Photobucket
Tampilkan postingan dengan label makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label makalah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Desember 2012

PENGARUH CEKAMAN PANAS TERHADAP PRODUKTIVITAS UNGGAS


BAB I
PENDAHULUAN
Unggas termasuk golongan hewan berdarah panas (endotermik/homeotermik) yang suhu tubuhnya diatur dalam suatu batasan yang sesuai. Secara normal, suhu tubuh unggas dewasa berkisar mulai dari 41-42°C dengan variasi sekitar 1,5°C. Unggas dapat berproduksi secara optimum bila faktor-faktor internal dan eksternal berada dalam batasan-batasan normal yang sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Suhu lingkungan merupakan salah satu faktor eksternal yang dapat mempengaruhi produktivitas unggas. Suhu panas pada suatu lingkungan pemeliharaan unggas telah menjadi salah satu perhatian utama karena dapat menyebabkan kerugian ekonomi akibat peningkatan angka kematian ataupun penurunan produktvitas.
Cekaman panas (heat stress) menyebabkan gangguan terhadap pertumbuhan pada unggas. Penurunan pertumbuhan ini terkait dengan penurunan konsumsi pakan dan peningkatan konsumsi air minum selama unggas mengalami cekaman panas.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengaruh suhu terhadap fisiologis unggas
2.1.1. Aktivitas metabolisme
                Suhu lingkungan yang tinggi menyebabkan naiknya suhu tubuh unggas. Peningkatan fungsi organ tubuh dan alat pernafasan merupakan gambaran dari aktifitas metabolisme basal pada suhu lingkungan tinggi menjadi naik. Meningkatnya laju metabolisme basal disebabkan karena bertambahnya penggunaan energi akibat bertambahnya frekuensi pernafasan, kerja jantung serta bertambahnya sirkulasi darah periferi. Melihat hasil tersebut, nampak bahwa pada suhu lingkungan yang tinggi di atas thermoneutral akan mengakibatkan kebutuhan energi lebih tinggi. Namun demikian, dengan adanya heat increament sebagai akibat pencernaan makanan dan metabolisme zat-zat makanan, akan menimbulkan beban panas bagi unggas dan akhirnya aktifitas metabolisme menjadi berkurang. Berkurangnya aktifitas metabolisme karena suhu lingkungan yang tinggi, dapat dilihat manifestasinya berupa menurunnya aktifitas makan dan minum.

2.1.2. Aktivitas hormonal
            Pengaruh cekaman panas terhadap unggas dapat dilihat melalui skema di bawah ini:
            Fase alarm ini ditandai dengan peningkatan tekanan darah, kandungan glukosa darah, kontraksi otot dan percepatan respirasi . Hormon yang mempunyai peranan pada fase alarm ini adalah hormon adrenalin yang dihasilkan pada ujung syaraf dan hormon norephinephrin yang dihasilkan oleh medulla adrenal. Lebih lanjut dinyatakan bahwa selama fase alarm, hormon yang berasal dari hypothalamus ikut berperan. Hypothalamus mensekresikan Corticotropin Realising Faktor (CRF) ke hipofise anterior. Selanjutnya hipofise anterior mensintesa adrenocorticotropin (ACTH) dan selanjutnya disekresikan keseluruh pembuluh darah. Jaringan kortiko adrenal bertanggung jawab terhadap sintesa ACTH dengan peningkatan dan pelepasan hormon steroid .

2.1.3. Kontrol suhu tubuh
Pada suhu lingkungan di atas thermoneutral, produksi panas meningkat karena unggas tak dapat mengontrol hilangnya panas dengan menguapkan air dari pori-pori keringat, akhirnya cara yang dilakukan ialah melalui pernafasan yang cepat, dangkal atau suara terengah-engah (panting) . Panting tak dapat digunakan sebagai alat mengontrol hilangnya panas untuk waktu tak terbatas, seandainya suhu lingkungan tidak turun atau panas tubuh yang berlebihan tidak dibuang, maka unggas akan mati karena hyperthermy (kelebihan suhu). Suhu tubuh unggas naik dalam lingkungan suhu tinggi. Pada suhu lingkungan 23°C, sekitar 75% dari panas tubuh dikeluarkan dengan cara sensible yaitu melalui kenaikan suhu lingkungan di sekitarnya ; 25% panas tubuh selebihnya dikeluarkan dengan jalan penguapan (insensible) yaitu dengan mengubah air dalam tubuh menjadi uap air . Pada suhu lingkungan 35°C, sekitar 25% panas tubuh dikeluarkan melalui kulit dan 75% melalui penguapan, biasanya unggas terengah-engah sehingga lebih banyak air dapat diuapkan dari permukaan paru-paru.

2.2. Pengaruh cekaman panas terhadap produktivitas ayam broiler dan layer
2.2.1. Ayam broiler
            Penurunan bobot badan ini disebabkan selama mengalami cekaman panas, ayam mengurangi pakan dan meningkatkan konsumsi air minum agar pembentukan panas endoterm tubuhnya dapat berkurang. Di sisi lain, kurangnya asupan pakan ini menyebabkan kebutuhan energi dan zat gizi lainnya untuk pertumbuhan menjadi berkurang. Pada ayam yang dipelihara di luar kandang berpemanas, temperatur dan kelembabannya lebih rendah, sehingga penggunaan energi oleh ayam menjadi efisien, karena tidak ada energi yang dikonsumsi terbuang dalam upaya tubuh melepas panas, seperti megap-megap (panting). Hal ini juga terlihat dari rasio konversi pakan pada perlakuan kontrol (tanpa diberi stres panas). Meskipun secara statistik tidak berpengaruh, tetapi rata-rata RKPnya lebih rendah dari kelompok ayam yang diberi stres panas. Temperatur dan kelembaban yang lebih rendah ini akan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan ransum (nilai FCR yang lebih rendah), karena ayam tidak perlu lagi mengeluarkan energi untuk mengatasi cekaman panas. Tingginya nilai RKP diduga karena debit aliran darah saluran pencernaan pada ayam yang diberi stres panas akan menurun, sedangkan debit aliran darah ke permukaan tubuh seperti alat-alat respirasi bagian atas meningkat dalam usaha untuk melepaskan panas tubuh. Penurunan debit aliran darah ke saluran pencernaan akan menyebabkan penurunan aktivitas enzimatik khususnya proteinase sehingga terjadi penurunan pada nilai cerna asam amino.
Stres panas dapat menyebabkan kehilangan rata-rata bobot badan sebesar 15% jika dibandingkan dengan pertambahan bobot badan ayam pada perlakuan tanpa cekaman panas (yang tidak terkena cekaman panas). Tingkat penurunan bobot badan sebesar 15% tersebut jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan laporan peneliti lainnya. Menurut Kuczynski (2002) bahwa pemeliharaan ayam broiler sampai umur 35 hari pada suhu di atas 31 0C dapat menyebabkan penurunan bobot badan mencapai 25% jika dibadingkan dengan pemeliharaan pada suhu 21,1-22,2 0C. Diduga bahwa salah satu penyebab rendahnya selisih kehilangan BB pada penelitian ini terkait dengan relatif tingginya suhu dan kelembaban di luar kandang berpemanas, yaitu pada kisaran 28-30,7 0C dan 74-77%. Menurut Borges et al. (2004), pada ayam broiler berumur di atas 21 hari, keadaan suhu lingkungan yang optimum untuk pertumbuhan berkisar antara 20-25 0C dengan kelembaban relatif berkisar antara 50-70%.

