Sabtu, 29 September 2012

Praktikum Penentuan Kadar Hemoblobin dalam Darah


BAB I
PENDAHULUAN
Bentuk sel darah berasal dari sel induk (Stem Cells) dalam sumsum tulang belakang serta memasuki aliran darah guna memenuhi kebutuhan terrentu pada hewan. Pigmen merah pembawa oksigen didalam eritrosit merupakan hemoglobin. Hemoglobin suatu molekul globulin dibentuk menjadi 4 sub unit. Pada tiap sub unit mnegandung suatu gugusan  heme yang dikonjungsi kesuatu peptida. Heme adalah suatu turunan porifirin (merah) yang mengandung besi dan globin yang merupakan protein globular yang terdiri dari 4 rantai asam amino. Fungsi hemoglobin dalam eritrosit sebagai pengangkut gas, baik oksigen maupun karbondioksida.
Hemoglobin darah dapat mengangkut sekitar 60 kali oksigen lebih banyak apabila dibandingkan dengan air pada saat dalam kondisi dan jumlah yang sama. Hemoglobin dapat bergabung dengan oksigen udara yang terdapat dalam paru-paru karena mempunyai daya afinitas yang tinggi, sehingga terbentuklah oksihemoglobin yang kemudian oksigen tersebut dilepaskan ke sel-sel jaringan tubuh. Kadar hemoglobin diukur dalam gram per 100 ml darah atau dalam gram persen.
Darah merupakan cairan tubuh yang mempunyai fungsi sangat penting, terutama pada hewan dan manusia, salah satunya karena selain sebagai pengangkut hormon, pengedar panas dalam tubuh serta sebagai antibody, darah juga merupakan zat antara (medium tranport) yang membawa zat-zat makanan ke berbagai bagian tubuh kemudian membuang sisa-sisa hasil metabolisme.
Darah mempunyai tingkat keasaman atau kebasaan tertentu. Keadaan pH darah pada tiap-tiap makhluk hidup berbeda-beda. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu faktor intrinsik yang terdiri atas volume darah dan jenis kelamin. Selain itu juga dapat disebabkan karena faktor ekstrinsik yang berupa status gizi yang diberikan dan pengaruh lingkungan.

BAB II
TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan praktikum kadar hemoglobin ini adalah agar dapat mengukur kadar hemoglobin Selain itu diharapkan praktikan dapat menggunakan alat untuk percobaan ini dan mampu mengintrepretasikan data yang diperoleh. Sedangkan tujuan dari pengukuran tingkat keasaman darah (pH) yaitu agar praktikan dapat mengetahui prinsip dan cara pengukuran pH.darah serta membandingkan pH darah dari hewan pada kondisi tertentu.
Manfaat praktikum mengukur kadar hemoglobin adalah agar dapat mengetahui kondisi tubuh ternak secara fisik melalui pengukuran kadar hemoglobin. Selain itu dapat menambah wawasan mengenai pengertian dan fungsi dari hemoglobin. Sedangkan manfaat.

























