Photobucket
Tampilkan postingan dengan label Biologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biologi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 November 2012

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Pakan pada Ternak


BAB I
PENDAHULUAN
Proses makan (feeding) adalah aktivitas yang komplek, yang meliputi mencari makanan, mengamati, pergerakan, aktifitas sensorik, memakan dan mencerna. Dalam saluran pencernaan makanan dan zat-zat makanan diserap dan dimetabolismekan. Semua proses ini dapat mempengaruhi konsumsi makanan dalam jangka pendek (short term basis). Namun demikian perlu diperhatikan bahwa, pada ternak dewasa kebutuhan pokoknya (berat tubuhnya) relatif konstan, walaupun makanan tersedia ad libitum. Dengan demikian konsep jangka pendek-jangka panjang dalam mengontrol konsumsi harus diperhatikan. Walaupun sistem kontrol ini sama pada setiap jenis ternak, namun ada perbedaan antar spesies yang tergantung pada pada struktur dan fungsi saluran pencernaannya.
Untuk menghasilkan performan produksi yang tertinggi, ternak memerlukan nutrien. Nutrien ini dibutuhkan untuk hidup pokok (maintenance) dan berbagai produksi (production). Faktor yang harus diperhatikan adalah jumlah makanan yang diberikan, semakin banyak jumlah makanan yang dikonsumsi setiap hari, akan semakin memberikan kesempatan untuk menghasilkan produksi tinggi. Peningkatan produksi yang diperoleh dari konsumsi makanan yang lebih tinggi biasanya berkaitan dengan peningkatan efesiensi proses-proses produksi, sehingga proporsi untuk kebutuhan pokok menurun sedangkan produksi meningkat.



BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Insting/naluri (kebutuhan tubuh)
            Tingkah laku ternak yang kebutuhan pakan sudah terpenuhi tapi ada zat nutrisi yang ia butuhkan tidak terdapat pada pakannya seperti kelinci yang memakan kotoran pertamanya di pagi hari, ayam yang mematuk-matuk kerikil, sapi yang menjilat air seninya sendiri dan lain-lain.

2.2. sensor lapar kenyang
a. kimia (kandungan glukosa dalam darah atau gula darah)
            Hipotalamus mengatur berbagai pengeluaran zat makanan dari makanan dalam saluran pencernaan, penyerapan serta transportasi zat-zat makanan. Berdasarkan teori khemostatik, peningkatan konsentrasi substansi tertentu memberikan signal untuk berhenti makan, sebaliknya jika konsentrasi rendah menyebabkan ternak akan mulai makan. Glukosa merupakan indikator yang menentukan kenyang atau lapar bagi ternak. Jika konsentrasi glukosa darah rendah dan disuntik dengan insulin maka ternak akan merasa lapar. Sebaliknya setelah makan konsentrasi glukosa akan meningkat dan ternak akan berhenti makan.

Mekanisme pengaturan gula darah diilustrasikan pada berikut:


Reseptor glukosa diduga terletak di hipothalamus. Hipotalamus dapat memonitor kadar glukosa baik di pembuluh vena maupun arteri. Penelitian yang lain menunjukan bahwa receptor tersebut saluran pencernaan dan hati. Sebagai bukti bahwa jika glukosa disuntikan di usus atau di sistem portal hepatik menyebabkan menurunan intake pakan yang lebih besar dibandingkan jika disuntikan di sirkulasi periperal. Dugaan lain yang mengatur komunikasi saluran pencernaan dan otak adalah hormon peptida cholecystokinin. Hormon ini dikeluarkan jika asam amino dan asam-asam lemak mencapai duodenum, dan ini merupakan kerja hipothalamus



b. fisik (kapasitas rumen atau lambung ternak)
Interaksi antara efek mekanistis makanan dalam lambung atau rumen (berupa distensi atau penggembungan lambung oleh makanan) dengan efek kimia dari makanan berupa pelepasan hormon-hormon tertentu seperti Kolesistokinin dari usus halus. Sehingga ternak akan merasa kenyang.
           
2.3. Thermostatik
Teori ini berlandasan bahwa ternak akan makan untuk mempertahankan panas dan akan berhenti makan untuk mencegah hyperthermia. Panas yang diproduksi dari hasil pencernaan dan metabolisme makanan adalah merupakan signal dalam pengaturan makan. Thermoreceptor sensitif terhadap perubahan panas yang terjadi di anterior hipothalamus dan juga di periperal kulit. Sebagai bukti, pada daerah panas ternak akan mengurangi makannya untuk menurunkan produksi panasnya.

2.4. palatabilitas, tekstur dan rasa
            Penginderaan penglihatan, penciuman, perabaan dan perasa memiliki peran yang penting dalam menstimulasi selera makan manusia, dan mempengaruhi jumlah makanan yang dicerna. Pada hewan penginderaan memiliki peran yang lebih kecil dari pada manusia. Palatabilitas adalah derajat kesukaan pada makanan tertentu yang terpilih dan dimakan. Pengertian palatabilitas berbeda dengan konsumsi. Palatabilitas melibatkan indera penciuman, perabaan dan perasa. Pada ternak peliharaan memperlihatkan prilaku mengendus (sniffing) makanan.
Kebanyakan hewan memiliki preferensi menyukai makanan tertentu, terutama jika memiliki kesematan memilih. Contohnya, anak babi muda lebih menyukai larutan gula dibandingkan air, sementara unggas tidak bisa membedakan rasa manis, tapi tidak dapat mencerna larutan garam dengan konsentrasi berlebih.



BAB III
KESIMPULAN
            Banyak faktor yang mempengaruhi ternak untuk mengkonsumsi pakan. Kapasitas rumen atau lambung, naluri atau insting ternak yang kekurangan zat nutrisi tertentu, keadaan lingkungan yang menyebakan ternak harus mempertahankan suhu tubuhnya, palatabilitas, tekstur, dan rasa mempengaruhi dorongan ternak untuk mengkonsumsi pakan.




DAFTAR PUSTAKA
http://aminuddin01.wordpress.com/2009/09/24/bagaimana-kita-merasa-lapar-dan-kenyang-mengapa-kita-perlu-merasakan-lapar/
»»  Baca Selengkapnya...

