Minggu, 25 Desember 2011

Praktikum Biologi Mengenai Anatomi Katak

BAB I
PENDAHULUAN
Anatomi hewan adalah ilmu yang mempelajari tentang bagian-bagian organ tubuh hewan beserta fungsinya. Dalam pengamatan anatomi hewan, diperlukan adanya pembedahan untuk mengetahui lebih jelas sistem organ pada hewan, khususnya organ sistem pencernaan dan organ sistem pernafasan secara langsung. Hewan yang dijadikan objek penelitian atau pengamatan adalah katak sawah (Rana canorivara) yang termasuk dalam kelas amfibi karena dapat hidup di darat dan di air. Katak sawah (Rana canorivara) memiliki sistem pencernaan yang terdiri dari saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Pada sistem pernafasan tersusun atas celah glottis, laring, bronchus, bronkeolus, alveolus, dan alveoli.
Praktikum tentang Anatomi Hewan bertujuan untuk mengetahui organ-organ dalam sistem pencernaan dan sistem pernafasan, dan untuk mengetahui susunannya serta nama-nama organ pada tubuh katak sawah (Rana canorivara). Manfaat dari praktikum ini adalah sebagai bahan pembelajaran serta kita dapat mengetahui fungsi dari bagian-bagian organ pada tubuh katak (Rana canorivara).




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Karakteristik Katak
Bila dilihat dari susuanan tubuhnya katak terbentuk dari tiga bagian, yatiu badan, kepala, dan alat penggerak. Kepala berbentuk segitiga dan pada bagian tersebut memiliki beberapa organ, yaitu mulut, mata, gendang telinga, dan lubang hidung. Bagian badan dimulai dari belakang gendang telinga sampai tulang ekor dan panjangnya sampai tiga kali dari panjang kepala, bagian ini terdiri dari perut dan punggung. Katak memiliki dua buah anggota penggerak, yaitu sepasang kaki depan, dan sepasang kaki belakang. Kaki depan ukurannya lebih pendek dan lebih kecil dibandingkan dengan kaki belakang. Kaki katak terbagi dari tiga bagian, yaitu paha, betis, dan jari (Arie, 1999). Pada umumnya kulit berfungsi sebagai pelindung tubuh, tetapi pada katak selain sebagai pelindung tubuh, kulit juga berfungsi sebagai alat pernafasan. Kulit katak mempunyai kelenjar-kelenjar yang menghasilkan lendir sehingga kulitnya selalu dalam keadaan basah (Kanna, 2005).
2.2. Sistem Pernafasan
Katak mengalami metamorfosa. Awal hidupnya, katak berupa berudu yang hidup di air dan bernafas menggunakan insang. Lalu setelah dewasa, katak bernafas menggunakan paru-paru (Arie, 1999). Katak dewasa melakukan pertukaran gas pernafasan melalui kulit dan paru-paru, sehingga larva harus timbul ke permukaan air untuk menghirup udara. Paru-paru pada katak berbentuk kantung dan luas permukaan internalnya agak diperluas oleh lipatan seperti saku. Tetapi luas permukaan itu jauh lebih sempit jika dibandingkan dengan vertebrata tingkat tinggi. Paru-paru diventilasi dengan pompa tekan. Kelenturan paru-paru itulah yang menyebabkan udara keluar. Amphibi menambah respirasi paru-paru ini dengan pertukaran udara melalui kulitnya yang tipis dan selalu basah (Kanna, 2005).

2.3. Sistem Pencernaan
Sistem digestorium pada katak terdiri atas saluran pencernaan dan kelenjar-kelenjarnya. Saluran pencernaan atau tractusdigestorius terdiri atas cavum oris, faring, esophagus, ventricles, intestinumtengue, intestinumcrassum, rectum, dan kloaka (Kanna, 2005). Saluran pencernaan dimulai dari rongga mulut, faring, kerongkongan, lambung,usus dua belas jari (duodenum), usus halus (intestinum), usus besar, dan kloaka. Pada rongga mulut makanan dikoyak hingga berbentuk kecil-kecil dengan bantuan gigi maxilla dan gigi vermer. Memalui bantuan ludah, makanan masuk ke faring dilanjutkan ke dalam kerongkongan yang didalamnya terdapat gerakan peristaltik yang menyebabkan makanan masuk ke lambung. Di dalam lambung terdapat enzim. Enzim-enzim tersebut berasal dari kelenjar hati dan pankreas (Arie, 1999).


