet. Daftar Tindakan Terapi Yang Dapat Dilaksanakan Untuk Menyembuhkan Gejala PenyakitTertentu.

Bina Kesehatan Hewan. 1993. Manajemen Penyakit Hewan, Seri: Pedoman Pengendalian Penyakit Hewan Menular. Jilid 3-4-5. Direktorat Jendral Peternakan, Departemen Pertanian. Jakarta.

Ressang. 1984. Patologi Khusus Veteriner. Edisi kedua. Fakultas Kedokteran Hewan. Institut Pertanian Bogor.

Soepeno, Arimiadi, S., B, Setiadi dan J. Manurung. 1993. Sistem usaha tani ternak di daerah padat penduduk (Jawa Barat). Prosiding pengolahan dan komunikasi hasil-hasil penelitian di Pedesaan Ciawi 27-29 Januari. Balai Penelitian Ternak- PUSLITBANGNAK. 118-127.

Williamson, G. dan W.J.A. Payne. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis. Cetakan Pertama. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
»»  Baca Selengkapnya...

Minggu, 04 November 2012

Parasit Cacing pada Ternak Ruminansia


BAB I
PENDAHULUAN
            Parasit adalah hewan renik yang dapat menurunkan produktivitas hewan yang ditumpanginya. Parasit dapat menyerang manusia dan hewan, seperti menyerang kulit hewan. Parasitoid adalah parasit yang menggunakan jaringan organisme lain untuk kebutuhan nutrisi mereka sampai organisme yang ditumpanginya meninggal karena kehilangan jaringan atau nutrisi yang dibutuhkan.
Walaupun penyakit cacingan tidak langsung menyebabkan kematian, akan tetapi kerugian dari segi ekonomi dikatakan sangat besar, sehingga penyakit parasit cacing disebut sebagai penyakit ekonomi. Kerugian-kerugian akibat penyakit cacing, antara lain : penurunan berat badan, penurunan kualitas daging, kulit, dan jerohan, penurunan produktivitas ternak sebagai tenaga kerja pada ternak potong dan kerja, penurunan produksi susu pada ternak perah dan bahaya penularan pada manusia.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Fasciolosis
Merupakan penyakit yang disebabkan oleh cacing Fasciola sp. Pada umumnya yang banyak ditemukan di Indonesia adalah Fasciola gigantica. Fasciolosis pada kerbau dan sapi biasanya bersifat kronik, sedangkan pada domba dan kambing dapat bersifat akut. Kerugian akibat fasciolosis ditaksir 20 Milyard rupiah / tahun yang berupa : penurunan berat badan serta tertahannya pertumbuhan badan, hati yang terbuang dan kematian. Disamping itu kerugian berupa penurunan tenaga kerja dan daya tahan tubuh ternak terhadap penyakit lain yang tidak terhitung. Fasciola sp, hidup di dalam hati dan saluran empedu. Cacing ini memakan jaringan hati dan darah.

2.1.1. Siklus Hidup
Telur fasciola masuk ke dalam duodenum bersama empedu dan keluar bersama tinja hospes definitif. Di luar tubuh ternak telur berkembang menjadi mirasidium. Mirasidium kemudian masuk ke tubuh siput muda, yang biasanya genus Lymnaea rubiginosa. Di dalam tubuh siput mirasidium berkembang menjadi sporokista, redia dan serkaria. Serkaria akan keluar dari tubuh siput dan bisa berenang. Pada tempat yang cocok, serkaria akan berubah menjadi metaserkaria yang berbentuk kista. Ternak akan terinfeksi apabila minum air atau makan tanaman yang mengandung kista.


2.1.2. Pengobatan
Pengobatan secara efektif dapat dilakukan dengan pemberian per oral Valbazen yang mengandung albendazole, dosis pemberian sebesar 10 - 20 mg/kg berat badan, namun perlu perhatian bahwa obat ini dilarang digunakan pada 1/3 pertama kebuntingan, karena menyebabkan abortus. Fenbendazole 10 mg/kg berat badanatau lebih aman pada ternak bunting. Pengobatan dengan Dovenix yang berisi zat aktif Nitroxinil dirasakan cukup efektif juga untuk trematoda. Dosis pemberian Dovenix adalah 0,4 ml/kg berat badan dan diberikan secara subkutan.Pengobatan dilakukan tiga kali setahun.

2.2 Nematodosis
            Nematodosis adalah penyakit yang disebabkan oleh cacing Nematoda atau cacing gilig. Di dalam saluran pencernaan (gastro intestinalis), cacing ini menghisap sari makanan yang dibutuhkan oleh induk semang, menghisap darah/cairan tubuh atau bahkan memakan jaringan tubuh. Sejumlah besar cacing Nematoda dalam usus bisa menyebabkan sumbatan (obstruksi) usus serta menimbulkan berbagai macam reaksi tubuh sebagai akibat toksin yang dihasilkan. Pada ternak ruminansia telah diketahui lebih dari 50 jenis spesies, tetapi hanya beberapa spesies yang mempunyai arti penting secara ekonmis, antara lain sebagai berikut :
a.                  Haemonchus contortus
Penyakit yang disebabkan oleh cacing Haemonchus contortus disebut Haemonchosis. Panjang cacing Haemonchus contortus betina antara 18 – 30 mm dan jantan sekitar 10 – 20 mm. Pada cacing betina secara makroskopis usus yang berwarna merah berisi darah saling melilit dengan uterus yang berwarna putih. Cacing dewasa berlokasi di abomasum domba dan kambing.
Siklus hidup Haemonchus contortus dan Nematoda lain pada ruminansia bersifat langsung, tidak membutuhkan hospes intermediet. Cacing dewasa hidup di abomasum, memproduksi telur. Telur dikeluarkan oleh ternak bersama-sama pengeluaran feses. Di luar tubuh hospes, pada kondisi yang sesuai, telur menetas dan menjadi larva. Larva stadium L1 berkembang menjadi L2 dan selanjutnya menjadi L3 , yang merupakan stadium infektif. Larva infektif menempel pada rumput-rumputan dan teringesti oleh domba. Selanjutnya larva akan dewasa di abomasum.

Pengobatan yang bisa diberikan berupa kelompok benzilmidazole, antara lain albendazole dengan dosis 5 – 10 mg/kg berat badan, mebendazole dengan dosis 13,5 mg/kg berat badan dan thiabendazole dengan dosis 44 – 46 mg/kg berat badan. Albendazole dilarang dipakai pada 1/3 kebuntingan awal. Mebendazole dan thiabendazole aman untuk ternak bunting, tetapi thiabendazole sering menyebabkan resistensi.

b. Toxocara vitulorum (Neoascaris vitulorum)
            Cacing Toxocara vitulorum termasuk klas Nematoda yang memiliki kemampuan lintas hati, paru-paru dan plasenta. Ukuran panjang cacing betina adalah sebesar 30 cm dan lebar 25 cm, warna kekuning-kuningan dengan telur agak bulat dab memiliki dinding yang tebal. Habitat cacing adalah pada sapi dan kerbau serta berlokasi di usus kecil.
            Telur dalam tinja tertelan oleh sapi atau kerbau dan menetas di usus halus menjadi larva. Larva kemudian bermigrasi ke hati, paru-paru, jantung, ginjal dan bisa ke plasentadan masuk ke cairan amnion serta masuk ke dalam kelenjar mammae dan keluar bersama kolustrum. Upata pengobatan cacing ini adalah dengan pemberian piperazin. Pengobatan secara teratur pada anak sapi dan menjaga kebersihan kandang merupakan tindakan pencegahan yang diharuskan.

c.                   Oesophagostomum sp.(cacing bungkul)
Cacing bungkul dewasa hidup di dalam usus besar. Disebut cacing bungkul karena bentuk larva cacing ini dapat menyebabkan bungkul-bungkul di sepanjang usus besar. Ukuran rata-rata cacing bungkul dewasa betina antara 13,8 – 19,8 mm dan Jantan antara 11,2 – 14 5 mm. Gejala klinis yang ditemukan antara lain kambing kurus, napsu makan hilang, pucat, anemia dan kembung. Tinja berwarna hitam, lunak bercampur lendir atau darah segar.

d.                   Bunostomum sp (cacing kait)
Lokasi hidup cacing kait adalah di dalam usus halus kambing dan domba. Panjang caing jantan kira-kira 12 – 17 mm dan betina kira-kira 19 – 26 mm. Dikenal dengan cacing kait karena pada bagian ujung depan (kepala) cacing membengkok ke atas sehingga berbentuk seperti kait. Gejala klinis yang bisa diamati antara lain ternak mengalami anemia, terlihat kurus, kulit kasar, bulu kusam, napsu makan turun, tubuh lemah. Tinja lunak dengan warna coklat tua. Perlu diketahui bahwa cacing Bunostomum sp menempel kuat pada dinding usus. Cacing memakan jaringan tubuh dan darah, sehingga walaupun jumlah cacing hanya sedikit, namun ternak cepat menunjukkan gejala klinis yang nyata.

2.3. Cestodosis
Cacing Moniezea merupakan cacing Cestoda yang sering menyerang kambing. Cacing ini memiliki panjang tubuh bisa mencapai 600 cm dan lebar 1 – 6 cm. Bentuk cacing pipih, bersegmen dan berwarna putih kekuningan. Cacing ini jarang menimbulkan masalah, kecuali jika menyerang anak kambing yang sangat muda dan dalam jumlah yang besar. Tungau digunakan sebagai inang antara bagi cacing.

2.3.1. Siklus Hidup
            Cacing pita dewasa hidup dalam usus kambing dan domba akan melepaskan segmen yang masak bersama tinja, segmen tersebut pecah dan melepaskan telur . Telurtelur cacing dimakan oleh tungau tanah yang hidup pada akar tumbuhan. Telur-telur dalam tubuh tungau menetas menjadi larva. Kambing/domba memakan tungau bersamasama akar tanaman, seingga larva akan tertelan dan tumbuh menjadi dewasa di usus.