Sabtu, 29 September 2012

Praktikum Penentuan Kadar Hemoblobin dalam Darah


BAB I
PENDAHULUAN
Bentuk sel darah berasal dari sel induk (Stem Cells) dalam sumsum tulang belakang serta memasuki aliran darah guna memenuhi kebutuhan terrentu pada hewan. Pigmen merah pembawa oksigen didalam eritrosit merupakan hemoglobin. Hemoglobin suatu molekul globulin dibentuk menjadi 4 sub unit. Pada tiap sub unit mnegandung suatu gugusan  heme yang dikonjungsi kesuatu peptida. Heme adalah suatu turunan porifirin (merah) yang mengandung besi dan globin yang merupakan protein globular yang terdiri dari 4 rantai asam amino. Fungsi hemoglobin dalam eritrosit sebagai pengangkut gas, baik oksigen maupun karbondioksida.
Hemoglobin darah dapat mengangkut sekitar 60 kali oksigen lebih banyak apabila dibandingkan dengan air pada saat dalam kondisi dan jumlah yang sama. Hemoglobin dapat bergabung dengan oksigen udara yang terdapat dalam paru-paru karena mempunyai daya afinitas yang tinggi, sehingga terbentuklah oksihemoglobin yang kemudian oksigen tersebut dilepaskan ke sel-sel jaringan tubuh. Kadar hemoglobin diukur dalam gram per 100 ml darah atau dalam gram persen.
Darah merupakan cairan tubuh yang mempunyai fungsi sangat penting, terutama pada hewan dan manusia, salah satunya karena selain sebagai pengangkut hormon, pengedar panas dalam tubuh serta sebagai antibody, darah juga merupakan zat antara (medium tranport) yang membawa zat-zat makanan ke berbagai bagian tubuh kemudian membuang sisa-sisa hasil metabolisme.
Darah mempunyai tingkat keasaman atau kebasaan tertentu. Keadaan pH darah pada tiap-tiap makhluk hidup berbeda-beda. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu faktor intrinsik yang terdiri atas volume darah dan jenis kelamin. Selain itu juga dapat disebabkan karena faktor ekstrinsik yang berupa status gizi yang diberikan dan pengaruh lingkungan.

BAB II
TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan praktikum kadar hemoglobin ini adalah agar dapat mengukur kadar hemoglobin Selain itu diharapkan praktikan dapat menggunakan alat untuk percobaan ini dan mampu mengintrepretasikan data yang diperoleh. Sedangkan tujuan dari pengukuran tingkat keasaman darah (pH) yaitu agar praktikan dapat mengetahui prinsip dan cara pengukuran pH.darah serta membandingkan pH darah dari hewan pada kondisi tertentu.
Manfaat praktikum mengukur kadar hemoglobin adalah agar dapat mengetahui kondisi tubuh ternak secara fisik melalui pengukuran kadar hemoglobin. Selain itu dapat menambah wawasan mengenai pengertian dan fungsi dari hemoglobin. Sedangkan manfaat.

























BAB III
Tinjauan Pustaka
Bentuk sel darah berasal dari sel induk (Stem Cells) dalam sumsum tulang belakang serta memasuki aliran darah guna memenuhi kebutuhan terrentu pada hewan. Pigmen merah pembawa oksigen didalam eritrosit merupakan hemoglobin. Hemoglobin suatu molekul globulin dibentuk menjadi 4 sub unit. Pada tiap sub unit mnegandung suatu gugusan  heme yang dikonjungsi kesuatu peptida. Heme adalah suatu turunan porifirin (merah) yang mengandung besi dan globin yang merupakan protein globular yang terdiri dari 4 rantai asam amino. Fungsi hemoglobin dalam eritrosit sebagai pengangkut gas, baik oksigen maupun karbondioksida. Hemoglobin darah dapat mengangkut sekitar 60 kali oksigen lebih banyak apabila dibandingkan dengan air pada saat dalam kondisi dan jumlah yang sama. Hemoglobin dapat bergabung dengan oksigen udara yang terdapat dalam paru-paru karena mempunyai daya afinitas yang tinggi, sehingga terbentuklah oksihemoglobin yang kemudian oksigen tersebut dilepaskan ke sel-sel jaringan tubuh. Kadar hemoglobin diukur dalam gram per 100 ml darah atau dalam gram persen (Poejiadi, 1994).
   Eritrosit merupakan sarana transportasi gas oksigen dan karbondioksida. Hal ini disebabkan karena eritrosit memiliki pigmen hemoglobin. Hemoglobin mampu mengikat O2 dan CO2 (Praseno et al, 2003).  Hemoglobin merupakan zat padat dalam eritrosit yang menyebabkan warna merah. Dibandingkan dengan sel-sel lain dalam jaringan, eritrosit kurang mengandung air. Tekanan osmosis dalam sel sama dengan tekanan osmosis pada plasma. Bila terjadi perubahan tekanan osmosis pada larutan di luar sel darah merah akan berpengaruh terhadap besar sel. Larutan yang hipotonik menyebabkan air masuk ke dalam sel dan sel akn bertambah besar kemudian pecah dan hemoglobin akan keluar dari sel. Proses ini disebut hemolisis. Proses ini dapat disebabkan oleh faktor lain seperti adanya pelarut lemak misalnya eter dan kloroform (Poejiadi, 1994).
Sel darah merah mengandung sekitar 35% berat hemoglobin. Hemoglobin ini mengandung dua rantai α dan dua rantai β serta empat gugus heme, yang masing-masing berikatan dengan rantai polipeptida. Masing-masing gugus heme dapat mengikat 1 molekul oksigen karena sejumalh besar hemoglobin yang terdapat  dalam sel darah merah, 100 ml darah mamalia, jika dioksigenasi penuh, dapat membawa 21 gas O2. jumlah O2 yang diikat oleh hemoglobin bergantung kepada empat faktor: (1) tekanan parsial (2) pH  (3) konsentrasi 2,3-difosfogliserat (DPG) dan (4) konsentrasi CO2 (Lehninger, 1995).
Pada paru-paru dimana tekanan parsial oksigen tinggi (90-100 mmHg) dan pH dan juga pH relatif tinggi (25-40 mmHg) dan pH juga relatif rendah (7,2-7,3), terjadi pembebasan oksigen yang terikat ke dalam massa jaringan yang melakukan respirasi. Vena darah yang meninggalkan jaringan, mengandung hemoglobin yang tingkat kejenuhannya 65%. Oleh karena itu, hemoglobin berdaur diantara kejenuhan oleh oksigen 65% dan 975, dalam sirkuit berulang diantara paru-paru dan jaringan perifer (Lehninger, 1994).
            Suatu pengatur derajat hemoglobin yang penting adalah 2,3-difosfogliserat (DPG). Konsentrasi DPG yang tinggi di dalam sel menyebabkan afinitas hemoglobin terhadap oksigen yang lebih rendah. Jika pengiriman oksigen ke jaringan sangat terbatas seperti pada orang yang mengalami defisiensi sel darah merah atau orang yang hidup di dataran tinggi, konsentrasi DPG di dalam sel menjadi lebih tinggi daripada individu normal yang hidup normal di daerah permukaan laut. Hal ini menyebabkan hemoglobin membebaskan oksigen yang diikatnya segera ke dalam jaringan untuk mengimbangi penurunan oksigenasi hemoglobin di dalam paru-paru (Praseno et al, 2003).
Hemoglobin berfungsi sebagai pengangkut gas baik oksigen (O2) maupun karbondioksida (CO2). Selanjutnya melepaskan oksigen tersebut ke sel-sel jaringan yang terdapat didalam tubuh. Proses ini disebut oksigenasi, yang membutuhkan besi dalam bentuk ferro dalam molekul hemoglobin. Zat gizi tersebut menuju sumsum tulang sehingga menjadi bagian dari molekul heme guna membentuk eritrosit (Frandson, 1992).
Kadar hemoglobin pada umumnya diukur dalam gram per 100 ml darah. Karena adanya hemoglobin, darah dapat mengangkut sekitar 60 kali oksigen lebih banyak apabila dibandingkan dengan air dalam jumlah dan kondisi yang sama (Smith, 1988).
pH darah menggambarkan konsentrasi ion hidrogen, yang menentukan keasaman atau kebasaan relatif dari larutan. Dalam air destilasi, ion hidrogen (H+) (yang bersifat asam) setara dengan ion hidroksil (OH-) (yang bersifat basa atau alkalis); pH-nya 7, yang menggambarkan keadaan netral, tidak bersifat asam dan tidak pula bersifat basa. Larutan dengan pH antar 1 sampai 7 adalah larutan asam; semakin kecil angka itu, semakin asamlah sifatnya. pH untuk larutan basa berkisar dai 7 sampai 14; semakin besar angkanya, semakin basalah larutan itu. Dalam keadaan normal pH terletak di antara 7,35 dan 7,45, sedikit berada di daerah yang basanya netral. pH darah dipertahankan di dalam suatu batas-batas yang relatif sempit oleh adanya bufer kimia, terutama natrium bikarbonat. Bufer bereaksi dengan asam kuat atau basa kuat hingga menghasilkan garam netral dan asam atau basa lemah. Suatu contoh adalah natrium bikarbonat atau system asam karbonat:
            HCl  +  NaHCO3   →   NaCl  +  H2CO3
                NaOH  +  H2CO3   →   NaHCO+  H2O
                         H2CO3      ↔      CO2  +  H2O   
Kemampuan untuk menetralkan asam ini didapatkan dari metabolisme yang mengarah ke istilah cadangan alakali sebagai sinonim bikarbonat yang tersedia di dalam darah. Karbon dioksida yang dihasilkan dikeluarkan dari darah melalui paru. Hiperventilasi dengan cara membuang banyak karbon dioksida, dapat menyebabkan timbulnya alkalosis sementara di dalam darah. Dalam beberapa keadaan dan penyakit, cadangan alkali menurun demikian rupa sehingga menimbulkan keadaan asam dalam darah (asidosis) yang ditimbulkan oleh karena banyaknya CO2 (Frandson, 1992).