2.2.2. Ayam layer
            Produksi telur ayam yang dipelihara pada suhu lingkungan tinggi (25-31°C) adalah 25% lebih rendah dibandingkan dengan yang dipelihara pada suhu lingkungan rendah (19-25 °C). Menurut BIRD et al. (2003) suhu lingkungan tinggi dapat menurunkan produksi telur. Pada suhu lingkungan tinggi diperlukan energi lebih banyak untuk pengaturan - suhu tubuh, sehingga mengurangi penyediaan energi untuk produksi telur . Pada suhu lingkungan tinggi konsumsi pakan turun, ini berarti berkurangnya nutrisi dalam tubuh , dan akhirnya menurunkan produksi telur .
            Pada ayam betina dewasa, makanan yang dikonsumsi digunakan untuk kebutuhan hidup pokok dan kebutuhan produksi telur. Dengan terjadinya penurunan konsumsi pakan, maka yang lebih dahulu dipenuhi adalah kebutuhan hidup pokok, sehingga penurunan konsumsi pakan berakibat langsung terhadap penurunan produksi telur. Berikut ini disampaikan data produksi telur ayam buras di daerah bersuhu lingkungan tinggi dan rendah yang diperoleh dari beberapa daerah dengan memperhatikan kesamaan.


BAB III
KESIMPULAN
            Cekaman panas sangat mempengaruhi produktivitas unggas karena pada saat unggas terkena cekaman panas unggas akan berupaya mempertahankan suhu tubuhnya seperti dengan panting, minum yang lebih banyak sehingga mempengaruhi produktivitas unggas baik dalam bobot karkas atau produktivitas telurnya. Penurunan produktivitas unggas terutama disebabkan oleh penurunan konsumsi zat gizi maupun perubahan kondisi fisiologis ayam yang timbul karena pengaruh suhu lingkungan tinggi . Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi penurunan produktivitas adalah penyesuaian tatalaksana pemeliharaan dan manipulasi zat gizi pakan.


DAFTAR PUSTAKA
Aengwanich, W. and O. Chinrasri. 2002. Effect of heat stress on body temperature and hematological parameters in male layers. Thai .J. Physiol. Sci. 15:27-33.

Al-Fataftah, A.R.A. and Z.H.M. Abu-Dieyeh. 2007. Effect of Chronic Heat Stress on Broiler Performance in Jordan. Intern. J. Poult. Sci. 6(1): 64-70.

BIRD, N.A., P. HuNToN, W.D . MORRISON dan L.J. WEBER. 2003. Heat Stress in Caged Layers. Ontario-Ministry -if Agriculture and Food.

Borges, S.A., F.A.V. da Silva, A. Maiorka,D.M. Hooge, and K.R. Cummings. 2004. Effects of diet and cyclic daily heat stress on electrolyte, nitrogen and water intake, excretion and retention by colostomized male broiler chickens. Int. J. Poult. Sci. 3: 313-321.

Cooper, M.A. and K.W. Washburn. 1998. The Relationships of Body Temperature to Weight Gain, Feed Consumption, and Feed Utilization in Broilers under Heat Stress. Poult. Sci. 77:237–242

FULLER, H.L . dan M. RENDON. 1977. Energetic efficiency of different dietary fats for growth of young chicks . Poultry Sci . 56: 549.

GUYTON, A.C . 1983 . Fisiologi Kedokteran. Ed. 5 . CV. EGC. Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta .

Kuczynski, T. 2002. The application of poultry behaviour responses on heat stress to improve heating and ventilation systems efficiency. Electr. J. Pol. Agric. Univ. Vol. 5 and Issue 1.

Mashaly, M.M., G.L. Hendricks, M.A. Kalama, A.E. Gehad, A.O. Abbas, and P.H. Patterson. 2004. Effect of heat stress on production parameters and immune responses of commercial laying hens. Poult. Sci. 83:889-894.
»»  Baca Selengkapnya...

Rabu, 28 November 2012

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Pakan pada Ternak


BAB I
PENDAHULUAN
Proses makan (feeding) adalah aktivitas yang komplek, yang meliputi mencari makanan, mengamati, pergerakan, aktifitas sensorik, memakan dan mencerna. Dalam saluran pencernaan makanan dan zat-zat makanan diserap dan dimetabolismekan. Semua proses ini dapat mempengaruhi konsumsi makanan dalam jangka pendek (short term basis). Namun demikian perlu diperhatikan bahwa, pada ternak dewasa kebutuhan pokoknya (berat tubuhnya) relatif konstan, walaupun makanan tersedia ad libitum. Dengan demikian konsep jangka pendek-jangka panjang dalam mengontrol konsumsi harus diperhatikan. Walaupun sistem kontrol ini sama pada setiap jenis ternak, namun ada perbedaan antar spesies yang tergantung pada pada struktur dan fungsi saluran pencernaannya.
Untuk menghasilkan performan produksi yang tertinggi, ternak memerlukan nutrien. Nutrien ini dibutuhkan untuk hidup pokok (maintenance) dan berbagai produksi (production). Faktor yang harus diperhatikan adalah jumlah makanan yang diberikan, semakin banyak jumlah makanan yang dikonsumsi setiap hari, akan semakin memberikan kesempatan untuk menghasilkan produksi tinggi. Peningkatan produksi yang diperoleh dari konsumsi makanan yang lebih tinggi biasanya berkaitan dengan peningkatan efesiensi proses-proses produksi, sehingga proporsi untuk kebutuhan pokok menurun sedangkan produksi meningkat.



BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Insting/naluri (kebutuhan tubuh)
            Tingkah laku ternak yang kebutuhan pakan sudah terpenuhi tapi ada zat nutrisi yang ia butuhkan tidak terdapat pada pakannya seperti kelinci yang memakan kotoran pertamanya di pagi hari, ayam yang mematuk-matuk kerikil, sapi yang menjilat air seninya sendiri dan lain-lain.

2.2. sensor lapar kenyang
a. kimia (kandungan glukosa dalam darah atau gula darah)
            Hipotalamus mengatur berbagai pengeluaran zat makanan dari makanan dalam saluran pencernaan, penyerapan serta transportasi zat-zat makanan. Berdasarkan teori khemostatik, peningkatan konsentrasi substansi tertentu memberikan signal untuk berhenti makan, sebaliknya jika konsentrasi rendah menyebabkan ternak akan mulai makan. Glukosa merupakan indikator yang menentukan kenyang atau lapar bagi ternak. Jika konsentrasi glukosa darah rendah dan disuntik dengan insulin maka ternak akan merasa lapar. Sebaliknya setelah makan konsentrasi glukosa akan meningkat dan ternak akan berhenti makan.

Mekanisme pengaturan gula darah diilustrasikan pada berikut:


Reseptor glukosa diduga terletak di hipothalamus. Hipotalamus dapat memonitor kadar glukosa baik di pembuluh vena maupun arteri. Penelitian yang lain menunjukan bahwa receptor tersebut saluran pencernaan dan hati. Sebagai bukti bahwa jika glukosa disuntikan di usus atau di sistem portal hepatik menyebabkan menurunan intake pakan yang lebih besar dibandingkan jika disuntikan di sirkulasi periperal. Dugaan lain yang mengatur komunikasi saluran pencernaan dan otak adalah hormon peptida cholecystokinin. Hormon ini dikeluarkan jika asam amino dan asam-asam lemak mencapai duodenum, dan ini merupakan kerja hipothalamus



b. fisik (kapasitas rumen atau lambung ternak)
Interaksi antara efek mekanistis makanan dalam lambung atau rumen (berupa distensi atau penggembungan lambung oleh makanan) dengan efek kimia dari makanan berupa pelepasan hormon-hormon tertentu seperti Kolesistokinin dari usus halus. Sehingga ternak akan merasa kenyang.
           
2.3. Thermostatik
Teori ini berlandasan bahwa ternak akan makan untuk mempertahankan panas dan akan berhenti makan untuk mencegah hyperthermia. Panas yang diproduksi dari hasil pencernaan dan metabolisme makanan adalah merupakan signal dalam pengaturan makan. Thermoreceptor sensitif terhadap perubahan panas yang terjadi di anterior hipothalamus dan juga di periperal kulit. Sebagai bukti, pada daerah panas ternak akan mengurangi makannya untuk menurunkan produksi panasnya.

2.4. palatabilitas, tekstur dan rasa
            Penginderaan penglihatan, penciuman, perabaan dan perasa memiliki peran yang penting dalam menstimulasi selera makan manusia, dan mempengaruhi jumlah makanan yang dicerna. Pada hewan penginderaan memiliki peran yang lebih kecil dari pada manusia. Palatabilitas adalah derajat kesukaan pada makanan tertentu yang terpilih dan dimakan. Pengertian palatabilitas berbeda dengan konsumsi. Palatabilitas melibatkan indera penciuman, perabaan dan perasa. Pada ternak peliharaan memperlihatkan prilaku mengendus (sniffing) makanan.
Kebanyakan hewan memiliki preferensi menyukai makanan tertentu, terutama jika memiliki kesematan memilih. Contohnya, anak babi muda lebih menyukai larutan gula dibandingkan air, sementara unggas tidak bisa membedakan rasa manis, tapi tidak dapat mencerna larutan garam dengan konsentrasi berlebih.



BAB III
KESIMPULAN
            Banyak faktor yang mempengaruhi ternak untuk mengkonsumsi pakan. Kapasitas rumen atau lambung, naluri atau insting ternak yang kekurangan zat nutrisi tertentu, keadaan lingkungan yang menyebakan ternak harus mempertahankan suhu tubuhnya, palatabilitas, tekstur, dan rasa mempengaruhi dorongan ternak untuk mengkonsumsi pakan.




DAFTAR PUSTAKA
http://aminuddin01.wordpress.com/2009/09/24/bagaimana-kita-merasa-lapar-dan-kenyang-mengapa-kita-perlu-merasakan-lapar/
»»  Baca Selengkapnya...

Selasa, 13 November 2012

Makalah Kesehatan Ternak ( Penyakit Pasteurellosis )

BAB I

PENDAHULUAN

Dalam usaha peternakan, penyakit merupakan salah satu resiko yang kadang-kadang harus dihadapi. Oleh karena itu mengenali gejala masing-masing penyakit, mengetahui sumber penyebabnya dan dapat melakukan pencegahan penyakit, merupakan salah satu bekal yang penting bagi suksesnya usaha peternakan. Beberapa serangan penyakit pada ternak masih merupakan momok menakutkan bagi para perternak. Hal ini karena serangan penyakit yang sangat parah (outbreaks) sangat merugikan peternak. Tidak jarang, peternak yang gulung tikar akibat peternakannya diserang penyakit. Penyakit pada ternak bisa disebabkan oleh agen infeksius maupun non infeksius. Beberapa penyebab penyakit yang bersifat non infeksius adalah penurunan respon immun, nutrisi, cacat genetik, trauma/perlukaan ataupun keracunan. Sedangkan penyebab penyakit infeksius bisa disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, parasit dan jamur. Penyakit Pasteurellosis adalah salah satu dari sekian banyak penyakit yang disebabkan oleh bakteri. 

BAB II

PEMBAHASAN


Pasteurellosis adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri Pasteurella yang merupakan bakteri anaerobik fakultatif (bakteri yang mampu bertahan hidup tanpa oksigen dan tetap berfungsi diberbagai kondisi). Pasteurella termasuk ke dalam Ordo Pasteurellales yang Familinya adalah Pasteurellaceae. Ada 4 spesies lagi dari genus Pasteurella ini, diantaranya adalah Pasteurella multocida, Pasteurella haemolitica, Pasteurella pneumotropca sama Pasteurella ureae. Pasteurella Multocida dan Mannheimia Haemolytica (Pasteurella Haemolitica) adalah dua spesies Pasteurella yang sering dituding terlibat dalam berbagai penyakit Pasteurellosis baik secara bersama sama maupun sendiri sendiri. Kebanyakan penyakit ini disebarkan oleh anjing dan kucing. Tidak menutup kemungkinan kambing, kuda, biri-biri, tikus, hamster, babi, serigala dan jenis-jenis unggas pun juga bisa menularkan penyakit ini. 