2.3.2. Pengobatan
Bisa diberikan preparat obat, antara lain : albendazole, oxfendazole 5 mg/kg berat badan, cambendazole 20 – 25 mg/kg berat badan, fenbendazole 5 – 10 mg/kg berat badan atau mebendazole 13,5 mg/kg berat badan.


BAB III
KESIMPULAN
            Parasit cacing pada ternak ruminansia dapat menyerang pada semua umur ternak tersebut. Diantara golongan cacing yang sering menyerang ialah Fasciolosis, Nematodosis, dan Cestodosis. Perlu pengetahuan mengenai ternak yang diserang oleh parasit ini. Selain itu upaya pencegahan juga harus diperhatikan agar ternak terhindar dari parasit-parasit cacing.
»»  Baca Selengkapnya...

Praktikum Produksi Ternak Unggas (Pengenalan Jenis, Anatomi dan Fisiologi, dan Formulasi / Penyusunan Ransum)


BAB I
PENDAHULUAN
Ternak unggas merupakan jenis ternak yang paling banyak dikenal dan dipelihara masyarakat kerena menghasilkan produk pangan bergizi sebagai sumber protein hewani yang paling disukai, murah, dan terjangkau oleh masyarakat luas. Jenis unggas yang umum dipelihara adalah ayam, itik, puyuh, dan burung dara. Seiring dengan berkembangnya zaman, maka perlu meningkatkan pengetahuan tentang pengenalan jenis unggas, anatomi unggas dan identifikasi penyakit pada unggas serta pengetahuan dalam menyusun ransum yang diberikan untuk unggas. Pemeliharaan kesehatan unggas merupakan bagian dari usaha meningkatkan produksi ernak, produktifitas dan reprodukivitas ternak hanya dapat dicapai secara optimal apabila ternak dalam keadaan sehat.
Tujuan praktikum Produksi Ternak Unggas adalah untuk mengetahui bagian-bagian eksterior dan interior unggas jantan dan betina baik ayam maupun itik, yang meliputi sistem pernapasan, pencernaan, reproduksi dan urinari serta dapat mengidentifikasi apakah unggas tersebut terserang suatu penyakit. Manfaat dari praktikum Produksi Ternak Unggas adalah dapat mengetahui anatomi dan fisiologi unggas, mengetahui perbedaan antara unggas air dengan unggas darat, unggas jantan maupun unggas betina, dapat menyusun ransum yang benar, serta dapat mengidentifikasi penyakit pada unggas.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.                 Pengenalan Jenis dan Klasifikasi Ternak Unggas
2.1.1.           Klasifikasi secara Internasional
Klasifikasi standar adalah pengelompokkan jenis-jenis ayam `berdasarkan buku yang diterbitkan oleh perhimpunan Peternak Unggas Amerika Serikat, yaitu The American Standard of Perfection. Berdasarkan buku tersebut, terdapat 11 kelas ayam, namun yang dianggap penting hanya 4 kelas, yaitu kelas inggris, kelas amerika, kelas mediterania, dan kelas asia (Suprijatna et al., 2008).
Ayam kelas inggris adalah sekelompok ayam yang dibentuk dan dikembangkan di Inggris. Karakteristik ayam inggris adalah bentuk tubuh besar, cuping berwarna merah, kulit putih, kerabang telur coklat kekuningan, bulu merapat ke tubuh, dan termasuk tipe pedaging. Bangsa-bangsa ayam yang termasuk kelas inggris antara lain Dorking, Autralorp, Orpington, Sussex, dan Cornish (Suprijatna et al., 2008). Ciri-ciri umum kelas inggris antara lain kulit telur berwarna coklat, kecuali bangasa ayam darling, cuping telinga berwarna merah, cakar kaki tidak berbulu, kulit berwarna putih kecuali bangsa ayam Cornish. Pada kelas ini terdapat bangsa ayam sebagai berikut, bangsa ayam Cornish, dan bangsa ayam australorp (Yuwanta, 2004).

Ayam kelas amerika dikembangkan untuk tujuan dwiguna (dual purpose), yaitu memproduksi telur dan daging. Tanda-tanda umum ayam amerika adalah warna kulit terang, kerabang telur coklat kecuali telur ayam Lamona berwarna putih, cuping telinga berwarna merah, shank berwarna kuning, dan tidak berbulu. Bangsa ayam amerika yang terkenal adalah Plymouth Rock (PR), Rhode Island Red (RIR), Rhode Island White (RIW), Wyandotte, New Hampshire (NH), White American, Dominique, Java, Lamona, Jersey Black Giant, Buck Eye, dan Delawars (Yuwanta, 2004). Karakteristik kelas amerika adalah bentuk tubuh sedang, cuping telinga berwarna merah, bulu mengembang, dan kulit berwarna putih.ciri khas lain kulit telur berwarna coklat kekuningan, cakar tidak berbulu, dan terkenal sebagai tipe dwiguna. Bangsa-bangsa ayam yang termasuk kedalam kelas ini adalah Plymouth Rock, Wyandotte, Rhode Island Red (RIR), New Hampshire, dan Jersey (Suprijatna et al., 2008).
Terdapat tiga bangsa yang terkenal dalam kelas asia, misalnya Brahma (di India), Langshan (dari China), dan Cochin (dari Shanghai, China). Tanda spesifik ayam asia adalah bentuk badan besar, mempunyai sifat mengeram, cakar (shank) berbulu, tulang besar dan kuat, cuping telinga merah, dan kerabang telur coklat (Yuwanta, 2004). Ayam kelas asia dibentuk dan dikembangkan di wilayah Asia. Contohnya Brahma, Langshan, dan Cochin China. Karakteristik ayam asia yaitu bentuk tubuh besar, bulu merapat ke tubuh, cuping berwarna merah, dan kerabang telur beragam coklat kekuningan sampai putih. Ciri khas lain dari kelas asia ini adalah cakar berbulu, kulit berwarna putih sampai gelap, dan merupakan ayam tipe pedaging (Suprijatna et al., 2008).
Kelompok ayam ini dibentuk dan dikembangkan di sekitar negara dan pulau di Laut Tengah, seperti Spanyol dan Italia. Karakteristik ayam kelas mediterania adalah bulu mengembang, cuping telinga berwarna putih, kerabang telur berwarna putih, dan merupakan tipe petelur. Bangsa-bangsa ayam yang termasuk kelas ini antara lain Leghorn, Ancona, Spanish, Minorca, dan Andalusia (Suprijatna et al., 2008). Kelas mediterania memiliki ciri-ciri umum antara lain ukuran badan relatif kecil, cuping telinga berwarna putih, cakar tidak berbulu, telur banyak dan berwarna putih, kulit berwarna putih kecuali leghorn dan ancona. Bangsa-bangsa ayam yang termasuk kelas ini sebagai berikut bangsa ayam Leghorn, Ancona dan Minorca (Yuwanta, 2004)
2.1.2.           Klasifikasi berdasarkan tujuan pemeliharaan
Berdasarkan tujuan pemeliharaan atau biasa disebut tipe ayam, ayam dapat dikelompokkan menjadi tipe petelur, pedaging, dan medium atau dwiguna (dual purpose). Ayam tipe petelur dipelihara untuk menghasilkan telur yang banyak. Karakteristik ayam tipe petelur ini sebagai berikut bertingkah laku lincah dan mudah terkejut, badan relatif kecil dan langsing sehingga disebut tipe ringan, cepat dewasa kelamin sehingga cepat bertelur, jumlah telurnya banyak, kerabangnya berwarna putih, dan jarang mengeram (Yuwanta, 2004) Ayam tipe petelur memiliki karakteristik bersifat nervous atau mudah terkejut, bentuk tubuh ramping, cuping telinga berwarna putih, kerabang telur berwarna putih, produksi telur tinggi (200 butir/ekor/tahun), efisien dalam penggunaan ransum untuk membentuk telur, dan tidak memiliki sifat mengeram (Suprijatna et al., 2008).
Karakteristik ayam tipe pedaging bersifat tenang, bentuk tubuh besar, pertumbuhan cepat, bulu merapat ke tubuh, kulit putih dan produksi telur rendah (Suprijatna et al., 2008). Karakteristik ayam tipe pedaging adalah bersifat tenang, bentuk tubuh besar, pertumbuhan cepat, bulu merapat ke tubuh, kulit putih dan produksi telur rendah (Yuwanta, 2004).
Ayam tipe sedang ini dikembangkan untuk memproduksi telur sekaligus daging (sesudah ayam diafkir). Dengan demikian, ayam tipe sedang harus membagi sumber dayanya untuk memproduksi telur dan daging. Oleh karena itu, ayam tipe medium ini disebut juga ayam tipe dwiguna (dual purpose). Ayam tipe sedang memiliki ciri-ciri sebagai berikut ukuran badan lebih besar dan lebih kokoh dari pada ayam tipe ringan serta berperilaku tenang, timbangan badan lebih berat daripada tipe ringan, karena jumlah daging dan lemaknya lebih banyak, otot-otot kaki dan dada lebih tebal, dan produksi telur cukup tinggi dengan kulit telur tebal dan berwarna coklat (Fadilah, 2003). Ayam tipe dwiguna memiliki karakteristik bersifat tenang, bentuk tubuh sedang, produksi telur sedang, pertumbuhan sedang, dan kulit telur berwarna coklat (Suprijatna et al., 2008).

2.1.3.           Unggas darat
Unggas darat adalah unggas yang hidup didarat, contoh dari ungas darat adalah ayam ras dan ayam buras. Ayam secara umum memiliki ciri-ciri, yaitu mempunyai ceker dengan tiga jari dan satu jalu, paruh bertipe pemakan biji-bijian, memiliki jengger dan cuping (Susilorini et al., 2009). Ayam peliharaan yang ada dewasa ini merupakan keturunan ayam hutan yang mengalami proses penjinakkan yang sangat panjang. Jenis ayam itu terdiri dari ayam hutan merah (Gallus gallus), ayam hutan Ceylon (Gallus lavayettii), ayam hutan kelabu (Gallus soneratii), dan ayam hutan jawa atau Gallus varius (Suprijatna et al., 2008).