BAB IV
METODOLOGI PRAKTIKUM
Praktikum Dasar Fisiologi Ternak tentang penentuan kadar Hb dan tingkat keasaman darah dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 27 Mei 2008 pada pukul 07.00 - 09.00 WIB di Laboratorium Struktur dan Fungsi Hewan, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Diponegoro Semarang.

4.1. Materi
4.1.1. Penentuaan kadar Hemoglobin

Materi yang digunakan dalam praktikum penentuan kadar hemoglobin adalah darah ayam, kemikalia terdiri dari alkohol 70%, HCL 0,1% dan aquades. Alat yang digunakan adalah hemometer Sahli, satu set hemometer sahli terdiri atas pipet leukosit 20 mm, Blok komparator, dan tabung pengukur hemoglobin; disposable lancet atau jarum suntik.

4.1.2. Penentuaan pH darah

Materi yang digunakan dalam praktikum penentuan pH darah adalah darah ayam  dan alat yang digunakan adalah pH indikator.

4.2. Metode

4.2.1. Penentuan Kadar Hemoglobin

Penentuan kadar hemoglobin dilakukan dengan cara mengisikan HCL 0,1 N terlebih dahulu ke dalam tabung hemoglobin sampai skala 2. Kemudian mengisap darah tetesan yang telah disiapkan dengan pipet Hb sampai skala 20. Menghapus darah yang terdapat di ujung pipet dan dengan cepat menghembuskan darah ke dalam tabung hemometer. Mengusahakan semua darah dalam pipet masuk ke semua tabung. Kemuadian mendiamkan selama 1 menit. Lalu mengencerkan dengan aquadest setetes demi setetes sambil menyesuaikan dengan warna larutan standar yang terdapat dalam blok komparator. Menghentikan pengenceran apabila warna larutan darah telah sama dengan warna larutan standar. Menghitung kadar hemoglobin darah dengan cara membaca tinggi dan angka larutan darah pada tabung hemometer.

4.2.2. Penentuan pH darah

Penentuan pH darah dilakukan dengan cara mencelupkan pH indikator kedalam sample darah selama 5 menit, kemudian mengangkat dan mengering anginkan. Membandingkan dengan warna standar, membaca angka pH yang didapat. Membuat bahasan dari hasil pengukuran pH tersebut.






















BAB V
HASIL PERCOBAAN
5.1. Pengukuran Kadar Hb
Hasil percobaan praktikum penetuan kadar hemoglobin darah dengan menggunakan darah ayam diperoleh kadar hemoglobin pada ayam adalah sebesar 11 gram %. Dengan HCl 0,1 N dan Hb dengan skala 20.

5.2. Pengukuran pH darah
Hasil percobaan prktikum penentuan pH darah dengan menggunakan serum darah, diperoleh warna pH indikator yang telah dimasukkan ke dalam serum darah setelah dibandingkan dengan warna standart didapatkan warna yang sesuai dengan warna dari pH netral. Dari hasil pengamatan diperoleh pH darah 7,0 (netral).























BAB VI
PEMBAHASAN
6.1. Pengukuran Kadar Hb
Menurut Frandson (1996) hemoglobin pada ayam adalah sebesar 8-13 gr/ml. hal ini menunjukkan bahwa kadar hemoglobin pada ayam broiler tersebut adalah normal. Kadar hemoglobin senantiasa meningkat searah dengan laju pertumbuhannya. Kadar hemoglobin antara ayam jantan dan ayam betina tidak begitu berbeda. Semua ini disebabkan faktor lingkungan, kesehatan dari ternak tersebut, dan makanan yang dikonsumsi sangat mendukung untuk kemajuan kadar hemoglobin dalam darah. Hal ini juga dapat disebabkan karena adanya homokonsentrasi. Homokonsentrasi merupakan rasio sel-sel darah merah terhadap cairan berada diatas normal. Adanya faktor ektrinsik yang dapat menyebabkan penyimpangan fungsi hemoglobin dalam eritrosit juga dapat dicegah, misalnya dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi dan protein sebagai bahan pembentuk bahan eritrosit.
            Sedangkan berdasarkan pendapat Coles (1974) bahwa kadar hemoglobin dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah umur, spesies, jenis kelamin, serta kualitas dan kuantitas pakan. Semakin berkualitas pakan yang diberikan, nutrisi yang dapat digunakan pun tercukupi sehingga darah mengandung kadar hemoglobin standard. Demikian pula dengan pemenuhan pakan secara kuantitas dan dapat diartikan pula kontinuitas pemberian pakan, akan nutrisi sehingga kadar hemoglobin juga akan stabil.
Dalam darah ayam berisi sekitar 2,5 sampai 3,5 juta / mm3 sel darah merah tergantung pada umur dan jenis kelamin. Darah pejantan dewasa memiliki 500.000 sel darah merah lebih banyak dibandingkan ayam betina. Kadar haemoglobin antara ayam jantan dan ayam betina tidak terlalu jauh berbeda selama belum mencapai dewasa kelamin (Akosa, 1993).