Bakteri ini punya suatu kapsul yang terdiri dari 5 kapsul + 16 serotipe. Kapsul itu antara lain adalah "A, B, D, E dan F" dengan komposisi kapsul terbanyak menimbulkan Pasteurellosis 5A, 8A dan 9A. Kapsul nantinya berfungsi sebagai tameng bakteri sewaktu ada sel fagositosis yang nyerang. Di Pasteurella multocida terdapat kapsul B dan E bisa menyebabkan septikemia hemoragik di berbagai hewan mamalia. Pada sapi sendiri yang mengalami penyakit ini banyak ditemukan serotype 6B dan 6E. Infeksi Pasteurellosis pada ternak domba bisa terjadi setiap saat sepanjang tahun, namun yang terjadi terhadap anak domba biasa terjadi pada bulan September hingga November. Walaupun bakteri ini termasuk flora normal di dalam tubuh, tapi bisa berubah jadi penyakit yang cukup ganas juga. Bakteri ini hidup di daerah nasofaring dan gingival termasuk kucing dan anjing. Saat menimbulkan gigitan, bakteri ini bisa saja ikut berpindah ke tubuh manusia.


Penyebaran Pasteurellosis selain masalah gizi buruk juga bisa melalui kontak langsung antara ternak yang terinfeksi dengan ternak sehat, melalui pakan dan minum yang terkontaminasi kotoran dari hidung dan mulut ternak yang terinfeksi dan factor factor predisposisi (kecenderungan dari sesuatu dapat menimbulkan penyakit) seperti; Kandang yang terlalu padat juga ikut mempermudah penyebaran, debu dan polusi yang ditimbulkan oleh asap knalpot kendaraan dapat merusak lapisan didinding trachea (tenggorokan) yang pada giliran akan dijadikan tempat melekatnya bakteri, kotoran ternak yang dibiarkan menumpuk ikut andil dalam memperkaya bakteri dipeternakan, ventilasi didalam kandang yang kurang pengaturannya (musim dingin kedinginan musim panas kepanasan), pasar ternak dimana tempat bergerombolnya ternak dari berbagai tempat, saat ternak berada dalam kendaraan pengangkut dan percampuran ternak dipeternakan penggemukan dimana ternak datang dari berbagai peternakan. Selain itu juga penularan dapat terjadi melalui gigitan hewan terutama kucing. Infeksi juga dapat terjadi melalui inhalasi. Infeksi pada manusia dibagi dalam 3 kelompok:

1. Infeksi setelah gigitan atau cakaran.
2. Infeksi setelah kontak dengan hewan tanpa melalui gigitan atau cakaran.
3. Infeksi tanpa pernah ada kontak dengan hewan.

Gejala umum dari Pasteurellosis yang dialami pada manusia sejauh ini diantaranya adalah:

1. Pembengkakan.
2. Selulitis dan drainase pada daerah yang terluka.
3. Dalam 1 atau 2 jam, terjadi edema, nyeri dan terjadi pula eksudat serosanguineous bersamaan dengan terjadinya inflamasi.
4. Demam tinggi atau sedang yang diikuti dengan mual dan muntah-muntah.
5. Sesak napas
6. Diare
7. Terjadi syok dan koagulopati (pembekuan atau gangguan peredaran darah) nantinya apabila koagulopati ini berlanjut, maka akan mengakibatkan diatesis perdarahan

Komplikasi yang terjadi saat infeksi muncul rata-rata berhubungan dengan gangguan system pernapasan, beberapa diantara komplikasi yang muncul adalah: 

1. Sinusitis
2. Mastitis (radang susu)
Umumnya menyerang ternak yang sedang bunting ditandai oleh pembengkakan berwarna kemerah merahan dan panas. Penyebabnya bakteri Pasteurella Haemolotica. 
3. Empyema
4. Otitis, 
adalah istilah umum untuk peradangan pada telinga
5. Osteitis, 
Yaitu inflamas yang terjadi pada tulang
6. Meningitis, 
radang pada membran pelindung otak dan sumsum tulang belakang.
7. Endokarditis, 
yaitu peradangan pada lapisan dalam dari jantung, yaitu pada endocardum.
8. Septicaemia (keracunan darah)
Umumnya diderita oleh anak domba muda umur 2 bulan, penyebabnya bakteri Pasteurella haemolytica. Tanda tanda klinis dalam bentuk akut berupa kematian mendadak pada domba.
9. Kadang muncul Pneumonia juga walaupun dalam frekuensi yang kecil.
Pneumonia (radang paru paru): umumnya menyerang domba dewasa yang disebabkan oleh infeksi bakteri P Multocida atau P Haemolytica atau oleh keduanya. Tanda tanda klinis seperti depresi, nafsu makan menurun, batuk batuk, gangguan pernafasan, demam tinggi dan dalam tingkatan akut sering menyebabkan kematian mendadak.
10. Diatesis perdarahan (kerentanan yang tidak biasa untuk perdarahan), diantaranya dapat berupa

a. Haemophlia
Yaitu kesulitan darah untuk membeku. Haemophilia sendiri terbagi menjadi 2 bentuk, diataranya adalah Haemophilia A dan Haemophilia B. Hemofilia A (defisiensi faktor pembekuan VIII) adalah bentuk paling umum dari gangguan tersebut, terjadi pada sekitar 1 di 5.000 – 10.000 kelahiran laki-laki dan Hemofilia B (kekurangan faktor IX.) Terjadi di sekitar 1 pada sekitar 20.000 – 34.000 kelahiran laki-laki

b. Leukemia 

c. Anemia atau kekurangan darah

d. Wiskott-Aldrich syndrome (WAS)
yaitu penyakit langka resesif terkait-X ditandai dengan eksim, trombositopenia (jumlah platelet rendah), defisiensi imun, dan diare berdarah (sekunder untuk trombositopenia itu). Hal ini juga kadang-kadang disebut sindrom eksim-trombositopenia-immunodeficiency


Pengendalian agar penyakit ini tidak meluas yaitu dengan cara memisahkan ternak yang terinfeksi dari kawasan ternak yang sehat, melaporkan kedinas peternankan atau kedokter hewan untuk ditindaklanjuti. Pengobatan dengan cara memberikan antibiotika seperti Medoxi-L yang mengandung antibiotika Oxitetracycline dengan dosis 0.5 -2.00 ml. untuk setiap <10 kg. berat badan. 2.00 - 4.00 ml untuk setiap 10 - 50 kg. berat badan. 4.00 - 8.00 ml. untuk setiap > 50 kg. berat badan.