2.1.4. Unggas air


Itik adalah salah satu jenis unggas air (waterfowls) yang termasuk dalam kelas Aves, ordo Anseriformes, family Anatidae, sub famili Anatinae, Tribus anatini dan genus Anas. Ordo Anseriformes mempunyai famili antara lain Anatidae, subfamili Anatinae dan Anserinae. Anatinae menurunkan genus Anas dan Cairina yang masing-masing menurunkan spesies itik yaitu Anas plathyrynchos (Yuwanta, 2004). Beberapa jenis itik merupakan jenis itik petelur. Itik petelur adalah itik yang memiliki karakteristik ekonomi sebagai penghasil telur yang baik. Adapaun jenis-jenis dari itik adalah Indian Runner, Khaki Campbell, Buff Orpington, Cayuga, Cherry Valley, Anas Javanica atau yang sering disebut itik Jawa (Suprijatna et al., 2008).
2.2.            Anatomi dan Identifikasi Ternak unggas
2.2.1.      Sistem pencernaan
Sistem pencernaan terdiri dari saluran pencernaan dan organ asesori dimana saluran pencernaan merupakan organ yang menghubungkan dunia luar dengan dunia dalam tubuh hewan, yaitu proses metabolik di dalam tubuh. Saluran pencernaan terdiri dari mulut, esophagus (kerongkongan), crop (tembolok), proventriculus (perut kecil), gizzard (empedal), duodenum, usus halus, ceca, rectum, cloaca, dan vent. Sedangkan organ asesori terdiri dari pankreas dan hati (Suprijatna et al., 2008). Setiap bagian alat pencernaan masing-masing memiliki fungsi yang berbeda (Fadilah, 2005).
Mulut ayam tidak memiliki lidah, pipi, dan gigi. Langit-langitnya lunak, tetapi memiliki rahang atas dan bawah yang menulang untuk menutup mulut. Mulut memiliki fungsi untuk minum dan memasukan makanan, menghasilkan air liur (enzim pengurai makanan), dan mempermudah makanan masuk ke kerongkongan (Fadilah, 2005). Kerongkongan atau esophagus berupa pipa tempat pakan melalui saluran ini bagian belakang mulut (pharynx) ke proventriculus (Suprijatna et al., 2008). Kerongkongan berfungsi untuk menyalurkan makanan ke tembolok. Sebelum kerongkongan memasuki rongga tubuh, ada bagian yang melebar di salah satu sisinya menjadi kantong yang dikenal sebagai crop atau tembolok. Tembolok memiliki fungsi sebagai penampungan sementara makanan yang dikonsumsi oleh unggas (Fadilah, 2005).
Proventriculus merupakan pelebaran dari kerongkongan sebelum berhubungan dengan gizzard (empedal). Pakan berlalu cepat melalui proventriculus (Suprijatna et al., 2008). Proventriculus berfungsi sebagai penghasil pepsin yaitu enzim pengurai protein dan penghasil asam lambung (hydrochloric acid) (Fadilah, 2005).
Gizzard atau empedal seringkali juga disebut muscular stomach (perut otot). Lokasinya berada diantara ventriculus dan bagian usus halus (Suprijatna et al., 2008). Gizzard memiliki otot yang kuat dan permukaan yang tebal, berfungsi sebagai pemecah makanan menjadi bagian-bagian atau partikel yang lebih kecil (Fadilah, 2005).
Usus halus merupakan organ utama tempat berlangsungnya pencernaan dan absorpsi produk pencernaan. Berbagai enzim yang masuk ke dalam saluran pencernaan ini berfungsi mempecepat dan mengefisiensikan pemecahan karbohidrat, protein, dan lemak untuk mempermudah proses absorpsi (Suprijatna et al., 2008). Pada bagian usus halus terdapat pankreas yang menghasilkan enzim amilase, lipase, dan tripsin. Enzim tersebut dan enzim-enzim lain yang dihasilkan dinding usus halus berfungsi untuk menguraikan protein dan gula. Hasilnya akan diserap usus halus untulk di distribusikan ke seluruh tubuh. Usus halus ayam dewasa memiliki panjang sekitar 1,5 meter (Fadilah, 2005).
Diantara usus halus dan usus besar, terdapat dua kantong yang disebut sebagai ceca (usus buntu). Dalam keadaan normal, panjang setiap ceca sekitar 6 inci atau 15 cm (Suprijatna et al., 2008). Fungsi ceca ini belum diketahui secara pasti (Fadilah, 2005). Pada ceca hanya sedikit air yang diserap, sedikit karbohidrat dan protein dicerna berkat bantuan beberapa bakteri.
Usus besar merupakan rectum. Pada ayam dewasa panjangnya sekitar 10 cm dengan diameter sekitar dua kali usus halus. Bentuknya melebar dan terdapat pada bagian akhir usus halus ke kloaka (Suprijatna et al., 2008). Usus besar berfungsi sebagai penambah kandungan air dalam sel tubuh dan menjaga keseimbangan air dalam tubuh ayam (Fadilah, 2005).
Kloaka memiliki bentuk yang bulat dan berada pada akhir saluran pencernaan. Kloaka beraarti common sewer atau saluran umum tempat saluran pencernaan dan reproduksi bermuara (Suprijatna et al., 2008). Kloaka berfungsi sebagai lubang pengeluaran sisa pencernaan (Fadilah, 2005).

2.2.2. Sistem respirasi unggas
Sistem respirasi pada ayam terdiri dari nasal cavities, larynx, trachea (windpipe), syrinx (voice box), bronchi, paru-paru, kantong udara dan udara tertentu pada tulang (Suprijatna et al., 2008). Fungsi alat pernapasan ini adalah sebagai tempat pertukaran udara yang masuk dan keluar dari tubuh ayam. Dengan kata lain, berfungsi sebagai tempat pertukaran antara oksigen yang masuk kedalam tubuh dan karbondioksida yang dikeluarkan dari tubuh unggas (Fadilah, 2005). Paru-paru pada unggas berperan sebagai tempat berlangsungnya pertukaran gas di dalam darah. Paru-paru ayam relatuf lebih kecil secara proporsional dengan ukuran tubuhnya, paru-paru tersebut mengembang dan berkontraksi hanya sedikit dan tidak terdapat diafragma sejati.


Unggas memiliki sistem kantong udara yang berperan untuk menampung udara. Sebagian besar unggas memiliki delapan antong udara, yaitu median servical sac, median clavicular sac dan sepasang cranial thoriac, caudal thoriac, serta abdominal sac. Pada beberapa jenis unggas, terdapat dua servical sacs sehingga menambah jumlah air sac menjadi sembilan (Suprijatna et al., 2008). Kantong udara maupun paru-paru berfungsi sebagai cooling mecanism (mekanisme pendingin) bagi tubuh bila kelembapan dikeluarkan lewat pernapasan dalam bentuk uap air atau dengan kata lain berfungsi sebagai pengatur temperatur tubuh (Fadilah, 2005).
2.2.3.           Sistem reproduksi unggas
2.2.3.1. Sistem reproduksi unggas jantan. Sistem reproduksi ayam jantan terdiri dari dua testis yang memiliki epididimis dan vas deferens yang menuju ke alat copulatory (copulatory organ) (Fadilah, 2005). Testis ayam jantan terletak di rongga badan dekat tulang belakang, melekat pada bagian dorsal dari rongga abdomen dan dibatasi oleh ligamentum mesorchium, berdekatan dengan aorta dan vena cavar, atau di belakang paru-paru bagian depan dari ginjal (Yuwanta, 2004).
Testis memiliki bentuk elipsoid dan berwarna kuning terang, sering pula berwarna kemerahan karena banyaknya cabang-cabang pembuluh darah pada permukaan. Testis terdiri dari sejumlah besar saluran kecil yang bergulung-gulung dan lapisan-lapisannya menghasilkan sperma (Suprijatna et al., 2008). Alat copulatory pada ayam memiliki dua papillae dan satu alat copulatory mengecil yang berada di daerah sekitar kloaka (vent) (Fadilah, 2005).
Alat kopulasi pada ayam berupa papila (penis) yang mengalami rudimenter, kecuali pada itik berbentuk spiral yang panjangnya 12-18 cm. Pada papila ini juga diproduksi cairan transparan yang bercampur dengan sperma saat terjadinya kopulasi (Yuwanta, 2004). Alat kopulasi pada itik berupa penjuluran yang berkembang dari dinding kloaka, bersifat fibrosa yang memanjang yang dibelit oleh saluran spiral untuk mengalirkan sperma (Fadilah, 2005).
2.2.3.2. Sistem reproduksi ayam betina. Sistem reproduksi ayam betina terdiri dari satu ovarium dan satu oviduk. Walaupun organ reproduksi merupakan tempat produksi sel-sel benih (grem cells), organ tersebut juga merupakan kelenjar endokrin (Suprijatna et al., 2008). Pada ayam betina terdapat sebuah ovarium yang terletak pada rongga badan sebelah kiri. Pada saat perkembangan embrionik, terdapat dua ovari yaitu vari kanan dan ovari kiri (Fadilah, 2005). Tetapi pada perkembangan selanjutnya mengalami regresi sehingga pada saat menetas hanya dijumpai sebuah ovarium kiri, sedangkan yang kanan rudimeter.
Menurut fungsinya saluran telur dibagi menjadi 5 bagian yaitu infundibulum adalah corong pada ujung oviduct yang berfungsi menangkap sel telur saat diovulasikan oleh ovarium, magnum yang menghasilkan albumin kental, panjang magnum sekitar 33 cm, isthmus yang mengeluarkan selaput kerabang, uterus atau kelenjar kerabang berfungsi untuk tempat pembentukan cangkang dan tempat pigmentasi cangkang, dan vagina yang merupakan organ kopulasi betina dengan panjang 15 cm dan kloaka (Fadilah, 2005).
2.2.4.           Sistem urinari
Organ-organ urinasi unggas yaitu ginjal, ureter dan kloaka. Sistem ekskresi pada unggas terdiri dari dua buah ginjal yang bentuknya relatif besar memanjang yang berlokasi di belakang paru-paru dan menempel pada tulang punggung dimana masing-masing ginjal terdiri dari tiga lobus yang tampak dengan jelas (Suprijatna et al., 2008). Ginjal adalah organ yang menyaring plasma dari unsur-unsur plasma darah, dan kemudian secara selektif menyerap kembali air dan unsur-unsur berguna yang kembali dari filtrat yang akhirnya mengeluarkan kelebihan dari produk buangan plasma. Ureter adalah saluran muscular yang mengalirkan urine dari dinding ginjal menuju ke blader (kantong kemih). Blader merupakan organ muscular yang berongga yang ukuran dan posisinya bervariasi tergantung jumlah urine di dalamnya. Pelvis, ureter, blader dan uretra pada bagian dalamnya diseliputi oleh  epitel transisional  (organ yang mengalami distensi, lumen  menjai besar, dinding menipis, dan terjadi suatu transisi ke stratifikasi yang lebih sedikit) (Fadilah, 2005).
2.2.5.           Identifikasi penyakit ternak unggas
Berdasarkan penyebabnya, penyakit dapat dibedakan menjadi indirect factor atau predisposing dan direct factors. Predisposing penyebab penyakit biasanya berkaitan dengan stress (cekaman) (Fadilah, 2005). Penyebabnya antara lain kedinginan, ventilasi yang buruk, populasi tinggi (overcrowding), tidak cukup tempat pakan dan minum, serta overmedikasi (pengobatan yang berlebihan). Demikian pula penyakit yang satu menjadi predisposisi penyakit lainnya. Misalnya, infectious bronchitis dapat menjadi predisposisi penyakit air sac (kantong udara) (Suprijatna et al., 2008).
Penyebab langsung penyakit  bersifat infeksius dan noinfeksius. Penyakit infeksius ada yang kontagius maupun nonkontagius. Penyakit kontagius adalah penyakit yang langsung di transmisi dari individu atau flock kepada individu atau flock lainnya (Fadilah, 2005). Penyakit infeksius adalah penyakit yang disebabkan oleh organisme hidup. Sebagian besar penyakit infeksi pada unggs adalah kontagius, seperti penyakit karena virus, bakteri, riketsia, dan fungi. Sementara beberapa penyakit infeksi tidak kontagius seperti aspergilosis. Penyakit yang sering menyerang ternak ayam secara umum berdasarkan penyebabnya dapat dikelompokkan menjadi cekman (stress), defisiensi zat makanan, parasit, penyakit karena protozoa, penyakit karena bakteri, penyakit karena virus, dan penyakit karena cendawan (Suprijatna et al., 2008).
2.3.      Formulasi ransum ternak unggas
2.3.1. Pengertian ransum
Ransum adalah bahan-bahan makanan ternak terpilih yang telah disusun dengana metode tertentu agar kebutuhan nutrisi ternak tersebut terpenuhi dengan sejumlah kandungan nutrisi baha-bahan yang digunakan itu (Rasyaf, 2011). Ransum bisa juga disebut sebagai bahan pakan. Penyusunan pakan merupakan kegiatan pencampuran berbagai bahan pakan yang ada dengan perbandingan yang telah ditentukan untuk memenuhi kebutuhan zat-zat makanan yang diperlukan oleh ayam untuk pertumbuhan dan produksi (Suprijatna et al., 2008).