6.2. Pengukuran pH darah
Tingkat keasaman pada darah menggambarkan konsentrasi ion hidrogen, yang menentukan keasaman atau kebasaan relative dari larutan. Dalam air destilasi, ion hydrogen (H+) yang bersifat asam  setara dengan ion hidroksil (H-) yang bersifat basa atau alkalis, pH-nya 7, yang menggambarkan keadaan netral, tidak bersifat asam dan tidak pula bersifat basa. Larutan dengan pH antara 1 sampai 7 adalah larutan asam, semakin kecil angka itu semakin asamlah sifatnya, pH untuk larutan basa berkisar dari 7 sampai 14, makin besar angkanya semakin basalah larutan itu ( Frandson, 1993 ).
Dengan melihat hasil percobaan yaitu pH serum darahnya 7,0 (netral), menunjukkan bahwa keadaan hemoglobin pada ayam tersebut adalah normal. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1992) yang menyatakan bahwa kadar hemoglobin pada ternak bervariasi. Sedangkan khusus pada ayam berkisar antara 8,6 g/dl sampai 13 g/dl.
























BAB VII
KESIMPULAN
Kadar hemoglobin yang diperoleh dari darah ayam yang diambil adalah 11 gr %. Angka kadar tersebut termasuk kategori normal (masih berada pada batas standar rata-rata) pada kadar hemoglobin antara 8-13 gr/ml. Sedangkan pH dalam darah ayam juga didapat hasil normal (netral) yaitu 7, karena kadar pH darah standart sebesar 7 – 14.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar haemoglobin dalam darah diantaranya yaitu umur, spesies, jenis kelamin, serta kualitas dan kuantitas pakan. Semakin berkualitas pakan yang diberikan, semakin baik pula kadar hemoglobin yang ditunjukkan.
























DAFTAR PUSTAKA
Akosa, Budi Tri. 1993. Manual Kesehatan Unggas. Kanisius. Yogyakarta.
Coles, E.H. 1974. Veterian Clinical Pathologi 2nd Edition W. B. Sounders Co. Philadelphia.

Frandson, R. D. 1992. Anatomi dan Fisiologi ternak. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Frandson, R.D. 1996 Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

Lehninger. 1994. Dasar-dasar Biokimia Jilid 1. Erlangga. Jakarta.
Lehninger. 1995. Dasar-dasar Biokimia Jilid 3. Erlangga. Jakarta.
Poedjiadi, Anna. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Universitas Indonesia Press.             Jakarta.

Praseno, K., Isroli, dan Bambang S. 2003. Fisiologi Ternak. Fakultas Peternakan    Universitas Diponegoro. Semarang.

Smith,1988 . Pemeliharaan, Pembiakan, dan Penggunaan  Hewan Percobaan di   Daerah Tropis . Universitas Indonesia: Jakarta.
»»  Baca Selengkapnya...

Sabtu, 04 Agustus 2012

Praktikum Pertumbuhan Ayam

BAB I 

PENDAHULUAN 

Pertumbuhan merupakan suatu proses perubahan dalam makhluk hidup yang berupa kanaikan massa, pertambahan ukuran, pertambahan bobot badan, disertai dengan peningkatan populasi. Pertumbuhan adalah fenomena kompleks yang tidak hanya dipengaruhi oleh hormon pertumbuhan, tetapi juga oleh hormon tiroid, androgen, glikocortiroid dan insulin. Ada dua faktor yang mempengaruhi pertumbuhan, yaitu faktor intrinsik dan ekstrinsik. Susunan genetika adalah faktor intrinsik, sedangkan makanan dan kondisi lingkungan merupakan faktor ekstrinsik yang paling penting mempengaruhi pertumbuhan. 

Suatu fenomena penting dalam proses pertumbuhan adalah adanya perubahan penampilan organisme dengan pertambahan umur seperti dalam ukuran keseluruhan tubuh organisme atau bagian-bagian tubuh lainnya. Suatu jangka waktu tertentu diperlukan untuk menghasilkan perubahan dari suatu keadaan ke keadaan lain yang timbul secar berurutan. Misalnya bagian akhir berupa bagian reproduktif tidak dapat terbentuk sebelum fase-fase tertentu telah dilalui yang membutuhkan waktu tertentu. 

Pertumbuhan hewan sangat berbeda dengan pertumbuhan pada tumbuhan. Umumnya tumbuhan mampu tumbuh sepanjang hidupnya, sedangkan pada hewan hanya terjadi selama masa pertumbuhan hingga masa dewasa. Pada hewan semenjak lahir telah diketahui bentuk kasar pada masa dewasanya. Laju pertumbuhan suatu organisme berjalan secara tidak konstan, tetapi meliputi meliputi suatu periode pertumbuhan yang dipercepat dan pertumbuhan yang diperlambat. Pertumbuhan biasanya berlangsung dengan cepat dan selanjutnya berlangsung secara perlahan, hal tersebut membentuk kurva sigmoid. Pertumbuhan ayam bloiler berlangsung dengan cepat sampai 8 minggu, setelah itu pertumbuhan menjadi menurun. 


BAB II 

TUJUAN PRAKTIKUM 

Praktikum Dasar Fisiologi Ternak mengenai mengukur keasaman tingkat darah bertujuan agar praktikan mampu menggunakan alat untuk mengadakan percobaan pengukuran pertumbuhan, agar praktikan mampu mengukur pertumbuhan, dan agar praktikan mampu menginterpretasikan data yang didapat. Serta bertujuan untuk mengetahui perubahan bobot badan, panjang sayap, panjang paruh, dan panjang tibiotarsus sebagai indikator utama pengukuran pertumbuhan. Setelah diberikan ransum dan dikandangkan dalam waktu 3 minggu maka dapat diketahui faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi perubahan pada ayam. 