Pengobatan diberikan secara Inframuskuler (disuntikan melalui daging/otot) atau secara Subuktan (disuntikan melalui bawah kulit). Yang perlu diperhatikan dalam pemberian obat yaitu Jangan memberikan melebihi 10 ml. dibagian tubuh yang sama pada ternak besar. Jangan mengkonsumsi susu yang diperah dalam waktu 4 hari setelah penyuntikan. Menghentikan pemberian Medoxi-L 5 hari sebelum ternak disembelih untuk dikonsumsi. Pencegahan terhadap penyakit Pasteurellosis yaitu dengan cara pemberian pakan yang bergizi tinggi, melakukan sanitasi pada lingkungan sekitar serta pemberian vaksinasi secara berkala yang terprogram sesuai ketentuan dari penyuluh peternakan.


BAB III

KESIMPULAN

Pasteurellosis adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri Pasteurella yang merupakan bakteri anaerobik fakultatif (bakteri yang mampu bertahan hidup tanpa oksigen dan tetap berfungsi diberbagai kondisi). Kebanyakan penyakit ini disebarkan oleh anjing dan kucing. Tidak menutup kemungkinan kambing, kuda, biri-biri, tikus, hamster, babi, serigala dan jenis-jenis unggas pun juga bisa menularkan penyakit ini. Penyebaran Pasteurellosis selain masalah gizi buruk juga bisa melalui kontak langsung antara ternak yang terinfeksi dengan ternak sehat, melalui pakan dan minum yang terkontaminasi kotoran dari hidung dan mulut ternak yang terinfeksi dan factor factor predisposisi (kecenderungan dari sesuatu dapat menimbulkan penyakit). Pencegahan terhadap penyakit Pasteurellosis yaitu dengan cara pemberian pakan yang bergizi tinggi, melakukan sanitasi pada lingkungan sekitar serta pemberian vaksinasi secara berkala yang terprogram sesuai ketentuan dari penyuluh peternakan.



DAFTAR PUSTAKA


Anonimus. 2004. Pegangan Peserta Latihan Paravet. Daftar Tindakan Terapi Yang Dapat Dilaksanakan Untuk Menyembuhkan Gejala PenyakitTertentu.

Bina Kesehatan Hewan. 1993. Manajemen Penyakit Hewan, Seri: Pedoman Pengendalian Penyakit Hewan Menular. Jilid 3-4-5. Direktorat Jendral Peternakan, Departemen Pertanian. Jakarta.

Ressang. 1984. Patologi Khusus Veteriner. Edisi kedua. Fakultas Kedokteran Hewan. Institut Pertanian Bogor.

Soepeno, Arimiadi, S., B, Setiadi dan J. Manurung. 1993. Sistem usaha tani ternak di daerah padat penduduk (Jawa Barat). Prosiding pengolahan dan komunikasi hasil-hasil penelitian di Pedesaan Ciawi 27-29 Januari. Balai Penelitian Ternak- PUSLITBANGNAK. 118-127.

Williamson, G. dan W.J.A. Payne. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis. Cetakan Pertama. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
»»  Baca Selengkapnya...

Senin, 01 Oktober 2012

Makalah Pengaruh Lingkungan terhadap Sapi LIMPO


BAB I
PENDAHULUAN
            Peternakan merupakan suatu kegiatan mengembangbiakan dan membudidayakan hewan ternak untuk diambil manfaat dari hasil kegitan. Dalam kegiatan tersebut perternak berupaya mendatang ternak unggul dari negara-negara yang mempunyai ternak domestik unggul yang pertumbuhan dan produksinya bagus, seperti sapi Limousin dari Eropa, sapi Brahman dari india, dan lain-lain. Namun peternak di Indonesia terkendala karena bibit tersebut perlu penyesuaian terhadap iklim dan lingkungan indonesia. Maka dalam hal ini perlu manipulasi agar ternak dapat beradaptasi dengan lingkungan
            Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah agar pembaca dapat mengetahui pengaruh lingkungan terhadap performans sapi LIMPO


BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Sapi LIMPO
            Sapi LIMPO adalah sapi hasil persilangan antara sapi Limousin dan PO (Peranakan Ongole). Limousin adalah sapi dari bangsa Bos Taaurus yang berasal dari daerah sedang (temperate zone), terbiasa hidup di daerah dengan temperatur udara yang dingin dan tatalaksana pemeliharaan yang intensif, serta termasuk dalam ternak besar dimana pertumbuhan secara genetik mempunyai laju yang cepat.  Sapi PO adalah termasuk bangsa Bos Indicus yang berasal dari daerah tropis, terbiasa hidup di daerah dengan temperatur udara yang panas dan tatalaksana pemeliharaan yang ekstensif, serta termasuk sapi tipe kecil sampai sedang sehingga laju pertumbuhannya rendah sampai sedang. Oleh karena itu, LIMPO secara genetik akan mewarisi sifat-sifat kedua tetuanya masing-masing sebesar 50%.
2.2. Pengaruh lingkungan terhadap Sapi LIMPO
            Sapi potong membutuhkan comfort zone (CZ), yaitu temperatur lingkungan yang nyaman dan melancarkan fungsi dalam proses fisiologi ternak yang tertentu. Lebih lanjut dikatakan bahwa CZ untuk sapi dari daerah tropis adalah antara 22–30°C, sedang untuk sapi daerah sedang adalah 13–25°C. Sebagai hasil silangan antara sapi dari daerah sedang dengan sapi daerah tropis, maka diduga CZ untuk sapi SIMPO dan LIMPO adalah 17–28°C, sehingga diperkirakan temperatur udara lingkungan yang panas tersebut akan mempengaruhi performan sapinya.
            Secara genetik sapi silangan lebih peka terhadap peningkatan temperatur udara lingkungan. Hal ini karena sapi silangan mempunyai jumlah kelenjar keringat per luasan kulit yang lebih sedikit, kulit lebih tebal dengan luasan per kg bobot hidup yang lebih kecil, rambut badan lebih panjang dan lebat serta warna tubuh lebih gelap, sehingga kemampuan membuang panas dari tubuh ke lingkungan menjadi lebih terbatas.
            Temperatur udara di daerah  yang lebih sering berada di batas maksimal, bahkan kadang di atas CZ sapi silangan, menyebabkan LIMPO mengalami masalah dengan panas tubuhnya. Sapi harus meningkatkan kemampuan fisiologi dan menurunkan konsumsi pakannya. Sapi yang mengalami cekaman panas lingkungan akan berusaha meningkatkan pengeluaran panas tubuh ke lingkungan sekitar. Atau menurunkan produksi panas tubuh, yaitu antara lain melalui penurunan jumlah konsumsi nutrien sumber energi. Limousin adalah murni sapi tipe pedaging . Sebagai hasil silangan, maka sapi LIMPO mempunyai potensi genetik pertumbuhan yang lebih baik dan daya tahan terhadap temperatur panas yang lebih tinggi pada dataran rendah. Namun untuk memcapai hasil yang maksimal, sapi LIMPO akan lebih cocok pada dataran tinggi dengan udara yang sejuk.