2.3.2. Kebutuhan nutrisi ternak unggas
Penyusunan ransum perlu memperhatikan keseimbangan antara energi dan protein (Rasyaf, 2011). Protein diambil sebagai patokan, karena kualitas suatu bahan dan harga pakan ditentukan oleh kadar protein tersebut. Anak ayam umur 0-8 minggu membutuhkan protein antara 14-16% dan energi antara 2.600-2900 Kkal/kg atau rasio protein dan energi 1:183. Ayam berumur lebih dari 20 minggu membutuhkan protein 17% dan energi 2.650 Kkal/kgatau rasio perbandingan protein dan energi 1:165 (Rukmana, 2003).
Ransum sangat penting untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak. Dalam menyusun ransum tiap jenis bahan makanan hendaknya ada bahan sejenis sebagai pendamping (Rukmana, 2003). Dedak halus misalnya didampingi dengan bekatul. Jangan menggunakan bahan makanan yang memiliki kandungan nutrisi dan sifatnya relatif sama, sebagai contoh dedak padi yang digunakan bersamaan dengan dedak gandum (Rasyaf, 2011).
Kebutuhan protein untuk pemeliharaan relatif rendah karena kebutuhannya tergantung pada jumlah yang diperlukan untuk tujuan-tujuan produksi. Karena protein merupakan bagian ransum termahal maka tidak ekonomis memberikan terlalu banyak protein pada hewan (Rasyaf, 2011). Dua asam amino yang sangat penting adalah lisin dan metionin yang merupakan bagian terbesar dari protein hewani, oleh sebab itu pembuatan ransum ayam perlu menggunakan protein hewani, ketidakseimbangan atau kekurangan asam amino essensial akan engakibatkan terganggunya pertumbuhan (Rukmana, 2003).
Energi yang dibutuhkan ayam untuk pertumbuhan ayam untuk pertumbuhan jaringan tubuh, produksi telur, melakukan aktivitas dan mempertahankan suhu tubuh normal berasal dari karbohidrat, lemak, dan protein dalam ransum (Rasyaf, 2011). Apabila jumlah energi yang dimakan lebih besar daripada yang diperlukan oleh tubuh ayam kelebihannya akan diubah menjadi lemak dan disimpan dalam tubuh (Rukmana, 2003).
Unggas peka tehadap defefisiensi vitamin karena unggas tidak memperoleh keuntungan dari hasil sintesis vitamin oleh jasad renik dalam alat pencernaan sedangkan unggas mempunyai kebutuhan tinggi terhadap vitamin untuk kelangsungan hidupnya (Rasyaf, 2011). Vitamin yang paling penting adalah vitamin A, D, E, K dan kelompok vitamin B, karena tingginya kebutuhan vitamin dalam pakan sering ditambahan bitamin buatan (Rukmana, 2003).

2.3.3.   Jenis-jenis bahan pakan
Unggas dapat berproduksi dengan baik apabila segala yang dibutuhkan oleh unggas tersebut terpenuhi, kelebihan dari yang dibutuhkan barulah digunakan untuk produksi (Rasyaf, 2011). Bahan-bahan pakan yang biasa digunakan dalam ransum unggas adalah jagung kuning, dedak halus, tepung ikan, bahan-bahan pakan berupa butiran atau kacang-kacangan dan hasil ikutan pabrik pertanian lainnya (Rukmana, 2003).

2.3.3.1. Jagung giling. Jagung kuning digunakan sebagai sumber energi ransum dan penggunaanya berkisar 15-70% dari total ransum (Suprijatna et al., 2008). Selain itu jagung merupakan sumber pigmen xanthofil yang menimbulkan warna kuning pada kaki dan kulit ayam serta kuning telur. Jagung kuning lebih baik dari pada jagung putih karena jangung kuning mengandung pro-vitamin A. Jagung giling memiliki kandungan energi metabolis (EM) 3370 kkal/kg dan protein kasar sebesar 8,6% (Rasyaf, 2011).

2.3.3.2. Bekatul. Bekatul didapat dari hasil penggilingan kembali beras yang sudah putih. Bekatul merupakan salah satu sumber energi hal ini dikarenakan bekatul mengandung sumber karbohidrat tinggi (Suprijatna et al., 2008). Kandungan energi metabolis (EM) bekatul lebih dari 2860 kkal/kg dan kandungan protein kasarnya 12% (Rasyaf, 2011).

2.3.3.3. Bungkil Kedelai. Bungkil kedelai merupakan bahan pakan sumber protein nabati terbaik dibandingkan sumber lain. Bungkil kedelai memiliki kandungan protein sebesar 41-50% (Suprijatna et al., 2008).

2.3.3.4. Tepung ikan. Tepung ikan terbuat dari ikan dan sisa-sisa ikan, setelah dikeringkan dan digiling halus. Kandungan protein ikan sangat beragam, tergantung jenis ikan dan cara pengolahannya (Suprijatna et al., 2008). Tepung ikan memiliki kandungan energi metabolis (EM) sebesar 2830 kkal/kg dan protein kasar sebesar 63,6% (Rasyaf, 2011).

2.3.3.5. Premix. Premix merupakan feed suplement atau bahan pakan tambahan yang digunakan untuk pemenuhi atau menyediakan sumber vitamin, mineral dan atau juga antibiotik (Rasyaf, 2011). Premix memiliki campuran bahan pakan yang telah diencerkan yang dalam pemakaiannya harus dicampurkan kedalam pakan. Premix juga merupakan kombinasi beberapa mikro-ingridient dengan bahan penyerta sehigga merupakan kombinasi yang siap dicampurkan dalam pakan ternak (Rukmana, 2003).

2.3.4. Metode penyusunan ransum
Metode penyusunan ransum diantaranya yaitu metode segi empat, metode coba-coba, metode persamaan simulat, metode matriks, dan metode tujuan berganda. Metode coba-coba yaitu dengan cara megambil suatu bahan ditentukan sekian persentasenya, dan disesuaikan dengan kebutuhan ternak, bila hasilnya belum sesuai dengan kebutuhan ternak dicoba lagi hingga sesuai kebutuhan ternak, metode ini mudah dan sederhana karena hanya dengan dasar menyamakan kandungan protein kasar dan energi metabolismenya saja (Rasyaf, 2011). Harga dan tersedianya bahan makanan akan mempunyai pengaruh menyolok terhadap pemilihan bahan makanan. Bahan makanan karbohirdat terdapat dalam jumlah bayak dan harganya relatif murah, bahan makanan protein asal hewan harganya mahal. Cara paling ekonomis adalah menggunakan bahan makanan protein berasal dari tumbuhan dan sedikit bahan makanan protein asal hewan tanpa mengurangi nilai gizi ransum (Rukmana, 2003).
BAB III
MATERI DAN METODE
Praktikum Produksi Ternak Unggas dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 11 dan 18 Oktober 2012 pada pukul 09.00 – 11.30 WIB di Laboratorium Ilmu Ternak Unggas Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang.