BAB III
MATERI DAN METODE
Praktikum Biologi dengan materi Anatomi Hewan dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 17 Oktober 2011 pada pukul 15.00–17.00 WIB, di Laboratorium Fisiologi dan Biokimia Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Diponegoro, Semarang.

3.1. Materi
Bahan yang digunakan dalam praktikum anatomi hewan adalah katak sawah (Ranacanorivara), kloroform digunakan untuk membius katak. Sedangkan  alat-alat yang digunakan adalah baki bedah untuk tempat meletakkan katak, gunting bedah digunakan untuk membedah perut katak, penjepit untuk menjepit, dan jarum pentul untuk membentangkan katak.

3.2. Metode
Membius katak hingga pingsan. Meletakkan katak sawah diatas baki bedah. Merentangkan kaki katak. Menyayat atau membedah perut katak sawah dengan menggunakan gunting bedah sehingga terlihat organ-organnya. Mengamati bagian-bagian organnya dan menggambar di buku laporan.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Inspectio Amphibi (Rana canorivara)
Berdasarkan hasil pengamatan amphibi ranacanorivara, didapatkan hasil pengamatan sebagai berikut :




Sumber : Data Primer Praktikum Biologi, 2011  Sumber : 
Ilustrasi 23. Gambar Inspectio amphibi (Rana canorivara)
Keterangan :                                                          Keterangan :
1 Mata                                     5. Punggung           1. Mata
2.Hidung                                 6. Perut                   2. Punggung
3.Mulut                                   7. Kaki depan         3. Kaki belakang
4.Selaput renang                     8. Kaki belakang   4. Kaki depan
                                                                               5. Mulut

Berdasarkan hasil praktikum, pengamatan katak, katak  sebelum di bedah memiliki lubang hidung, mulut, perut, selaput renang, punggung kaki depan dakaki belakang. Hal ini sesuai dengan pendapat Kanna (2005) yang menyatakan bahwa katak memiliki lubang hidung, perut, selaput renang untuk memudahkan berenang. Perut besar berwarna putih kekuningan dengan kulit yang halus dan elastis. Punggung berwarna hijau berbintik coklat, kulit agak kasar, dan tulang punggungnya menonjol. Kaki depn memiliki jari-jari empat buah, dan kaki belakang mempunyai jari-jari lima buah. Mulut berukuran lebar, Mata besar berwarna hitam. Lubang hidung kecil.

4.2. Morfologi Amphibi (Rana canorivara)
Berdasarkan hasil pengamatan amphibi ranacanorivara, didapatkan hasil pengamatan sebagai berikut :





Sumber: Data Primer Praktikum Biologi, 2011 Sumber : 
Ilustrasi 24. Gambar morfologi amphibi ranacanorivara
Keterangan :                                                        Keterangan :
1. Mulut                      7. Empedu                       1. Jantung
2. Lemak tubuh           8. Usus halus                   2. Pankreas
3. Pankreas                  9. Usus dua belas jari      3. Liver
4. Lambung                 10.Illeum                         4. Lambung
5. Ginjal                      11.Usus besar                  5. Usus besar
6. Kantung air seni      12.Kloaka
Berdasarkan hasil praktikum anatomi hewan, yaitu pengamatan katak sawah secara morfologi, katak terdiri atas tiga bagian, yaitu kepala, badan, adan alat penggerak. Kepala berbentuk segitiga, terdiri atas mata, telinga, mulut, gendang telinga, dan lubang hidung. Lubang hidung berukuran kecil, terdapat pada kepala bagian depan. Memiliki kulit tubuh yang elastis dan berbintik. Hal ini sesuai dengan pendapat dari (Kanna, 2005) yang menyatakan bahwa warna tubuh bervariasi, terutama pada bagian punggung, ada yang berwarna kehijauan atau kecoklatan dan biasanya dihiasi dengan bintik-bintik gelap. Kaki depan memiliki empat pasang jari, sedangkan kaki belakang memiliki lima pasang jari (Arie, 1999).