BAB III
KESIMPULAN
             Sapi LIMPO adalah hasil persilangan antara sampi Limousin  dan PO (Peranakan Ongole). Sapi Limousin terbiasa hidup di temperatur dingin dan pertumbuhan cepat sedangkan PO terbiasa hidup pada daerah bertemperatur panas sedangkan pertumbuhannya rendah atau sedang. Sehingga sapi LIMPO mewariskan masing-masing 50% dari sifat induknya. Sapi LIMPO lebih tahan terhadap lingkungan yang udaranya bertemperatur panas. Namun akan lebih maksimal pertumbuhannya jika pada daerah bertemperatur rendah. Sehingga ketika sapi LIMPO dipelihara di dataran rendah tidak terlalu berpengaruh pada pertumbuhan dan produktivitasnya.


DAFTAR PUSTAKA
DIWYANTO, K. 2002. Program Pemuliaan Sapi Potong (Suatu Pemikiran). Pros. Seminar Nasional “Kebijakan Breeding”. Bogor, 30 September–1 Oktober 2002. Puslitbang Peternakan, Bogor.

ESMAY, M.L. dan J.E. DIXON. 1986. Environmental Control for Agricultural Buildings. The AVI Publ. Co. Westport. Conecticut.

WILLIAMSON, G. and W.J.A. PAYNE. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

WEBSTER, C.C. dan P.N. WILSON. 1980. Agriculturein Tropics. The English Language Book Society and Longman Group. London.

YOUSEF, M.K. 1984a. Measurement of heat production and heat loss. In: Stress Physiology in Livestock. Vol. I Basic Principles. YOU SEF, A.K. (Ed.). CRS Press Inc. Boca Raton Florida.
»»  Baca Selengkapnya...

Jumat, 28 September 2012

Makalah (Identitas Nasional (Pengaruh Budaya Populer Korea terhadap Budaya Indonesia))


KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan baik. Identitas nasional merupakan ciri khas dari sebuah negara. Tetapi banyak yang sudah melupakan budaya asli yang mencerminkan ciri khas negaranya. Untuk itu diperlukan solusi akan masalah memudarnya identitas nasional di kalangan masyarakat. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih mempunyai kekurangan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi penyempurnaan makalah ini. Dengan demikian, mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa untuk memahami identitas nasional dan masalah yang terkait dengannya di Negara Indonesia.


Semarang, September 2012

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
Identitas merupakan ciri-ciri khas yang melekat pada sesuatu sehingga menunjukkan keunikannya serta membedakannya dengan yang lain. Nasional berasal dari kata nation yang memiliki arti bangsa, menunjukkan kesatuan komunitas yang memiliki semangat, cita-cita, tujuan serta ideologi bersama. Jadi, yang dimaksud dengan identitas nasional adalah ciri-ciri yang dimiliki oleh suatu bangsa yang membedakannya dengan bangsa lain. Dengan ciri-ciri khas tersebut, suatu bangsa berbeda dengan bangsa lain dalam hidup dan kehidupannya.
Indonesia adalah negara besar dengan pulau terbanyak di dunia (17.504), lebih dari 300 suku bangsa, serta tidak kurang dari 200 bahasa daerah dengan 67 bahasa induk. Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang plural dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika adalah pemersatu bangsa kita.
Dalam penyusunan makalah kami bertujuan agar kita masyarakat Indonesia lebih memahami identitas nasional suatu bangsa.



BAB II
ISI
2.1. Pengertian Identitas Nasional
Identitas merupakan ciri-ciri khas yang melekat pada sesuatu sehingga menunjukkan keunikannya serta membedakannya dengan yang lain. Nasional berasal dari kata nation yang memiliki arti bangsa, menunjukkan kesatuan komunitas yang memiliki semangat, cita-cita, tujuan serta ideologi bersama. Jadi, yang dimaksud dengan identitas nasional adalah ciri-ciri yang dimiliki oleh suatu bangsa yang membedakannya dengan bangsa lain. Dengan ciri-ciri khas tersebut, suatu bangsa berbeda dengan bangsa lain dalam hidup dan kehidupannya.
Menurut terminologi antropologi, identitas adalah sifat khas yang menerangkan dan sesuai dengan kesadaran diri pribadi sendiri, golongan sendiri, kelompok sendiri, komunitas sendiri, atau negara sendiri. Mengacu pada pengertian ini identitas tidak terbatas pada individu semata, tetapi berlaku pula pada suatu kelompok. Adapun kata nasional merupakan identitas yang melekat pada kelompok-kelompok yang lebih besar yang diikat oleh kesamaan-kesamaan, baik fisik, seperti budaya, agama, dan bahasa, maupun nonfisik, seperti keinginan, cita-cita, dan tujuan. Himpunan kelompok-kelompok inilah yang disebut dengan istilah identitas bangsa atau identitas nasional yang pada akhirnya melahirkan tindakan kelompok (colective action) yang diwujudkan dalam bentuk organisasi atau pergerakan-pergerakan yang diberi atribut-atribut nasional. Dapat dikatakan bahwa hakikat Identitas Nasional kita sebagai bangsa di dalam hidup dan kehidupan berbangsa dan bernegara adalah Pancasila yang aktualisasinya tercermin dalam penataan kehidupan dalam arti luas. Misalnya, dalam aturan perundang-undangan atau hukum, sistem pemerintahan yang diharapkan, serta dalam nilai-nilai etik dan moral yang secara normatif diterapkan di dalam pergaulan, baik dalam tataran nasional maupun internasional, dan sebagainya.