3.1.      Materi
3.1.1.   Pengenalan jenis dan klasifikasi ternak unggas
Alat – alat yang digunakan pada praktikum pengenalan jenis ternak unggas ini adalah buku praktikum dan alat tulis untuk menulis hasil pengamatan perbedaan ternak unggas darat dan unggas air beserta hasil pengamatan organ eksterior unggas. Media movie, slide powerpoint dan gambar penjelas merupakan materi yang diberikan oleh asisten.

3.1.2.   Anatomi dan identifikasi ternak unggas
Alat yang dibutuhkan pada praktikum anatomi dan identifikasi ternak unggas adalah alat seksio yang digunakan dalam proses pembedahan, nampan sebagai tempat meletakkan organ – organ unggas yang telah dipisahkan dari tubuh. Alat ukur berupa timbangan kitchen scale digital untuk mengukur bobot badan ternak unggas, pita ukur dan jangka sorong untuk mengukur panjang dan lebar organ – organ ternak unggas. Alat tulis digunakan untuk mencatat hasil pengamatan. Bahan yang dibutuhkan adalah ayam dewasa jantan dan betina, serta itik dewasa jantan dan betina.

3.1.3.   Formulasi ransum ternak unggas
Alat yang digunakan pada praktikum formulasi ransum ternak unggas adalah tabel komposisi kandungan bahan pakan sebagai acuan, kalkulator untuk membantu dalam penghitungan komposisi, timbangan kitchen scale untuk menimbang berat dari pakan yang digunakan, nampan sebagai tempat menyusun ransum. Buku praktikum dan alat tulis untuk mencatat hasil pengamatan. Bahan yang digunakan adalah bahan pakan yang mencakup bahan pakan sumber energi, sumber protein, sumber mineral dan sumber vitamin.

3.2.      Metode
3.2.1.   Pengenalan jenis dan klasifikasi ternak unggas
Metode pengenalan jenis dan klasifikasi ternak unggas adalah memperhatikan materi yang diberikan oleh asisten melalui media movie, slide powerpoint dan gambar penjelas. Kemudian melakukan pengamatan terhadap karakteristik eksterior masing – masing jenis unggas darat dan air, selanjutnya melakukan klasifikasi unggas yang telah diamati tersebut berdasarkan sistem klasifikasi standar dan tujuan pemeliharaannya. Lalu menggambar dan mendeskripsikan data – data yang disajikan.
3.2.2.   Anatomi dan identifikasi ternak unggas
Metode anatomi dan identifikasi ternak unggas adalah melakukan penimbangan bobot mati dan bobot darah, mencatat waktu pengeluaran darah, baru kemudian dilakukan seksio. Membuat sayatan horizontal otot perut di dekat tulang rusuk hingga pertautan antara tulang dada dan sayap. Memotong bagian dada dari persendian scapula sehingga bagian tersebut terbuka. Mengeluarkan dan memisahkan organ – organ seperti organ pencernaan, organ pernapasan, organ reproduksi dan organ urinari. Mengamati organ – organ tersebut apabila terdapat abnormalitas kondisi eksterior maupun interior. Kemudian mencatat hasil pengamatan pada buku praktikum.

3.2.3.   Formulasi ransum ternak unggas
Metode formulasi ransum ternak unggas adalah menentukan standar kebutuhan ransum yang akan disusun berdasarkan kebutuhan rasio energi – protein. Menentukan bahan pakan yang tersedia dan yang akan digunakan, lakukan pengecekan kandungan bahan pakan tersebut dengan tabel komposisi nutrien. Selanjutnya melakukan organoleptik terhadap bahan pakan tersebut. Memformulasi bahan pakan yang tersedia tersebut sehingga memenuhi kebutuhan ternak dengan menggunakan metode trial and error. Selanjutnya mencatat hasil formulasi bahan pakan yang diperoleh, kemudian menyusun ransum sesuai perhitungan yang telah dilakukan secara berlapis dan pencampuran secara merata.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.      Pengenalan Jenis dan Kasifikasi Ternak Unggas
4.1.1.   Klasifikasi unggas
Hasil pengamatan terhadap objek dilakukan pengamatan eksterior terhadap ayam inggris:


Ilustrasi 1. Gambar Ayam Kelas Inggris
Berdasarkan buku The American Standard of Perfection, ayam diklasifikasikan menjadi beberapa kelas. Kelas inggris adalah sekelompok ayam yang dibentuk dan dikembangkan di negara Inggris. Berdasarkan hasil pengamatan pada ayam kelas ini, karakteristik ayam kelas Inggris adalah dengan bentuk tubuh yang besar, cuping berwarna merah, kulit berwarna putih, cangkang telut berwarna cokelat ke kuning-kuningan, bulu merapat dan ayam yang masuk kedalam kelas Inggris merupakan tipe pedaging. Berdasarkan pernyataan Suprijatna et al. (2008) contoh bangsa-bangsa ayam kelas inggris adalah sussex, cornish, orpington, australorp dan dorking.
Hasil pengamatan terhadap objek dilakukan pengamatan eksterior terhadap ayam kelas Amerika :
Ilustrasi 2. Gambar Ayam Kelas Amerika
Ayam kelas Amerika adalah kelompok ayam yang dibentuk dan dikembangkan di negara Amerika Serikat. Berdasarkan hasil pengamatan pada ayam kelas ini, memiliki karakteristik dengan bentuk tubuh yang sedang, cuping telinga berwarna merah, bulu mengembang. Hal ini sesuai dengan pernyataan Suprijatna et al. (2008) yang menyatakan bahwa arakteristik kelas amerika adalah bentuk tubuh sedang, cuping telinga berwarna merah, bulu mengembang, dan kulit berwarna putih.ciri khas lain kulit telur berwarna coklat kekuningan, cakar tidak berbulu, dan terkenal sebagai tipe dwiguna. Contoh dari kelas Amerika adalah plymouth rock, wyandotte, Rhode Island Red (RIR), new hampshire dan jersey.
Hasil pengamatan terhadap objek dilakukan pengamatan eksterior terhadap ayam kelas Mediterania:
Ilustrasi 3. Gambar Ayam Kelas Mediterania
Ayam kelas Mediterania adalah kelompok ayam yang dibentuk dan dikembangkan di sekitar negara dan pulau di Laut Tengah. Berdasarkan hasil pengamatan pada ayam kelas ini, karakteristik ayam kelas Mediterania adalah bulu mengembang, cuping telinga berwarna putih, bentuk tubuh ramping. Hal ini sependapat dengan Suprijatna et al,( 2005) yang menyatakan bahwa arakteristik ayam kelas mediterania adalah bulu mengembang, cuping telinga berwarna putih, kerabang telur berwarna putih, dan merupakan tipe petelur. Berdasarkan pernyataan Yuwanta (2004) bangsa-bangsa yang termasuk kelas mediterania antara lain leghorn, ancona, spanish, minorca dan Andalusia. Leghorn single comb white merupakan bangsa ayam yang popular sebagai jenis ayam petelur.
Hasil pengamatan terhadap objek pengamatan eksterior terhadap ayam kelas Asia :
Ilustrasi 4. Gambar Ayam Kelas Asia.
Ayam kelas Asia merupakan ayam yang dibentuk dan dikembangkan di wilayah Asia. Berdasarkan hasil pengamatan pada ayam kelas ini, karakteristik kelas Asia adalah mempunyai ciri-ciri umum yaitu badan relatif besar, bulu merapat ke tubuh, cuping berwarna merah, cangkang telur berwarna coklat kekuningan sampai putih, kemudian cakar berbulu, kulit berwarna putih sampai gelap dan termasuk kedalam tipe pedaging (Yaman, 2010). Menurut pernyataan Suprijatna et al. (2008) bangsa-bangsa kelas Asia diantaranya adalah brahma, langshan dan cochin china.
Berdasarkan tujuan pemeliharaannya, ayam dibedakan menjadi tipe petelur, tipe pedaging, dan tipe dwiguna. Klasifikasi berdasarkan tujuan pemeliharaan atau bisa disebut dengan tipe-tipe ayam dapat dikelompokan kedalam tipe pedaging, tipe petelur dan tipe dwiguna. Tipe pedaging memiliki karakteristik sifat yang tenang, dengan bentuk tubuh yang besar karena hasil produksi berupa daging, kemudian pertumbuhan yang sangat cepat, warna kulit putih, bulu merapat ke tubuh, produksi telur rendah dan hasil produksi berupa daging dan contoh tipe ayam pedaging berasal dari kelas Inggris dan Asia. Tipe ayam petelur memiliki sifat yang yang lebih agresif atau mudah terkejut. Bentuk tubuh relatif lebih ramping dengan cuping berwarna putih, cangkang telur berwarna putih, efisien dalam penggunaan ransum serta tidak memiliki sifat mengeram. Produksi telur cukup tinggi dan bangsa-bangsa yang tergolong kedalam tipe petelur berasal dari kelas Mediterania.
Tipe ayam dwiguna merupakan suatu tipe yang dapat menghasilkan daging dan juga dapat menghasilkan telur. Tipe ayam dwiguna memiliki karakteristik sifat lebih tenang, dengan bentuk yang relatif sedang, warna kulit cokelat, pertumbuhan juga relatif sedang. Produksi telur sedang, tidak sebanyak tipe ayam petelur dan bangsa-bangsa ayam yang termasuk kedalam tipe ayam dwiguna berasal dari kelas Amerika.