Manfaat yang dapat diperoleh dari praktikum ini adalah kita dapat mengetahui kecepatan pertumbuhan ternak itu sendiri sekaligus dapat mengatahui lebih dini faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan indikasinya dapat diperoleh efisiensi produksi yang tinggi. Efisiensi produksi yang tinggi inilah yang sangat menguntungkan dan diharapkan peternak. 

BAB III 

Tinjauan Pustaka 

Pertumbuhan merupakan fenomena kompleks yang tidak hanya dipengaruhi oleh hormon petumbuhan tetapi juga hormon tiroid, androgen, glukocotikoid dan insulin. Pertumbuhan didefinisikan sebagai suatu peningkatan massa. Faktor-faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi pertumbuhan hewan. Makanan dan kondisi lingkungan merupakan faktor ekstrinsik yang paling penting dalam mempengaruhi pertumbuhan. Pertumbuhan adalah penambahan bobot badan persatuan waktu (Tillman, 1991). 

Laju pertumbuhan suatu organisme berjalan secara tidak konstan, tetapi meliputi suatu periode pertumbuhan yang dipercepat dan pertumbuhan yang diperlambat. Pertumbuhan biasanya berlangsung dengan cepat dan selanjutnya berlangsung secara perlahan. Hal tersebut membentuk kurva sigmoid. Pertumbuhan ayam broiler berlangsung dengan cepat sampai 8 minggu, setelah itu pertumbuhan menjadi menurun (Maynard, 1979). Pertumbuhan unggas dipengaruhi oleh bangsa, jenis kelamin, umur, kualitas ransum, dan lingkungannya (Wahju, 1992). 

Fase pertumbuhan setelah individu dilahirkan meliputi fase balita, remaja, dewasa, kemudian mati. Pada hewan, fase dewasa adalah berfungsinya secara penuh organ-organ reproduksi di dalam tubuh. Pertumbuhan sebagian besar terjadi setelah selesainya morfogenesis dan diferensiasi. Agar pertumbuhan dapat terjadi, maka laju sintesis molekul yang kompleks dari organisme itu seperti protein, harus melebihi laju perombakannya. Ini berarti bahwa harus ada tambahan moleku organik (yaitu asam amino, asam lemak, gliserol, glukosa) yang diambil oleh organisme itu dari lingkungannya. Beberapa dari bahan ini merupakan bahan baku dalam reaksi anabolisme, dan lainya akan menyediakan energi ekstra yang diperlukan. Pada organisme fotosintetik, cahaya menyediakan energi untuk anabolisme dan molekul–molekul merupakan bahan baku (Kimball, 1983). 

Dengan demikian, pertumbuhan berarti memperoleh lebih banyak bahan dari lingkungan dari pada yang dikembalikan ke lingkungan tersebut dalam bentuk limbah metabolik. Kita tumbuh dengan mengubah molekul organik yang tidak begitu spesifik yang kita ambil dari lingkungan menjadi bahan sel yang khas bagi kita. Kemampuan semua mahluk hidup untuk membentuk dirinya sendiri lebih spesifik, menyusun bahan kompleks dari bahan agak sederhana yang tak teratur dari lingkungan adalah suatu kemampuan tumbuh. Pertumbuhan pada organisme dapat terjadi secara sederhana dengan peningkatan jumlah sel-selnya. Orang dewasa terdiri dari kira–kira 60 triliun sel, sedangkan bayi yang baru lahir mengandung sel kira-kira 2 triliun. Pertumbuhan dapat juga terjadi sebagai akibat peningkatan ukuran sel. Dalam pertumbuhan suatu organisme, biasanya dapat dibedakan beberapa periode. Periode pertama adalah periode lamban dengan ciri adanya sedikit pertumbuhan atau tidak ada pertumbuhan yang sebenarnya. Dalam periode ini, organisme sedang mempersiapkan diri untuk tumbuh (Kimball, 1983). 

Periode lamban diikuti oleh periode logaritma atau periode eksponen. Pada periode ini mulailah pertumbuhan, yang mula-mula lambat tetapi kemudian semakin cepat. Jadi organisme membesar menurut progresi geometri, perlipatan dan perlipatan lagi dalam ukurannya. Progresi yang demikian dinyatakan dalam aljabar dengan eksponen, karena itu fase pertumbuhan ini disebut fase eksponen. Organisme yang berbeda membutuhkan waktu yang sangat bervariasi untuk meningkatkan ukurannya mejadi dua kali. Berapapun lamanya, semua organisme selalu melalui periode percepatan yang konstan dalam pertumbuhannya (Kimball, 1983). Pertumbuhan hewan sangat berbeda dengan pertumbuhan pada tumbuhan. Umumnya tumbuhan mampu tumbuh sepanjang hidupnya, sedangkan pada hewan hanya terjadi selama masa pertumbuhan hingga masa dewasa. Pada hewan semenjak lahir telah diketahui bentuk kasar pada masa dewasanya (Slamet Prawirohartono, 1989). 

Fase eksponen tidak terjadi terus-menerus, tetapi dilanjutkan dengan periode perlambatan. Sekarang pertumbuhan berlangsung lebih lambat dan akhirnya berhenti sama sekali. Pada banyak organisme, laju pertumbuhan menurun tapi tidak berhenti sama sekali (Kimball, 1983). 

Pertumbuhan pada hewan tidak terjadi pada tempat tertentu seperti pada tumbuhan. Semua jaringan dan organ badan hewan ikut serta dalam pertumbuhan. Meskipun demikian, mereka semua tidak tumbuh dengan laju yang sama. Asas pertumbuhan badan adalah pertumbuhan kerangka penunjangnya. Tulang mampu tumbuh dan menjadi panjang hanya selama mereka mempunyai daerah tulang rawan tak bertulang, dimana pembelahan sel lebih lanjut dan pemanjangannya dapat terjadi (Kimball, 1983). 

Faktor–faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan pada hewan, yaitu :

1. Faktor Luar

Faktor luar yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan, antara lain makanan, air, suhu, aktivitas, dan sinar matahari (Pratiwi, 1996). 

1.1 Makanan

Makanan adalah faktor yang utama bagi pertumbuhan. Makanan memiliki berbagai fungsi di dalam tubuh. Fungsi makanan yang utama adalah sebagai pembangun dan sumber energi. Makanan yang mempunyai peran terbesar bagi pertumbuhan adalah protein. Protein berfungsi sebagai zat pembangun dengan membentuk asam amino dan komponen tubuh yang lain (Pratiwi, 1996). 

1.2 Air

Air dibutuhkan untuk pertumbuhan karena air merupakan pelarut protoplasma atau media untuk terjadinya reaksi kimia di dalam tubuh. Reaksi-reaksi kimia di dalam tubuh meliputi sintesis protein, respirasi sel, dan ekskresi. Reaksi-reaksi kimia di dalam tubuh berpengaruh secara langsung dalam pertumbuhan karena reaksi-reaksi kimia ini menghasilkan energi, membantu pembentukan sel-sel baru, dan memperbaiki jaringan tubuh (Pratiwi, 1996). 