BAB III
Tinjauan Pustaka
Bentuk sel darah berasal dari sel induk (Stem Cells) dalam sumsum tulang belakang serta memasuki aliran darah guna memenuhi kebutuhan terrentu pada hewan. Pigmen merah pembawa oksigen didalam eritrosit merupakan hemoglobin. Hemoglobin suatu molekul globulin dibentuk menjadi 4 sub unit. Pada tiap sub unit mnegandung suatu gugusan  heme yang dikonjungsi kesuatu peptida. Heme adalah suatu turunan porifirin (merah) yang mengandung besi dan globin yang merupakan protein globular yang terdiri dari 4 rantai asam amino. Fungsi hemoglobin dalam eritrosit sebagai pengangkut gas, baik oksigen maupun karbondioksida. Hemoglobin darah dapat mengangkut sekitar 60 kali oksigen lebih banyak apabila dibandingkan dengan air pada saat dalam kondisi dan jumlah yang sama. Hemoglobin dapat bergabung dengan oksigen udara yang terdapat dalam paru-paru karena mempunyai daya afinitas yang tinggi, sehingga terbentuklah oksihemoglobin yang kemudian oksigen tersebut dilepaskan ke sel-sel jaringan tubuh. Kadar hemoglobin diukur dalam gram per 100 ml darah atau dalam gram persen (Poejiadi, 1994).
   Eritrosit merupakan sarana transportasi gas oksigen dan karbondioksida. Hal ini disebabkan karena eritrosit memiliki pigmen hemoglobin. Hemoglobin mampu mengikat O2 dan CO2 (Praseno et al, 2003).  Hemoglobin merupakan zat padat dalam eritrosit yang menyebabkan warna merah. Dibandingkan dengan sel-sel lain dalam jaringan, eritrosit kurang mengandung air. Tekanan osmosis dalam sel sama dengan tekanan osmosis pada plasma. Bila terjadi perubahan tekanan osmosis pada larutan di luar sel darah merah akan berpengaruh terhadap besar sel. Larutan yang hipotonik menyebabkan air masuk ke dalam sel dan sel akn bertambah besar kemudian pecah dan hemoglobin akan keluar dari sel. Proses ini disebut hemolisis. Proses ini dapat disebabkan oleh faktor lain seperti adanya pelarut lemak misalnya eter dan kloroform (Poejiadi, 1994).
Sel darah merah mengandung sekitar 35% berat hemoglobin. Hemoglobin ini mengandung dua rantai α dan dua rantai β serta empat gugus heme, yang masing-masing berikatan dengan rantai polipeptida. Masing-masing gugus heme dapat mengikat 1 molekul oksigen karena sejumalh besar hemoglobin yang terdapat  dalam sel darah merah, 100 ml darah mamalia, jika dioksigenasi penuh, dapat membawa 21 gas O2. jumlah O2 yang diikat oleh hemoglobin bergantung kepada empat faktor: (1) tekanan parsial (2) pH  (3) konsentrasi 2,3-difosfogliserat (DPG) dan (4) konsentrasi CO2 (Lehninger, 1995).
Pada paru-paru dimana tekanan parsial oksigen tinggi (90-100 mmHg) dan pH dan juga pH relatif tinggi (25-40 mmHg) dan pH juga relatif rendah (7,2-7,3), terjadi pembebasan oksigen yang terikat ke dalam massa jaringan yang melakukan respirasi. Vena darah yang meninggalkan jaringan, mengandung hemoglobin yang tingkat kejenuhannya 65%. Oleh karena itu, hemoglobin berdaur diantara kejenuhan oleh oksigen 65% dan 975, dalam sirkuit berulang diantara paru-paru dan jaringan perifer (Lehninger, 1994).
            Suatu pengatur derajat hemoglobin yang penting adalah 2,3-difosfogliserat (DPG). Konsentrasi DPG yang tinggi di dalam sel menyebabkan afinitas hemoglobin terhadap oksigen yang lebih rendah. Jika pengiriman oksigen ke jaringan sangat terbatas seperti pada orang yang mengalami defisiensi sel darah merah atau orang yang hidup di dataran tinggi, konsentrasi DPG di dalam sel menjadi lebih tinggi daripada individu normal yang hidup normal di daerah permukaan laut. Hal ini menyebabkan hemoglobin membebaskan oksigen yang diikatnya segera ke dalam jaringan untuk mengimbangi penurunan oksigenasi hemoglobin di dalam paru-paru (Praseno et al, 2003).
Hemoglobin berfungsi sebagai pengangkut gas baik oksigen (O2) maupun karbondioksida (CO2). Selanjutnya melepaskan oksigen tersebut ke sel-sel jaringan yang terdapat didalam tubuh. Proses ini disebut oksigenasi, yang membutuhkan besi dalam bentuk ferro dalam molekul hemoglobin. Zat gizi tersebut menuju sumsum tulang sehingga menjadi bagian dari molekul heme guna membentuk eritrosit (Frandson, 1992).
Kadar hemoglobin pada umumnya diukur dalam gram per 100 ml darah. Karena adanya hemoglobin, darah dapat mengangkut sekitar 60 kali oksigen lebih banyak apabila dibandingkan dengan air dalam jumlah dan kondisi yang sama (Smith, 1988).
pH darah menggambarkan konsentrasi ion hidrogen, yang menentukan keasaman atau kebasaan relatif dari larutan. Dalam air destilasi, ion hidrogen (H+) (yang bersifat asam) setara dengan ion hidroksil (OH-) (yang bersifat basa atau alkalis); pH-nya 7, yang menggambarkan keadaan netral, tidak bersifat asam dan tidak pula bersifat basa. Larutan dengan pH antar 1 sampai 7 adalah larutan asam; semakin kecil angka itu, semakin asamlah sifatnya. pH untuk larutan basa berkisar dai 7 sampai 14; semakin besar angkanya, semakin basalah larutan itu. Dalam keadaan normal pH terletak di antara 7,35 dan 7,45, sedikit berada di daerah yang basanya netral. pH darah dipertahankan di dalam suatu batas-batas yang relatif sempit oleh adanya bufer kimia, terutama natrium bikarbonat. Bufer bereaksi dengan asam kuat atau basa kuat hingga menghasilkan garam netral dan asam atau basa lemah. Suatu contoh adalah natrium bikarbonat atau system asam karbonat:
            HCl  +  NaHCO3   →   NaCl  +  H2CO3
                NaOH  +  H2CO3   →   NaHCO+  H2O
                         H2CO3      ↔      CO2  +  H2O   
Kemampuan untuk menetralkan asam ini didapatkan dari metabolisme yang mengarah ke istilah cadangan alakali sebagai sinonim bikarbonat yang tersedia di dalam darah. Karbon dioksida yang dihasilkan dikeluarkan dari darah melalui paru. Hiperventilasi dengan cara membuang banyak karbon dioksida, dapat menyebabkan timbulnya alkalosis sementara di dalam darah. Dalam beberapa keadaan dan penyakit, cadangan alkali menurun demikian rupa sehingga menimbulkan keadaan asam dalam darah (asidosis) yang ditimbulkan oleh karena banyaknya CO2 (Frandson, 1992).