4.3. Digestorium Amphibi (Rana canorivara)
Berdasarkan hasil pengamatan amphibi ranacanorivara , didapatkan hasil pengamatan sebagai berikut :





Sumber: Data Primer Praktikum Biologi, 2011  Sumber : 
Ilustrasi 25. Gambar digestorium amphibi ranacanorivara
Keterangan :
1.Jantung                     5. Usus halus
2. Hati                                     6. Usus besar
3. Empedu                   7. Usus dua belas jari
4. Lambung                 8. Kloaka
Berdasarkan hasil praktikum tentang anatomi hewan, sistem digestorium amphibi ranacanorivara terdiri atas saluran pencernaan dan kelenjar-kelenjarnya, seperti usus dua belas jari, usus halus, usus besar, dan kloaka. Kloaka adalah tempat pelepasan. Katak tidak mempunyai banyak kelenjar ludah dari cavumoris makanan akan melalui pharynx, oesophagus dan yang menghasilkan sekresi alkanin (basis) dan mendorong makanan masuk dalam ventriculus yang berfungsi sebagai gudang pencernaa. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Kanna (2005) yang menyatakan bahwa Sistem digestorium pada katak terdiri atas saluran pencernaan dan kelenjar-klenjarnya. Saluran pencernaan atau tractusdigestorius terdiri atas cavum oris, faring, esophagus, ventricles, intestinumtengue, intestinumcrassum, rectum, dan kloaka.




4.4. Respiratorium amphibi (Rana canorivara)
Berdasarkan hasil pengamatan amphibi ranacanorivara, didapatkan hasil pengamatan sebagai berikut :

http://2.bp.blogspot.com/_aQa8arnXMG8/ShVfjkbkEbI/AAAAAAAAALk/Ok2lYsOHoN8/s320/katak.jpg



Sumber : Data Primer Praktikum Biologi 2011   Sumber : 
Ilustrasi 26. Respiratorium amphibi (Rana canorivara)
Keterangan :                                                           Keterangan :
1. Hidung                                                               1. Bukofaring
2. Bronkus                                                              2. Nostril
3. Jantung                                                               3. Mulut
4. Bronkeolus                                                         4. Otot petrohioid
5. Paru-paru                                                            5. Kartilagohioid
6. Alveolus                                                             6. Glottis
                                                                               7. Faring
                                                                               8. Esofagus
                                                                               9. Paru-paru


Berdasarkan hasil praktikum tentang anatomi hewan, sistem respiratorium amphibi (ranacanorivara), adanya hidung, bronkus, jantung, bronkeolus, paru-paru, dan alveolus. Sistem pernafasan pada katak sawah terdapat dua fase, yaitu fase inspirasi dan ekspirasi. Katak sawah tidak hanya dengan paru-paru saja dalam bernafas. Dalam hal ini bahwa katak sawah dalam melakukan pernafasan tidak hanya dengan paru-paru saja, tetapi bisa dengan menggunakan kulit, yang mana apabila bernafas dengan kulit, kulit katak sawah harus selalu dalam keadaan basah. Pernafasan melalui kulit ini dapat berlangsung baik di darat maupun di dalam air. Hal ini sesuai dengan pendapat Arie (1999) yang menyatakan bahwa awal hidupnya, katak yang berupa berudu yang hidup di air dan bernafas menggunakan insang. Lalu setelah dewasa, katak bernafas menggunakan paru-paru (Kanna, 2005)








BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
            Berdasarkan hasil praktikum mengenai anatomi hewan yaitu katak sawah (Rana canorivara) dapat disimpulkan bahwa sistem pencernaan pada katak berupa rongga mulut yang dilengkapi dengan lidah, gigi vormes dan gigi maxilla, kemudian faring, kerongkongan, lambung, usus dua belas jari, usus halus, usus besar dan kloaka. Kelenjar pencernaan katak yaitu hati, empedu dan pankreas. Sistem pernafasan pada katak berupa lubang hidung, celah glotis yang merupakan ujung dari laring, kemudian bronchus, bronchiolus, dan paru-paru yang terdapat gelembung-gelembung alveolus.

5.2. Saran
Berdasarkan hasil praktikum tentang anatomi hewan didapatkan saran agar praktikan harus benar-benar cermat dan teliti saat melakukan pengamatan katak sawah (Rana canorivara) dan praktikan agar berhati-hati dalam menggunakan chloroform saat membius katak, jangan sampai tercium karena dapat menimbulkan efek pusing di kepala dan segera cuci tangan setelah memegang kapas yang sudah dicelupkan ke dalam chloroform.


DAFTAR PUSTAKA
Arie, Usni. 1999. Pembibitan Dan Pembesaran Bullfrog.Penebar Swadaya. Jakarta
Kanna, Iskandar A.Md. 2005. BULLFROG Pembenihan dan Pembesaran.
Kanisius. Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...