1.3 Aktivitas

Aktivitas fisik yang dilakukan selama bertahun-tahun memberikan pengaruh yang nyata pada struktur otot dan tulang. Dengan melakukan aktivitas secara rutin, badan akan lebih sehat dan metabolisme tubuh lancar. Dengan lancarnya metabolisme tubuh akan baik pula pertumbuhan (Pratiwi, 1996). 

1.4 Cahaya Matahari

Cahaya matahari berpengaruh terhadap pertumbuhan tulang. Cahaya matahari mampu mengubah prekursor vitamin D menjadi vitamin D yang diperlukan untuk membangun tulang (Pratiwi, 1996). 

2. Faktor Dalam

Faktor dalam yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan adalah gen dan hormon (Pratiwi, 1996). 

2.1 Gen

Gen merupakan faktor penting dalam pertumbuhan karena gen adalah penentu pola dasar pertumbuhan yang meliputi bentuk–bentuk tulang, otot, warna kulit, dan ciri–ciri lainnya. Gen merupakan faktor keturunan yang diwariskan. Gen juga merupakan pengendali sintesis protein yang berfungsi untuk membangun tubuh (Pratiwi, 1996). 

2.2 Hormon

Hormon merupakan suatu sekret yang dihasilkan kelenjar endokrin yang berfungsi mendorong pertumbuhan (Pratiwi, 1996). 

Pertumbuhan merupakan hasil dari aktivitas pembelahan sel secara mitosis pada sel-sel somatis. Pembelahan mitosisi berakibat membesarnya atau memanjangnya tubuh atau bagian–bagian tubuh. Pembelahan sel secara mitosis dapat ditemui di semua bagian tubuh kecuali di sel kelamin. Perkembangan hewan dimulai dari fertilisasi sel telur dengan sperma yang menghasilkan zigot. 

Berikutnya terjadi fase–fase pertumbuhan seperti :

a. Fase Pembelahan (Cleavage)

Inti sel melakukan pembelahan mitosis menjadi 2, dari 2 menjadi 4, dan demikian seterusnya. Sampai menjadi sekumpulan sel yang disebut morula (Pratiwi, 1996). 

b. Fase Blastula

Pada fase ini, sel–sel pada morula melakukan penataan dengan cara melekuk dan menggulung sehingga terbentuk suatu rongga yang disebut blastosol. Blastosol ini terjadi akibat perpindahan sel-sel kutub animal yang kemudian menyusun diri sehingga terbentuk rongga berisi cairan. Kutub animal adalah bagian yang tidak mengandung kuning telur dan membelah lebih cepat dibandingkan kutub vegetal, yaitu bagian yang mengandung kuning telur dan lambat pembelahan selnya (Pratiwi, 1996). 

c. Fase Gastrula

Hasil pembelahan sel kutub animal berpindah ke bawah sel–sel yang berisi kuning telur dari kutub vegetal. Pada awal gastrula ini terjadi dorongan ke dalam massa sel sehingga membentuk bulan sabit (blastofor). Sel-sel kutub animal yang tidak masuk ke dalam disebut ektoderma. Sel-sel kutub animal yang masuk ke dalam di bawah ektoderma disebut mesoderma. Sel-sel kutub vegetal yang tumbuh ke dalam, di bawah mesoderma, menjadi selapis sel yang tumbuh ke atas dan meliputi rongga, disebut endoderma (Pratiwi, 1996). 

d. Fase Diferensiasi

Pada fase ini, ketiga lapisan tersebut berubah menjadi organ–organ. Hewan yang perkembangan tubuhnya berasal dari 3 lapis sel disebut triploblastik (Pratiwi, 1996). 

BAB IV 

METODOLOGI PRAKTIKUM 

Praktikum Dasar Fisiologi Ternak tentang pertumbuhan dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 27 Mei 2008 pada pukul 07.00 - 09.00 WIB di Laboratorium Struktur dan Fungsi Hewan, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Diponegoro Semarang. 

4.1. Materi

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah kandang ayam sebagai tempat untuk memelihara ayam, jangka sorong dan penggaris sebagai alat untuk mengukur panjang bagian tubuh ayam, timbangan untuk mengukur bobot badan ayam, dan Bahan yang digunakan adalah ayam sebagai hewan percobaan. 

4.2. Metode

Metode yang dilakukan dalam praktikum pertumbuhan adalah mula-mula menghitung bobot badan awal, mengukur panjang paruh, panjang extrinitas arterior kiri dan kanan,serta mengukur panjang extrenitas posterior kiri dan kanan dengan menggunakan jangka sarong. Setelah 3 minggu ayam ditimbang lagi untuk mengetahui bobot badan, paruh, panjang extrinitas arterior kiri dan kanan, panjang extrinitas posterior kiri dan kanan untuk mengetahui pertumbuhannya. 

BAB V 

HASIL PERCOBAAN 

Tabel 1. Pertumbuhan awal



Pengukuran

Berat badan (kg)

Panjang paruh (mm)

Panjang sayap (cm)

Panjang kaki

(cm)


1

0,60

14,0

14,0

16


2

0,60

14,5

15,0

16


3

0,60

15,0

14,0

16


Rata-rata

0,60

14,5

14,3

16


Sumber: Data primer praktikum Fisiologi, 2008

Tabel 2. Pertumbuhan akhir


Pengukuran

Berat badan

(kg)

Panjang paruh (mm)

Panjang sayap (cm)

Panjang kaki (cm)


1

0,82

19,6

19,5

22,0


2

0,84

20,3

18,0

21,0


3

0,84

20,2

18,5

21,1


Rata-rata

0,83

20,03

18,67

21,37


Sumber: Data primer praktikum Fisiologi, 2008

Keterangan :

1. Panjang sayap diukur dari pangkal sayap ayam sampai ujung sayap dengan cara dibentangkan terlebih dahulu.

2. Panjang paruh diukur dari ujung paruh sampai pangkal paruh.

3. Panjang fibiotarsus dari pangkal kaki sampai lutut.

Perhitungan Laju Pertumbuhan :
Laju Pertumbuhan = Rata-rata bobot sekarang – Rata-rata bobot awal

(bobot badan)

= 0,83 – 0,6

= 0,23 cm
Laju Pertumbuhan = Rata-rata paruh sekarang – Rata-rata paruh awal

(Paruh)

= 20,03 – 14,4

= 5,63 mm


Laju Pertumbuhan = Rata-rata sayap sekarang – Rata-rata sayap awal

(Sayap)

= 18,67 – 14,3

= 4,37 cm


Laju Pertumbuhan = Rata-rata kaki sekarang – Rata-rata kaki awal

(Kaki)

= 21,37 - 16

= 5,37 cm


BAB VI 

PEMBAHASAN 

Pertumbuhan akhir diukur setelah ayam diberi perlakuan selama 3 minggu dan masih mungkin terjadi pertumbuhan lebih lanjut lagi. Berat badan diukur dengan timbangan, panjang kaki diukur dari pangkal paha sampai telapak kaki, panjang sayap diukur dari pangkal sayap sampai ujung sayap, dan panjang paruh diukur dari pangkal paruh sampai ujung paruh. 