BAB IV
METODOLOGI PRAKTIKUM
Praktikum Dasar Fisiologi Ternak tentang penentuan kadar Hb dan tingkat keasaman darah dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 27 Mei 2008 pada pukul 07.00 - 09.00 WIB di Laboratorium Struktur dan Fungsi Hewan, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Diponegoro Semarang.

4.1. Materi
4.1.1. Penentuaan kadar Hemoglobin

Materi yang digunakan dalam praktikum penentuan kadar hemoglobin adalah darah ayam, kemikalia terdiri dari alkohol 70%, HCL 0,1% dan aquades. Alat yang digunakan adalah hemometer Sahli, satu set hemometer sahli terdiri atas pipet leukosit 20 mm, Blok komparator, dan tabung pengukur hemoglobin; disposable lancet atau jarum suntik.

4.1.2. Penentuaan pH darah

Materi yang digunakan dalam praktikum penentuan pH darah adalah darah ayam  dan alat yang digunakan adalah pH indikator.

4.2. Metode

4.2.1. Penentuan Kadar Hemoglobin

Penentuan kadar hemoglobin dilakukan dengan cara mengisikan HCL 0,1 N terlebih dahulu ke dalam tabung hemoglobin sampai skala 2. Kemudian mengisap darah tetesan yang telah disiapkan dengan pipet Hb sampai skala 20. Menghapus darah yang terdapat di ujung pipet dan dengan cepat menghembuskan darah ke dalam tabung hemometer. Mengusahakan semua darah dalam pipet masuk ke semua tabung. Kemuadian mendiamkan selama 1 menit. Lalu mengencerkan dengan aquadest setetes demi setetes sambil menyesuaikan dengan warna larutan standar yang terdapat dalam blok komparator. Menghentikan pengenceran apabila warna larutan darah telah sama dengan warna larutan standar. Menghitung kadar hemoglobin darah dengan cara membaca tinggi dan angka larutan darah pada tabung hemometer.

4.2.2. Penentuan pH darah

Penentuan pH darah dilakukan dengan cara mencelupkan pH indikator kedalam sample darah selama 5 menit, kemudian mengangkat dan mengering anginkan. Membandingkan dengan warna standar, membaca angka pH yang didapat. Membuat bahasan dari hasil pengukuran pH tersebut.






















BAB V
HASIL PERCOBAAN
5.1. Pengukuran Kadar Hb
Hasil percobaan praktikum penetuan kadar hemoglobin darah dengan menggunakan darah ayam diperoleh kadar hemoglobin pada ayam adalah sebesar 11 gram %. Dengan HCl 0,1 N dan Hb dengan skala 20.

5.2. Pengukuran pH darah
Hasil percobaan prktikum penentuan pH darah dengan menggunakan serum darah, diperoleh warna pH indikator yang telah dimasukkan ke dalam serum darah setelah dibandingkan dengan warna standart didapatkan warna yang sesuai dengan warna dari pH netral. Dari hasil pengamatan diperoleh pH darah 7,0 (netral).