4.1.2.   Unggas darat
Berdasarkan pengamatan yang telah dilaksanakan didapatkan hasil yang sebagai berikut :
Ilustrasi 5. Eksterior Ayam
Keterangan :
1.      Jengger                        6.   Ekor                                             
2.      Kepala                         7.   Sayap                               
3.      Paruh                           8.   Dada        
4.      Mata                            9.   Kaki                     
5.      Pial                                                     
Bagian organ ayam yang tampak dari luar dari bagian kepala, leher, tubuh bagian depan dan tubuh bagian belakang. Paruh, mata, kelopak mata, jengger, cuping dan pial terdapat di bagian kepala sementara tubuh bagian depan terdapat dada dan sayap dibagian belakang terletak punggung, perut, ekor, paha, betis dan cakar (Yuwanta, 2004). Paruh, jari dan taji bersifat menulang, tersusun atas keratin. Paruh ayam berbentuk runcing dan kecil karena disesuaikan dengan pakan yang terhadap hormon berupa biji-bijian. Jengger dan pial bersifat sensitif terhadap hormon sex sehingga dapat dijadikan indikator karakteristik secundary sex, sebagai accesor sexual epidermal. Jengger ayam jantan lebih besar dari pada ayam betina. Sepasang pial terdapat pada bagian kedua sisi rahang bawah dibagian basal paruh. Cuping telinga bersifat berdaging tebal yang terletak dibagian bawah telinga. Cakar pada ayam umumnya tertutup sisik yang merupakan penjuluran dari corium yang padat dan terbungkus oleh epidermis yang sangat tebal. Kelenjar minyak (glandula uropygal) yang terdapat dibagian atas ekor ayam berukuran sebesar kacang kapri, sedangkan pada unggas air tumbuh lebih besar (Suprijatna et al., 2005). Ayam memiliki bentuk paruh lancip, berwarna kuning, warna jengger merah serta kaki berwarna kuning bulu pada ayam jantan dijadikan sebagai daya tarik dalam menarik lawan jenisnya. Bagian kaki pada ayam jantan terdapat taji sedangkan pada ayam betina tidak terlalu berkembang dengan baik minorca (Rasyaf, 2008).

4.1.3.   Unggas air
            Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilaksanakan, didapatkan hasil yang sebagai berikut :
Ilustrasi 6. Eksterior Itik
Keterangan :
1. Mata                        4. Leher                       7. Dada                        
2. Lubang hidung        5. Punggung                8. Ekor           
3. Paruh                       6. Bulu kelamin           9. Selaput renang
Itik yang digunakan dalam praktikum kemarin adalah jenis itik pedaging. Ukuran itik pedaging umumnya berbadan besar dan padat agar bisa diambil dagingnya. Berdasarkan pernyataan Ranto dan Sitanggang (2005) bebek dengan ukuran yang kecil biasa paling baik untuk dipelihara sawah padi. Menurut Yaman (2010) unggas air merupakan unggas yang lingkungannya berada di air dan salah satunya adalah itik. Itik adalah hewan bersayap yang biasanya hidup di air atau rawa dengan sifat­-sifat khas yang membedakan dan menggolongkannya sebagai unggas air.
Dalam keadaan liar, ternak itik bersifat monogamous, yaitu hidup berpasangan. Setelah jinak akan mengalami perubahan menjadi bersifat polygamous, yaitu hidup bersama – sama dalam suatu kelompok. Menurut Ranto dan sitanggang (2005) para ahli berpendapat bahwa jenis ternak itik domestik yang kita kenal sekarang ini (kecuali Muskovi = Entok) merupakan keturunan langsung dari itik. Diperkuat pernyataan Rasyaf (2011) bahwa sifat khas itik yang lainnya adalah sifat omnivorous, yaitu hewan pemakan biji–bijian, rumput–rumputan, umbi-umbian dan makanan yang berasal dari hewan. Bulu itik berbentuk konkaf yang merapat erat ke permukaan badan dengan permukaan bagian dalam yang lembut dan tebal serta senantiasa berminyak. Fungsi bulu adalah untuk mencegah masuknya air sehingga air tidak dapat mencapai permukaan kulit. Timbunan lemak yang terdapat dibagian bawah kulit berfungsi sebagai insulator sehingga itik tahan dingin walaupun berada dalam air untuk jangka waktu yang cukup lama. Bulu itik juga mengandung banyak udara sehingga itik dapat mengapung dalam air. Dari pernyataan Ranto dan Sitanggang (2005) ciri spesifik dari itik jantan dengan betina adalah ada tidaknya feather sex pada bulu ekornya.

4.1.4.   Perbedaan unggas darat dan unggas air
Walaupun sesama jenis unggas, ayam dan itik memiliki beberapa perbedaan. Perbedaannya adalah ayam termasuk unggas darat, sedangkan itik termasuk unggas air. Ayam memiliki paruh yang runcing dan keras untuk mematuk-matuk makanannya yang keras, sedangkan itik memiliki paruh yang sedikit melebar karena makanan itik lembut dan tidak keras. Ayam memiliki jengger di kepalanya, sedangkan itik tidak memiliki. Ayam memiliki pial di bagian bawah kepalanya, sedangkan itik tidak memiliki. Tembolok pada ayam berkembang, sedangkan tembolok itik tidak berkembang. Kaki pada itik memiliki selaput untuk memudahkan berenang di dalam air, sedangkan pada ayam kakinya tidak memiliki selaput.

4.2.                 Anatomi dan Identifikasi Penyakit Ternak Unggas
4.2.1.           Sistem pencernaan
Hasil pengamatan terhadap sistem pencernaan pada unggas sebagai berikut :
Keterangan :
Keterangan:
1.         Oesophagus             5. Small intestine
2.         Crop                         6. Ceca
3.         Proventriculus           7. Rectum
4.         Gizzard                     8. Cloaca
Berdasarkan hasil praktikum pengamatan terhadap sistem pencernaan unggas yang meliputi ayam dan itik, diketahui bahwa organ pencernaan adalah terdiri dari Oesophagus, crop, proventriculus, gizzard, small intestine (duodenum, jejunum, ileum), ceca, rectum dan cloaca. Hal ini sesuai dengan pendapat Suprijana et al. (2008) yang menyatakan bahwa saluran pencernaan terdiri dari mulut, esophagus (kerongkongan), crop (tembolok), proventriculus (perut kecil), gizzard (empedal), duodenum, usus halus, ceca, rectum, cloaca, dan vent. Sebagaimana diketahui bahwa setiap organ memiliki fungsinya masing-masing, hal ini diperkuat oleh pernyataan Fadilah (2005) yang menyatakan bahwa setiap bagian alat pencernaan memiliki fungsi yang berbeda. Hal ini sesuai dengan pendapat Yuwanta (2004) yang menyatakan bahwa saluran pencernaan ayam terdiri dari mulut, kerongkongan (esophagus), tembolok (crop), proventriculus (lambung sejati), ventrikulus, usus halus (small intestine), ceca, usus besar (kolon) dan kloaka. Setiap bagian alat memiliki fungsi yang berbeda.
Lidah pada unggas berfungsi membantu pada waktu makan karena ada bagian dari lidah yang bercabang pada bagian belakang yang mendorong pakan turun kedalam kerongkongan. Mulut unggas dapat menghasilkan air liur yang mengandung enzim amilase. Hal ini sesuai dengan pendapat Fadilah (2005) yang menyatakan bahwa Mulut unggas menghasilkan air liur yang mengandung enzim amilase (enzim pengurai makanan) dan memepermudah makanan masuk ke kerongkongan. Esophagus merupakan saluran penghubung antara mulut dan lambung (gizzard) yang berfungsi sebagai tempat masuknya pakan, bentuknya memanjang dan silinder, panjang esophagus pada ayam dan itik adalah 4 cm dan 20,5 cm.
Ukuran paruh itik lebih panjang dan berbentuk pipih dibandingkan paruh ayam yang cenderung lebih pendek dan runcing. Hal ini karena pakan yang dimakan oleh itik dan ayam berbeda. Ayam cenderung menyukai pakan yang berbentuk butiran atau bijian sehingga paruhnya runcing, sedangkan itik cenderung menyukai pakan yang lembek sehingga paruhnya pipih dan panjang untuk mempermudah dalam pengambilan pakan. Paruh itik dan ayam mempunyai lidah dan kelejar ludah untuk membantu mendorong makanan ke kerongkongan, hal ini sesuai dengan pendapat Suprijatna et al. (2008) yang menyatakan bahwa di dalam mulut ayam terdapat lidah yang yang berfungsi untuk mendorong makanan untuk masuk ke dalam esophagus. Ditambahkan oleh Fadilah (2005) bahwa lidah untuk mendorong makanan ke dalam kerongkongan, juga berfungsi untuk menahan air, di dalam mulut juga terdapat kelenjar ludah yang berfungsi untuk membantu pada saat menelan.
Tembolok memiliki kemampuan untuk mengembang. Panjang tembolok pada ayam dan itik adalah 6 cm dan 5 cm. Tembolok merupakan tempat penyimpanan makanan sementara sebelum masuk ke dalam lambung dan di tembolok tidak terjadi proses pencernaan. Tembolok pada itik tidak begitu berkembang karena faktor pakan yang dimakan oleh itik yaitu pakan berbentuk lembek. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Suprijatna et al. (2008) yang menyatakan bahwa di dalam tembolok tidak ada atau bahkan sedikit proses pencernaan, kecuali pencampuran sekresi saliva dari mulut yang dilanjutkan aktivitasnya di tembolok.
Perut unggas terdiri dari perut kelenjar (proventriculus) dan (gizzard). Proventriculus merupakan suatu pelebaran dari kerongkongan yang dindingnya menebal menuju ke arah gizzard. Panjang proventrikulus ayam dan itik adalah 8 cm dan 5 cm. Panjang gizzard ayam dan itik jantan adalah 6 dan 6,5 cm. Gizzard atau ventriculus merupakan perut atau lambung yang tersusun atas otot yang kuat dan tebal yang berada diantara proventriculus dan usus halus, berfungsi sebagai tempat menghancurkan atau menggiling pakan. Hal ini sesuai dengan pendapat Yuwanta (2004) bahwa gizzard sangat tebal dan partikel pakan yang masuk akan segera digiling menjadi partikel kecil yang mampu melalui saluran usus. Pemberian grit dalam pakan adalah tidak umum tetapi dapat membantu kerja empedal. Pecahanan kerang atau bahan keras yang tidak larut dapat digunakan sebagai suatu pakan tambahan. Material halus akan masuk gizzard dan keluar lagi dalam beberapa menit, tetapi pakan berupa material kasar akan tinggal di gizzard untuk beberapa jam.
Usus halus merupakan saluran pencernaan setelah gizzard yang dibedakan menjadi tiga bagian yaitu duodenum, jejunum dan ileum yang saling berurutan. Panjang duodenum, ileum dan jejunum pada ayam dan itik yaitu 22,5 dan 49 cm untuk panjang duodenum, 55 cm dan 59 cm untuk panjang ileum, adalah 66 dan 36,5 cm untuk panjang jejunum sesuai dengan pendapat Suprijatna et al. (2008) bahwa duodenum adalah usus halus yang menghubungkan lambung, jejunum adalah usus halus yang berada di bagian tengah, ileum adalah bagian akhir dari usus halus yang berhubungan langsung dengan usus buntu (ceca). Duodenum dapat diketemukan batasannya secara jelas karena pada duodenum, pankreas melekat sedangkan pada jejunum dan ileum sulit ditemukan batasan yang pasti. Namun pemisah antara jejunum dan ileum (micel difentriculum) lebih jelas pada ayam daripada pada itik. Absorbsi hasil pencernaan makanan terjadi di usus halus. Sesuai dengan pendapat Fadilah (2005) yang menyatakan bahwa zat-zat makanan yang nantinya masuk ke usus besar telah mengalami absorbsi di usus halus.
Pada ayam dan itik juga ditemukan usus buntu. Usus buntu merupakan buluh-buluh yang buntu dan timbul di tempat pertemuan usus halus dan usus besar. Usus buntu berisi sejumlah makanan atau bahan yang tidak tercerna, berwarna hitam atau putih. Panjang usus buntu pada unggas sekitar 13,2 cm. Usus tersebut termasuk tidak normal karena tidak sesuai dengan standar panjang usus pada unggas. Hal tersebut sesuai dengan pandapat Suprijatna et al. (2008) yang menyatakan bahwa ceca normal pada unggas sekitar 15 cm. Panjang usus besar ayam dan itik jantan adalah 8 dan 9,5 cm, memiliki diameter lebih besar daripada usus halus. Usus besar terletak diantara usus buntu dan kloaka. Hal ini sesuai pendapat Fadilah (2005) yang mengungkapkan bahwa panjang usus besar hanya sekitar ±10 cm dengan diameter sekitar dua kali usus halus. Bentuknya melebar dan terdapat pada bagian akhir usus halus ke kloaka. Kloaka merupakan bagian akhir dari saluran pencernaan setelah usus besar, berbentuk tabung dan merupakan muara dari saluran pencernaan, saluran kencing, dan saluran reproduksi berfungsi sebagai lubang pengeluaran, baik kencing, feses, telur, dan sebagai alat reproduksi. Panjang kloaka pada unggas sekitar 2,5 cm.