Pertumbuhan awal dimulai dari periode lamban dengan ciri-ciri sedikit pertumbuhan. Disusul dengan periode logaritma atau eksponen yang ditandai dengan pesatnya pertumbuhan baik secara eksterior (berat badan, panjang sayap, panjang kaki, dan panjang paruh) maupun secara interior (organ-organ dalam, jaringan otot, dan tulang). Akhir dari pertumbuhan adalah periode perlambatan yang ditandai dengan penurunan laju pertumbuhan yang cenderung konstan (Anggorodi, 1984). 

Pertumbuhan pada ayam ditandai dengan terjadinya pertambahan massa (berat), panjang kaki, panjang sayap, dan panjang paruh. Dari data diatas, diperoleh pertambahan baik massa maupun panjang yang cukup signifikan. Berat rata-rata ayam naik dari 0,60 kg menjadi 0,83 kg. Panjang sayap rata-rata dari 14,3 cm menjadi 18,67 cm, panjang Tibiatarsus rata-rata dari 16 cm menjadi 21,37 cm, dan panjang paruh rata-rata dari 14,5 cm menjadi 20,03 cm. 

Ayam-ayam yang digunakan dalam percobaan ini termasuk dalam periode logaritma karena adanya pertambahan baik massa (berat badan) maupun panjang (kaki, sayap, dan paruh) yang sangat pesat dan mencapai puncaknya di periode ini. 

Cepat-lambat pertumbuhan pada ayam dipengaruhi oleh beberapa faktor baik faktor dalam maupun faktor luar, antara lain : 

1. Makanan

Makanan yang diberikan pada ayam menentukan laju pertumbuhan ayam. Makanan yang kaya akan protein dan vitamin akan membuat pertumbuhan ayam meningkat, sebaliknya jika ayam diberikan makanan yang kurang protein dan vitamin akan menyebabkan pertumbuhan ayam terhambat. 

2. Jenis Kelamin

Jenis kelamin mempengaruhi kecepatan pertumbuhan pada ayam. Ayam jantan cenderung lebih cepat pertumbuhannya jika dibandingkan dengan ayam betina. Hal ini karena proses metabolisme pada ayam jantan lebih cepat dan lebih mudah menguraikan bahan makanan (Wahju, 1992). 

3. Aktivitas

Aktivitas yang dilakukan ayam memberikan pengaruh yang nyata pada struktur otot dan tulang. Jika sering beraktivitas, pertumbuhan otot dan tulang akan cepat. Jika aktivitas kurang, maka pertumbuhan otot dan tulang terhambat. Ayam yang digunakan dalam percobaan ini terlihat kurang aktivitas karena ditempatkan dalam kandang yang sempit, sehingga pertumbuhan ayam belum maksimal. Aktivitas ayam jantan lebih tinggi daripada ayam betina (Wahju, 1992). 

4. Lingkungan

Keadaan lingkungan di sekitar ayam mempengaruhi pertumbuhan ayam tersebut. Lingkungan yang baik seperti kandang yang bersih dan makanan yang bersih dapat meningkatkan pertumbuhan ayam. Pada percobaan, ayam yang digunakan ditempatkan pada kandang yang tidak bersih sehingga pertumbuhannya tidak maksimal (Wahju, 1992). 

5. Gen dan Hormon

Gen adalah penentu pola dasar pertumbuhan yang meliputi bentuk-bentuk tulang, otot, warna bulu, dan ciri lainnya. Hormon berfungsi mendorong petumbuhan. Ayam yang mempunyai gen pedaging lebih cepat pertumbuhannya terutama pertumbuhan daging atau ototnya (Wahju, 1992). 


Pertumbuhan ayam dapat digambarkan dengan kurva yang berbentuk sigmoid (Anggorodi, 1984) :



Berat (gr), panjang(cm)















]







umur (hari)





Kualitas ransum yang baik akan mempercepat pertumbuhan . Sedangkan untuk faktor genetik dan lingkungan saling mempengaruhi, apabila ayam hidup dalam lingkungan yang mendukung maka genetiknya akan berkembang dengan optimal. Faktor genetik adalah faktor yang bersifat menurun, sedangkan lingkungan meliputi ransum, penyakit dan manajemen. Kedua faktor ini menyebabkan kemampuan pertumbuhan individu berbeda. Menurut Suharsono (1976) pertumbuhan merupakan hasil interaksi antara faktor genetik dan lingkungan. 



BAB VII 

KESIMPULAN 

Pertumbuhan ditandai dengan terjadinya pertambahan jumlah dan ukuran sel. Tumbuh merupakan salah satu ciri mahluk hidup. Pertumbuhan meliputi beberapa periode, yaitu periode lamban, periode logaritma, dan periode perlambatan. 

Hasil dari percobaan menunjukkan terjadinya penambahan berat badan, penambahan panjang kaki, sayap, dan paruh yang cukup signifikan pada ayam. Pertumbuhan mencapai puncaknya pada periode logaritma. 

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan, antara lain makanan, jenis kelamin, aktivitas, lingkungan, gen, dan hormon. Jika salah satu dari faktor-faktor tersebut ada yang kurang baik, maka pertumbuhan ayam akan terhambat. Kurva dari pertumbuhan ayam berbentuk sigmoid. 



DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi, R. 1984. Ilmu Makanan Ternak Umum. Cetakan ke-3. PT Gramedia, Jakarta.

Maynard, N. D. 1979. Dasar Fisiologi dan Pertumbuhan Ternak. Erlangga, Jakarta.

Kimball, J. 1991. Biologi Jilid II. Erlangga, Jakarta.

Pratiwi, D. A, dkk. 1996. Biologi. Erlangga, Jakarta.

Prawirohatono, S. 1989. Biologi untuk Universitas. Erlangga, Jakarta.

Suharsono, 1976. Broiler Respons to Various Enviromental Condition. UNPAD Bandung.

Tillman, A.D, et al. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. UGM Press, Yogyakarta.

Wahyu, J. 1992. Ilmu Nutrisi Unggas. Fakultas Peternakan IPB, Bogo.r
»»  Baca Selengkapnya...