BAB VI
PEMBAHASAN
6.1. Pengukuran Kadar Hb
Menurut Frandson (1996) hemoglobin pada ayam adalah sebesar 8-13 gr/ml. hal ini menunjukkan bahwa kadar hemoglobin pada ayam broiler tersebut adalah normal. Kadar hemoglobin senantiasa meningkat searah dengan laju pertumbuhannya. Kadar hemoglobin antara ayam jantan dan ayam betina tidak begitu berbeda. Semua ini disebabkan faktor lingkungan, kesehatan dari ternak tersebut, dan makanan yang dikonsumsi sangat mendukung untuk kemajuan kadar hemoglobin dalam darah. Hal ini juga dapat disebabkan karena adanya homokonsentrasi. Homokonsentrasi merupakan rasio sel-sel darah merah terhadap cairan berada diatas normal. Adanya faktor ektrinsik yang dapat menyebabkan penyimpangan fungsi hemoglobin dalam eritrosit juga dapat dicegah, misalnya dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi dan protein sebagai bahan pembentuk bahan eritrosit.
            Sedangkan berdasarkan pendapat Coles (1974) bahwa kadar hemoglobin dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah umur, spesies, jenis kelamin, serta kualitas dan kuantitas pakan. Semakin berkualitas pakan yang diberikan, nutrisi yang dapat digunakan pun tercukupi sehingga darah mengandung kadar hemoglobin standard. Demikian pula dengan pemenuhan pakan secara kuantitas dan dapat diartikan pula kontinuitas pemberian pakan, akan nutrisi sehingga kadar hemoglobin juga akan stabil.
Dalam darah ayam berisi sekitar 2,5 sampai 3,5 juta / mm3 sel darah merah tergantung pada umur dan jenis kelamin. Darah pejantan dewasa memiliki 500.000 sel darah merah lebih banyak dibandingkan ayam betina. Kadar haemoglobin antara ayam jantan dan ayam betina tidak terlalu jauh berbeda selama belum mencapai dewasa kelamin (Akosa, 1993).

6.2. Pengukuran pH darah
Tingkat keasaman pada darah menggambarkan konsentrasi ion hidrogen, yang menentukan keasaman atau kebasaan relative dari larutan. Dalam air destilasi, ion hydrogen (H+) yang bersifat asam  setara dengan ion hidroksil (H-) yang bersifat basa atau alkalis, pH-nya 7, yang menggambarkan keadaan netral, tidak bersifat asam dan tidak pula bersifat basa. Larutan dengan pH antara 1 sampai 7 adalah larutan asam, semakin kecil angka itu semakin asamlah sifatnya, pH untuk larutan basa berkisar dari 7 sampai 14, makin besar angkanya semakin basalah larutan itu ( Frandson, 1993 ).
Dengan melihat hasil percobaan yaitu pH serum darahnya 7,0 (netral), menunjukkan bahwa keadaan hemoglobin pada ayam tersebut adalah normal. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1992) yang menyatakan bahwa kadar hemoglobin pada ternak bervariasi. Sedangkan khusus pada ayam berkisar antara 8,6 g/dl sampai 13 g/dl.
























BAB VII
KESIMPULAN
Kadar hemoglobin yang diperoleh dari darah ayam yang diambil adalah 11 gr %. Angka kadar tersebut termasuk kategori normal (masih berada pada batas standar rata-rata) pada kadar hemoglobin antara 8-13 gr/ml. Sedangkan pH dalam darah ayam juga didapat hasil normal (netral) yaitu 7, karena kadar pH darah standart sebesar 7 – 14.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar haemoglobin dalam darah diantaranya yaitu umur, spesies, jenis kelamin, serta kualitas dan kuantitas pakan. Semakin berkualitas pakan yang diberikan, semakin baik pula kadar hemoglobin yang ditunjukkan.
























DAFTAR PUSTAKA
Akosa, Budi Tri. 1993. Manual Kesehatan Unggas. Kanisius. Yogyakarta.
Coles, E.H. 1974. Veterian Clinical Pathologi 2nd Edition W. B. Sounders Co. Philadelphia.

Frandson, R. D. 1992. Anatomi dan Fisiologi ternak. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Frandson, R.D. 1996 Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

Lehninger. 1994. Dasar-dasar Biokimia Jilid 1. Erlangga. Jakarta.
Lehninger. 1995. Dasar-dasar Biokimia Jilid 3. Erlangga. Jakarta.
Poedjiadi, Anna. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Universitas Indonesia Press.             Jakarta.

Praseno, K., Isroli, dan Bambang S. 2003. Fisiologi Ternak. Fakultas Peternakan    Universitas Diponegoro. Semarang.

Smith,1988 . Pemeliharaan, Pembiakan, dan Penggunaan  Hewan Percobaan di   Daerah Tropis . Universitas Indonesia: Jakarta.
Poskan Komentar
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...