Hati adalah organ asesoris berwarna merah kecokelatan dan berperan mensekresi cairan empedu yang berhubungan dengan duodenum dan membantu dalam pencernaan lemak di duodenum. Pancreas adalah kelenjar yang menumpel pada duodenum sehingga membentuk huruf U yang berfungsi mengeluarkan enzim-enzim yang diperlukan dalam proses pencernaan. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Suprijatna et al. (2008) bahwa hati dan pankreas membantu menghasilkan sekresi untuk pencernaan meskipun makanan yang masuk tidak melalui organ tersebut. Pankreas mensekresikan enzim-enzim seperti amilase prankreas, lipase prankreas, dan tripsin untuk membantu pencernaan karbohidrat, protein, dan lemak di duodenum.

4.2.2.           Sistem respirasi unggas
Hasil pengamatan terhadap sistem respirasi pada unggas sebagai berikut :
Ilustrasi 8. Sistem respirasi unggas
Keterangan :
1.             Larynx
2.             Trachea
3.             Bronchus
4.             Paru-paru
Berdasarkan hasil praktikum pengamatan terhadap sistem respirasi unggas yang meliputi ayam dan itik, diketahui bahwa organ respirasi adalah Larynx, trachea, bronchus, dan paru-paru. Hal ini sesuai dengan pendapat Suprijatna et al. (2008) yang menyatakan bahwa sistem respirasi pada ayam terdiri dari nasal cavities, larynx, trachea (windpipe), syrinx (voice box), bronchi, paru-paru, kantong udara dan udara tertentu pada tulang. Fadilah (2005) mengatakan bahwa fungsi alat pernapasan ini adalah sebagai tempat pertukaran udara yang masuk dan keluar dari tubuh ayam. Dengan kata lain, berfungsi sebagai tempat pertukaran antara oksigen yang masuk kedalam tubuh dan karbondioksida yang dikeluarkan dari tubuh unggas.
Trachea berbentuk seperti selang, merupakan saluran pernafasan pertama yang tersusun atas tulang rawan yang berbuku-buku. Syrinx merupakan bagian dari trachea yang mengembang, berfungsi sebagai pita suara. Syrinx antara itik jantan dan betina berbeda, pada itik jantan syrinx berkembang, sedangkan pada itik betina syrinx kurang berkembang. Oleh karena itu itik jantan mempunyai suara yang lebih keras dibandingkan dengan itik betina. Bronchus merupakan percabangan dari trachea, dan diikuti oleh broncheolus yang merupakan percabangan dari bronchus yang berada di dalam paru-paru. Paru-paru unggas terdiri dari dua bagian, warna paru-paru dari itik lebih cerah dibandingkan dengan paru-paru ayam. Hal ini sesuai dengan pendapat Rasyaf (2011) bahwa sistem pernafasan unggas terdiri dari nostril, trachea, syrinx, bronchus, broncheolus dan paru-paru. Trachea merupakan saluran pertama yang berupa saluran yang berbuku-buku, syrinx adalah pita suara. Ditambahkan dengan pendapat Yuwanta (2004) bahwa bronchus merupakan percabangan dari trachea, merupakan cabang dari bronchus yang menyalurkan udara kedalam paru-paru melalui anak cabangnya. Broncheolus adalah anak cabang dari bronchus yang berbentuk saluran-saluran kecil yang menyalurkan udara dari bronchea ke paru-paru. Paru-paru merupakan organ vital dalam sistem pernafasan unggas, karena paru-paru merupakan pengatur sirkulasi udara dalam tubuh unggas ayam dan .



4.2.3.           Sistem reproduksi unggas
4.2.3.1.     Sistem reproduksi unggas jantan
Hasil pengamatan terhadap sistem reproduksi pada unggas jantan sebagai berikut :

Ilustrasi 9. Sistem reproduksi unggas jantan
Keterangan :
1.             Testes
2.             Vas deferens
3.             Ureter
Berdasarkan praktikum pengamatan saluran reproduksi ayam jantan didapatkan ciri-ciri ayam mempunyai testes yaitu gabungan dari dua testis, saluran vas deverens, dan ureter. Hal ini sesuai pendapat Suprijatna et al. (2008) yang menyatakan bahwa saluran reproduksiayam jantan terdiri dari dua testis yang terletak pada dorsal area rongga tubuh, ductus deverens dan dinding dorsal kloaka. Fadilah dan Agustin (2011) menyatakan bahwa alat reproduksi ayam jantan terdiri dari dua testis yang memiliki epididimis dan vas deferens yang menuju ke alat kelamin (copulatory organ).
Menurut pernyataan Suprijatna et al. (2008) testis terdiri dari sejumlah besar saluran kecil yang bergulung-gulung dan dari lapisan-lapisannya dihasilkan sperma. Diperkuat pernyataan Fadilah (2003) bibit jantan berupa semen atau sperma diproduksi oleh testes yang akan disalurkan ke saluran reproduksi.
Dari pernyataan Suprijatna et al. (2008) vas deferens yaitu saluran yang berfungsi mengalirkan sperma keluar dari tubuh. Masing-masing vas deferens bermuara kedalam sebuah papila kecil yang bersama berperan sebagai organ intromittent. Serta dari Yuwanta (2004) menyatakan bahwa Vas deferens merupakan tempat tersimpannya semen dan diencerkan oleh cairan limpa (lymph fluid) yang ketika dikeluarkan pada saat terjadi perkawinan, kedua cairan tersebut sudah tercampur.
Menurut Fadilah (2003) papila merupakan saluran setelah vas deferens yang telah menerima semen atau sprema dan Yuwanta (2004) menyatakan bahwa alat copulatory pada ayam memiliki dua pappilae dan satu alat copulatory mengecil berada di daerah sekitar kloaka.

4.2.3.2.     Sistem reproduksi unggas betina
Hasil pengamatan terhadap sistem reproduksi pada unggas betina sebagai berikut :

Ilustrasi 10. Sistem reproduksi unggas betina
Keterangan :
1.      Sel telur kecil                          6. Uterus
2.      Sel telur matang                      7. Rudimentary right oviduct
3.      Infundibulum                           8. Vagina
4.      Magnum                                  9. Kloaka
5.      Isthmus
Berdasarkan hasil praktikum pengamatan sistem reproduksi unggas betina meliputi sel telur kecil, sel telur matang, infundibulum, magnum, isthmus, uterus, rudimentary right oviduct, vagina, dan kloaka. Hal tersebut sependapat dengan pernyataan Suprijatna et al. (2008) yang menyatakan bahwa sistem reproduksi unggas betina terdiri dari satu ovarium dan satu oviduk. Ovarium ayam biasanya terdiri dari 5-6 folikel yang sedang berkembang, berwarna kuning besar (yolk) dan sejumlah besar folikel putih kecil yang menunjukkan sebagai kuning telur yang belum dewasa. Oviduk merupakan saluran tempat disekresikannya albumen (putih telur), membran kerabang, dan pembentukkan kerabang telur.
Infundibulum memiliki panjang 9 cm yang berfungsi menangkap kuning telur (yolk) dan tempat penampungan sperma dengan waktu proses selama 15 menit. Magnum memiliki ukuran 33cm dengan fungsi memberikan albumen selama 3 jam lamanya. Isthmus memiliki panjang 10 cm yang fungsinya memberikan shell dalam dan luar selama 75 menit. Uterus memiliki ukuran 10-12 cm dengan proses pengerasan kerabang telur oleh kalsium (kalsifikasi) selama 18-20 jam. Menurut Yuwanta (2004) vagina memiliki panjang sekitar 12 cm yang memiliki fungsi penyimpanan kutikel di kerabang sehingga membentuk pori-pori selama beberapa menit. Berdasarkan pernyataan dari Suprijatna et al. (2008) yang menyatakan bahwa sistem reproduksi unggas betina terdiri dari funne atau infundibulum, magnum sebagai tempat albumen di sekresikan, isthmus sebagai tempat mensekresikan material pembentuk membran kerabang, uterus atau kelenjar kerabang, dan vagina merupakan saluran menuju kloaka.
4.2.4.           Sistem urinari