2.2 Unsur-unsur Identitas Nasional
Identitas Nasional Indonesia merujuk pada suatu bangsa yang majemuk. Identitas Nasional merupakan gabungan dari unsur-unsur pembentuk identitas, yaitu suku bangsa, agama, kebudayaan,dan bahasa.
1.      Suku Bangsa adalah golongan sosial yang khusus yang bersifat askriptif (ada sejak lahir), yang sama coraknya dengan golongan umur dan jenis kelamin. Di Indonesia terdapat banyak sekali suku bangsa atau kclompok etnis dengan tidak kurang 300 dialek bahasa.
2.      Bangsa Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang agamis. Agama-agama yang tumbuh dan berkembang di Nusantara adalah agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Cu. Agama Kong Hu Cu pada masa Orde Baru tidak diakui sebagai agama resmi negara, tetapi sejak pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, istilah agama resmi negara dihapuskan.
3.      Kebudayaan: adalah pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang isinya adalah perangkat-perangkat atau model-model pengetahuan yang secara kolektif digunakan oleh pendukung-pendukungnya untuk menafsirkan dan memahami lingkungan yang dihadapi dan digunakan sebagai rujukan atau pedoman untuk bertindak (dalam bentuk kelakuan dan benda-benda kebudayaan) sesuai dengan lingkungan yang dihadapi.
Bahasa: merupakan unsur pendukung identitas nasional yang lain. Bahasa dipahami sebagai sistem perlambang yang secara arbitrer dibentuk atas unsur-unsur bunyi ucapan manusia dan yang digunakan sebagai sarana berinteraksi antar manusia.

2.3 Keterkaitan Globalisasi dengan Identitas Nasional
Globalisasi diartikan sebagai suatu era atau zaman yang ditandai dengan perubahan tatanan kehidupan dunia akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi informasi sehingga interaksi manusia menjadi sempit, serta seolah-olah dunia tanpa ruang. Era Globalisasi dapat berpengaruh terhadap nilai-nilai budaya bangsa Indonesia. Era Globalisasi tersebut mau tidak mau, suka tidak suka telah datang dan menggeser nilai-nilai yang telah ada.
Nilai-nilai tersebut, ada yang bersifat positif ada pula yang bersifat negatif. Semua ini merupakan ancaman, tantangan, dan sekaligus sebagai peluang bagi bangsa Indonesia untuk berkreasi dan berinovasi di segala aspek kehidupan. Di era globalisasi, pergaulan antarbangsa semakin ketat. Batas antarnegara hampir tidak ada artinya, batas wilayah tidak lagi menjadi penghalang. Di dalam pergaulan antarbangsa yang semakin kental itu, akan terjadi proses akulturasi, saling meniru, dan saling mempengaruhi di antara budaya masing-masing.

2.4 Pengaruh Budaya Pop Korea Terhadap Budaya Indonesia

Berkembangnya budaya pop Korea (Hallyu) di negara-negara Asia Timur dan beberapa negara Asia Tenggara termasuk Indonesia menunjukkan adanya transformasi budaya asing ke negara lain. Berkembangnya budaya pop Korea di Indonesia dibuktikan dengan munculnya “Asian Fans Club” (AFC) yaitu blog Indonesia yang berisi tentang berita dunia hiburan Korea.
Dalam konsepsi budaya, budaya populer yang dibawa Korea berada dalam dimensi konkret yang terwujud dalam artifak-artifak budaya seperti lagu, drama, film, musik, program televisi, makanan, dan bahasa. Sedangkan dimensi abstrak yang berupa nilai, norma, kepercayaan, tradisi, makna, terkandung secara tidak langsung dalam artifak budaya tersebut. Berkaitan dengan Asian Fans Club, budaya pop Korea yang diterima kelompok penggemar di Indonesia masih terbatas pada dimensi konkret, yaitu penerimaan terhadap musik, film, drama, dan artis-artis Korea.
Dengan demikian, berkembangnya budaya pop Korea (Korean Wave) di Indonesia merupakan perwujudan globalisasi dalam dimensi komunikasi dan budaya. Globalisasi dalam dimensi ini terjadi karena adanya proses mengkreasikan, menggandakan, menekankan, dan mengintensifikasi pertukaran serta kebergantungan informasi dalam dunia hiburan, dalam hal ini adalah dunia hiburan Korea. Kebergantungan ini masih dalam dimensi konkrit. Meskipun demikian, jika korean wave ini tidak disertai dengan apresiasi terhadap kebudayaan nasional, maka dikhawatirkan ekstensi kebudayaan nasional bergeser nilainya menjadi budaya marginal (pinggiran). Apalagi prosentase terbesar penerima korean wave di Indonesia adalah remaja. Padahal, remaja merupakan tonggak pembangunan nasional. Jika remaja sekarang sudah tidak mengenal kebudayaannya sendiri, maka kebudayaan nasional dapat mengalami kepunahan dan berganti dengan kebudayaan baru yang tidak sepenuhnya sesuai dengan kepribadian nenek moyang negara kita.
Maka perlu suatu aktualisasi budaya Indonesia. Hal ini bertujuan untuk mengantisipasi dampak negatif yang muncul akibat dari korean wave agar kebudayaan asli Indonesia masih memiliki nilai budaya yang tinggi di mata masyarakat Indonesia.

Analisis kasus :
Pengaruh budaya yang sedang dialami masyarakat indonesia akibat masuknya budaya luar, khususnya budaya korea yang masuk ke negara kita melalui musik dan drama film korea, mengakibatkan masyarakat indonesia mulai terpengaruh dan meniru gaya, nilai-nilai, serta norma yang terdapat di dalam budaya korea tersebut. Budaya korea yang masuk ke Indonesia mengakibatkan budaya dalam negeri menjadi luntur dan mulai terlupakan, sehingga lama-kelaman budaya kita akan menjadi budaya pinggiran (sampingan). Apabila hal ini tidak segera di tindak lanjuti oleh pemerintah akan  mengakibatkan lunturnya identitas nasional negara kita.



Menurut Analisis kami, faktor – faktor penyebab budaya asing masuk ke Indonesia :
Kurangnya Penjagaan yang ketat di wilayah gerbang Indonesia, dalam gerbang wilayah Indonesia, sepertinya kurang adanya badan seleksi khusus yang bisa menyeleksi budaya-budaya asing negatif yang masuk ke Indonesia. Seperti masih banyaknya gambar serta video porno yang didatangkan dari luar.
Lifestyle, saat ini banyak masyarakat Indonesia yang meniru gaya hidup atau lifestyle orang-orang bule atau lebih berkiblat kebarat-baratan, yakni melakukan sex bebas, berpakaian mini, gaya hidup bebas tanpa ikatan atau biasa sering kita sebut dengan kumpul kebo. Istilah ini digunakan kepada pasangan yang bukan muhrimnya tetapi tinggal seatap tetapi tidak ada tali pernikahan. Di Indonesia gaya hidup ini tidak dibenarkan karena menyalahi beberapa norma yakni norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan. Sanksi yang diberikan bagi yang melanggar juga cukup berat terutama pada lingkungan sekitarnya. Orang-orang yang melakukan “kumpul kebo” atau tinggal serumah tanpa ikatan pernikahan ini akan dipandang kurang pantas oleh warga sekitar. Sanksi yang diberikan masyarakat tidak berat tetapi cukup menyakitkan karena bisa-bisa akan mengucilkan orang yang melakukan kegiatan ini.
Tekhologi, seperti sempat kita bahas diatas bahwa pemanfaatan tekhnologi yang salah dapat mempermudah arus budaya asinya negatif yang masuk. Seperti Internet sekarang ini internet banyak disalahgunakan untuk hal-hal negatif, seperti pengaruh budaya asing mempengaruhi budaya Indonesia, adanya kesempatan melakukan hal penipuan, dll.

·         Cara Mengantisipasi Budaya Asing Negatif  Yang Masuk Ke Indonesia
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki martabat serta harga diri bangsa yang tinggi sehingga jangan sampai bangsa ini rusak hanya karena pengaruh-pengaruh negatif dari pihak asing yang ingin menghancurkan mental generasi penerus bangsa kita. Ada beberapa tindakan antisipasi yang perlu dilakukan oleh generasi muda terhadap pengaruh asing yang sifatnya negatif diantaranya :
Bersikap kritis dan teliti, sebagai penerus bangsa,kita harus bersikap kritis dan teliti terhadap hal-hal yang baru didatangkan dari luar, bagaimana kita bisa memfilter apakah hal ini bisa membawa dampak baik atau buruk bagi kita. Bersikaplah kritis terhadap sesuatu yang baru, banyak bertanya pada orang-orang yang berkompeten dibidangnya dan teliti apakah inovasi tersebut bisa sesuai dengan iklim indonesia dan pastikan tidak melanggar norma-norma yang berlaku di Indonesia.
Perluas ilmu pengetahuan (IPTEK), sebelum budaya asing itu masuk sebaiknya kita telah mengetahui apa inovasi- inovasi yang masuk itu secara jelas dan rinci. Kita bisa mengetahui keguanaan hal itu secara keilmuannya, seperti situs jaringan facebook. Facebook saat ini sedang menjamur dikalangan masyarakat, dari berbagai usia semua menggunakan situs ini untuk menjalin tali silaturahmi yang telah lama terputus. Tetapi ada beberapa orang yang menyalahgunakan facebook sebagai ajang caci maki dan hina dina. Jika kita mengetahui fungsi awal facebook itu sendiri adalah untuk menjalin tali silaturahmi, kita tidak akan menyalahgunakan situs ini untuk berbuat yang tidak-tidak. Sehingga kita harus mengetahui terlebih dahulu fungsinya.
Tanamkan “Aku Cinta Indonesia”, maksud dari simbol ini adalah bahwa adat istiadat yang ditularkan oleh nenek moyang kita adalah benar adanya dan dapat membawa manfaat yang baik bagi diri kita sendiri untuk masa kini dan kedepannya. Sehingga kita tidak mudah terbawa arus budaya asing yang membawa kita kepada dampak yang negatif.
Meningkatkan Keimanan dan ketakwaan, seperti telah kita bahas bahwa agama merupakan pondasi utama dalam diri yang bisa mengontrol diri kita kepada hawa napsu yang akan mengganggu kita kedalam jurang kenistaan. Agama sangat penting bagi kelangsungan umatnya. Apabila sesorang sudah terbawa kedalam kesesatan, agamalah yang menjadi penolong umatnya agar berubah kembali menjadi lebih baik.
Tindak lanjut dari pemerintah, pemerintah sebagai tonggak utama dari sebuah negara maka pemerintah harus segera di tindak lanjuti oleh pemerintah akan  mengakibatkan lunturnya identitas nasional negara kita, sehingga dari sekarang perlu dilakukan sosialisasi berupa aktualisasi budaya Indonesia kepada para masyarakat indonesia kususnya kepada remaja-remaja supaya tidak terlalu terpengaruh dan meniru budaya asing yang mulai masuk ke negara kita, serta menanamkan sikap untuk tetap menjaga dan melestarikan budaya dalam negri sendiri, dengan itu budaya dalam negeri akan tetap lestari. Karena budaya merupakan  unsur dari identitas nasional suatu bangsa.  




BAB III
KESIMPULAN
Identitas nasional adalah ciri-ciri khas yang melekat pada suatu bangsa yang membedakan suatu bangsa dengan bangsa lainnya. Budaya merupakan salah satu unsur dari identitas nasional. Masuknya budaya Korea  melalui dunia hiburan menyebabkan budaya indonesia menjadi budaya pinggiran (sampingan). Sehingga perlu penanganan terhadap masalah ini contohnya dengan aktualisasi terhadap budaya Indonesia sendiri sehingga menjadi lebih menarik terutama bagi remaja yang merupakan tonggak pembanguna nasional.




DAFTAR PUSTAKA
Azra, Azyumardi. “Rejuvenasi Pancasila di Tengah Arus Globalisasi”. Dalam Tri Sutrisno, 2006. Jakarta:Yayasan Taman Pustaka.

Sugiato. 1991. Indentitas dan Hakikat Bangsa kita, Jakarta.
Smith, Anthony D, 2003, NaSionalisme,Teori Ideologi,Sejarah, Jakarta: Penerbit Erlangga.
»»  Baca Selengkapnya...
Photobucket
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...