Hasil pengamatan terhadap sistem urinari pada unggas sebagai berikut :

Ilustrasi 11. Sistem urinari unggas
Keterangan :
1.        Ginjal
2.        Ureter
Berdasarkan hasil praktikum pengamatan terhadap sistem urinari pada unggas dalam hal ini ayam dan itik terdiri dari ginjal dan ureter. Ginjal bagian paling luar adalah kapsula, serabut halus keluar dari kapsula menyisip parenkim ginjal bersama pembuluh darah. Renal tubulus dianggap identik dengan nefron mamalia yang terdiri atas korpuskuli renalis dengan glomeruli relatif lebih kecil dari mamalia, tubuli kontorti proksimalis, mempunyai epithel kubis dengan brush brooder, jerat henle memiliki epithel sama namun tidak memiliki brush brooder, tubuli konturti distalis memiliki lumen lebih luas, epitelnya lebih pucat dan berbentuk kubis, dan alat penyalur mulai dari duktuli koligentes dengan epitel kubis. Selaput lendir ureter banyak baris. Pada tunika propria sebagaimana pada bangsa burung banyak ditemukan limfosit (Fadilah, 2003).
4.2.5.           Identifikasi penyakit unggas
Berdasarkan hasil praktikum identifikassi penyakit pada unggas, diketahui bahwa unggas yang digunakan saat praktikum berada dalam kondisi sehat karena tidak menunjukan gejala-gejala berada pada kondisi sakit atau berada pada kondisi stres atau dalam kondisi cekaman karena penyebab-penyeba stres ini sangat minim. Hal ini sependapat dengan pernyataan Fadilah (2005) yang menyatakan bahwa berdasarkan penyebabnya, penyakit dapat dibedakan menjadi indirect factor atau predisposing dan direct factors. Predisposing penyebab penyakit biasanya berkaitan dengan stress (cekaman). Juga diperkuat oleh pernyataan Suprijatna et al. (2008) yang menyatakan bahwa penyebab stres diantara lain adalah kedinginan, ventilasi yang buruk, populasi tinggi (overcrowding), tidak cukup tempat pakan dan minum, serta overmedikasi (pengobatan yang berlebihan). Hal-hal ini tidak terjadi karena sebelum dipakai untuk kebutuhan praktikum, ternak diberi perlakuan yang baik sehingga penyebab stres lingkungan tidak begitu berpengaruh terhadap keadaan ternak.
4.3.  Formulasi ransum ternak unggas
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, kebutuhan formulasi ransum ayam petelur periode grower dengan metode trial and error dapat diamati pada tabel 1 berikut ini :
Tabel 1. Hasil Formulasi Ransum Ayam petelur periode Grower
Bahan pakan
EM (kkal/kg)
PK (%)
Komposisi (%)
EM (kkal/kg)
PK (%)
Jagung
Bekatul
Tepung ikan
Bungkil Kedelai
Premix
3370
2860
2830
2240
1
8,6
12
63,6
48
1
58,25
19
2
    19,75
1
1963,0
543,4
56,6
442,4
1
2,28
9,4
5
    1,2
1
Total


100
2906,4
18,8
Sumber: Data Primer Praktikum Produksi Ternak Unggas, 2012.
Dari hasil perhitungan formulasi ransum ayam petelur periode grower didapatkan total Protein Kasar (PK) 24,82% dan Energi Metabolis sebesar 2895 kkal/kg. Hasil tersebut sudah memenuhi kebutuhan nutrisi untuk ayam petelur periode grower dalam satu hari. Hal ini sesuai pendapat Rukmana (2003) yang menyatakan bahwa kebutuhan energi ayam petelur periode grower 2800 kkal/kg dengan 24% protein. Perhitungan didapatkan dengan metode trial and error atau metode coba-coba. Menurut Rasyaf (2011) metode coba-coba yaitu dengan cara megambil suatu bahan ditentukan sekian persentasenya, dan disesuaikan dengan kebutuhan ayam, bila hasilnya belum sesuai dengan kebutuhan ayam dicoba lagi hingga kebutuhan ayam dapat terpenuhi.
Ayam petelur mengkonsumsi ransum guna untuk mencukupi kebutuhan energi yang akan digunakan untuk menjalankan fungsi tubuh. Ransum terbaik adalah yang bentuk tepung, sebab ayam petelur yang mempunyai sifat nervous dan sering mematuk, karena ayam petelur akan mempunyai kesibukan lain dengan mematuk-matuk pakannya. Protein, karbohidrat, vitamin, mineral, dan air mutlak harus tersedia dalam jumlah yang cukup. Karena jika kekurangan salah satu nutrien dapat mengganggu kesehatan maupun produktivitas ayam petelur. Menurut Rasyaf (2011) ransum sempurna merupakan kombinasi beberapa makanan, yang dikonsumsi secara normal dapat mensuplai zat-zat makanan pada ada ternak dalam perbandingan jumlah, bentuk, sedemikian rupa sehingga fungsi yang ada harus dapat memenuhi kebutuhan zat-zat makanan yang diperlukan agar dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik.
Tabel 2. Hasil Organoleptik Bahan Pakan
Bahan Pakan
Bentuk
Tekstur
Warna
Bau
Jagung
Serpihan
Kasar
Kuning
Khas jagung
Konsentrat
Serbuk
Halus
Coklat muda
Amis
Bekatul
Serbuk
Halus
Krem
Hambar
Top Mix
Serbuk
Halus
Krem
Amis
Tepung Ikan
Serbuk
Halus
Coklat
Seperti tanah
Sumber: Data Primer Praktikum Produksi Ternak Unggas, 2012.
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan didapatkan hasil organoleptik bahan pakan jagung memiliki bentuk serpihan yang bertekstur kasar, beerwarna kuning dan memiliki bau khas jagung. Jagung kuning digunakan sebagai sumber energi ransum dan penggunaanya berkisar 40-47% dari total ransum. Menurut Suprijatna et al. (2008) jagung merupakan sumber pigmen xanthofil yang menimbulkan warna kuning pada kaki dan kulit ayam serta kuning telur.
Berdasarkan hasil organoleptik bahan pakan bekatul memilliki bentuk serbuk halus dengan warna krem dan baunya hambar atau khas. Menurut Rukmana (2003) bekatul didapat dari hasil penggilingan kembali beras yang sudah putih. Protein bekatul lebih rendah daripada dedak, dalam dedak masih terkandung bagian lembaga padi yang mengandung protein tinggi.
Berdasarkan hasil organoleptik bahan pakan tepung ikan yang diamati memiliki bentuk serbuk halus, berwarna coklat dan berbau seperti tanah, hal ini dikarenakan tepung ikan yang digunakan untuk praktikum sudah kadaluarsa sehingga baunya sudah tidak seperti ikan. Menurut Rasyaf (2011) tepung ikan yang tidak rusak karena pengolahan mengandung energi metabolis yang tinggi dibanding dengan bahan-bahan makanan lainnya yang digunakan dalam ransum unggas.
Metode trial and error adalah metode penyusunan ransum yang sangat sederhana karena hanya menyamakan kandungan protein kasar dan energi metabolis, tetapi metode ini akan sangat merepotkan bila bahan pakan yang dipakai sangat banyak, dalam menghitungnya bisa berkali-kali dan hasilnya belum tentu sesuai formula yang dikehendaki. Hal ini sesuai pendapat Rasyaf (2011) yang menyatakan bahwa metode trial and error ini mudah dan sederhana karena hanya dengan dasar menyamakan kandungan protein kasar dan energi metabolisnya saja.



BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.            Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa klasifikasi unggas yang penting untuk diketahui ada empat kelas, yaitu kelas Asia, kelas Amerika, kelas Mediterania dan kelas Inggris. Pada unggas darat selaput (foot web) tidak berkembang sedangkan pada unggas air selaput (foot web) berkembang dengan baik. Pada umumnya unggas jantan memiliki feather sex untuk menarik pasangannya sedangkan unggas betina tidak. Sistem pencernaan pada ayam dan itik terdapat perbedaan. Hal ini disebabkan karena makanan yang dikonsumsi itik lebih banyak mengandung air sedangkan makanan yang dikonsumsi ayam lebih lunak dan lebih mudah dicerna, misalnya berupa biji-bijian. Sistem respirasi pada ayam dan itik berbeda yaitu pada itik memiliki syrinx. Salah satu tujuan dalam penyusunan ransum adalah supaya didapatkan pakan dengan harga yang relatif murah namun dengan kualitas yang tinggi.
5.2.            Saran
Ketika pelaksanaan praktikum sebaiknya praktikan memeriksa kelengkapan alat-alat yang akan digunakan dan praktikan dapan memanfaatkan waktu praktikum seefisien mungkin, sehingga praktikum berjalan dengan baik dan pengolahan data yang dilakukan pun menjadi maksimal.

DAFTAR PUSTAKA
Fadilah. R. 2003. Panduan Mengelola Peternakan Ayam Broiler Komersial. Agromedia Pustaka, Depok.
Fadilah. R, dan A. Polana. 2005. Aneka Penyakit Pada Ayam Dan Cara Mengatasinya. Agromedia Pustaka, Depok.
Ranto Dan M. Sitanggang. 2005. Paduan Lengkap Beternak Itik. Agromedia Pustaka, Depok.
Rasyaf, M. 2011. Panduan beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya, Jakarta.
Suprijatna. E, U. Atmomarsono, R. Kartasudjana. 2008. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya, Jakarta.
Yaman, M. Aman. 2010. Ayam Kampung Unggul 6 Minggu Panen. Penebar Swadaya, Jakarta.
Yuwanta, T. 2004. DasarTernakUnggas. Kanisius, Yogyakarta.

»»  Baca Selengkapnya...
Photobucket
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...