Praktikum Penentuan HCG dalam Urin

BAB I 

PENDAHULUAN 

Darah merupakan cairan tubuh yang mempunyai fungsi sangat penting, terutama pada hewan dan manusia, salah satunya karena selain sebagai pengangkut hormon, pengedar panas dalam tubuh serta sebagai antibody, darah juga merupakan zat antara (medium tranport) yang membawa zat-zat makanan ke berbagai bagian tubuh kemudian membuang sisa-sisa hasil metabolisme. 

Darah mempunyai tingkat keasaman atau kebasaan tertentu. Keadaan pH darah pada tiap-tiap makhluk hidup berbeda-beda. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu faktor intrinsik yang terdiri atas volume darah dan jenis kelamin. Selain itu juga dapat disebabkan karena faktor ekstrinsik yang berupa status gizi yang diberikan dan pengaruh lingkungan. 

Urine atau disebut juga dengan air kemih merupakan hasil filtrasi ginjal. Sebagian dari hasil pemecahan yang terdapat akan disaring oleh ginjal. Pada acara praktikum kali ini tidak hanya dibahas tentang urine manusia normal tetapi juga dilakukan percobaan dengan wanita hamil. Pada urine wanita hamil dilakukan penelitian untuk mengetahui berapa bulan kandungan. Pada awal kehamilan juga diekskreikan HCG ( Human Chorionik Gonadotropin ) yang merupakan glikoprotein yang mengadung galaktosa dan heksosamin ke dalam urine. Didalam HCG tersebut juga terdapat proses reaksi antigen – antibodi. 

Ureter adalah organ yang menyalurkan urine dari ginjal ke kandung kencing (blader). Cara masuknya ureter menembus dinding blader sedemikian rupa, sehingga membentuk suatu katub yang mencegah arus balik urine ke ginjal. Leher kantung kencing (blader) bersambungan dengan uretra, dan otot dinding blader bagian leher tersusun secara melingkar, membentuk suatu sfiagler yang mengontrol lewatnya urine masuk ke uretra. 

BAB II 

TUJUAN PRAKTIKUM 

Tujuan praktikum dalam penentuan HCG dalam urine adalah untuk mengetahui prinsip - prinsip dan cara-cara penentuan HCG dalam urine secara kualitatif. Selain itu praktikan diharapkan mampu menggunakan alat test slide untuk mengadakan percobaan HCG dalam urine. 

Manfaat dalam praktikum dasar fisiologi ternak ini memberikan pengetahuan tentang apa yang dimaksud dengan HCG yang terdapat dalam urine serta dapat mendeteksi urine pada wanita hamil. 

BAB III 

Tinjauan Pustaka 

Sistem urinasi bertujuan untuk berlangsungnya ekskresi bermacam-macam produk buangan dari dalam tubuh. Sistem ini juga penting sebagai faktor untuk mempertahankan homeokinetis (homeostatis), yaitu suatu keadaan yang relatif konstan dari lingkungan internal di dalam tubuh. Hal tersebut mencakup faktor-faktor yang beragam seperti keseimbangan air, pH, tekanan osmotik, tingkat elektrolit dan konsentrasi banyak zat didalam plasma (Frandson, 1993). 

Menurut Frandson (1993) Human Chorinic Gonadotropin (HCG) adalah suatau glikoprotein yang mengandung galaktosa dan heksosamin. Kadar HCG meningkat dalam darah dan urine segera setelah implantasi ovum yang sudah dibuahi. Dengan demikian ditemukannya HCG merupakan dasar bagi banyak tes kehamilan (Murray et al, 1999). Tes kehamilan menggunakan urine, ,karena dalam wanita hamil mengadung HCG (Human Chorionic Gonadotropin). HCG yaitu suatau hormon glikoprotein yang mempertahankan system reproduksi eanita dalam keadaan cocok untuk kehamiln . HCG disentesa pada retikulum endoplasma kasar, glikosilasi disempurnakan apparatus golgi (Johnson,1994). HCG dapat juga digunakan dalam upaya mersinkronkan ovulasi dan perkawianan yang diperlukan agar terjadi suatu konsepsi (Frandson,1993). Bila terdapat HCG dalam urine , HCG terikat pada antibodi dan dengan demikian akan mencegah aglutinasi partikel lateks yang dilapisi HCG yang diperlihatkan oleh antibodi tersebut. Dengan demikian uji kehamilan positif apabila tidak terjadi aglutinasi, dan kehamilan negatif jika terjadi aglutinasi (Pearce , 1997 ). 

Volume urine yang dikeluarkan kemungkinan besar dikarenakan variasi jumlah air yang masuk dalam tubuh dan eliminasinya oleh paru-paru dan kulit. Rata-rata volume yang dikeluarkan berkisar antara 1 sampai 1,5 liter perhari. Volume air habis oleh paru-paru selalu konstan, sedangkan yang disekresikan oleh kulit berfariasi tergantung pada temperature dan kelembaban udara dan intensitas panas yang dihasilkan oleh aktivitas otak.(Tuttle & Schotelius,1961). Urin yang diekskresikan selama 24 jam, pada diet biasa meliputi air 1,2 L; urea 30 gr; asam urat 0,5 gr; kreatinin 1,0 gr; lainnya 10,0 gr; materi organik 3,0 gr. (Tuttle dan Schottelius, 1961).

Dalam urine juga terdapat tingkat keasaman (pH). Urine dalam keadaan asam dengan pH yang lebih rendah dari 6, ada asam yang dapat ditibrasi, ada ion-ion amonium, tetapi tidak ada ion bikarbonat. Sel-sel tubulus renal memiliki kemampuan untuk membentuk amoniak ( NH3 ) dari deaminasi asam-asam amino. Amonia tersebut berdifusi ke dalam tubulus dan segera bereaksi dengan ion-ion hidrogen membentuk ion-ion amonium ( NH4+ ) yang kemudian diekskresikan ke dalam urine, dalam kombinasi dengan klorida atau ion-ion negatif lainnya. Ini adalah cara untuk memindahkan ion hidrogen dan klorida, sementara garam netral amonium klorida membantu mempertahankan pH yang normal dari filtrat. Reabsorbsi bikarbonat dan ion-ion Na+ ke dalam plasma darah, merupakan cara yang penting guna mengotrol keseimbangan asam basa. pH urine yang terakhir, tergantung pada kuantitas berbagai ion yang terdapat di dalamnya. Peningkatan bikarbonat menyebabkan meningkatnya kebasaan ( alkalinitas ) urine. Urine yang asam dapat dihasilkan oleh pertukaran natrium dengan ion-ion hidrogen atau amonium klorida. ( Frandson , 1993 ). 

Urine yang terus menerus bersifat asam dapat terjadi pada asidosis respiratorik atau asidosis metabolik & pada piroksida (demam) , sedangkan urine yang terus menerus bersifat basa menyatakan adanya infeksi pada saluran kemih oleh organisme yang menguraikan urea. Contoh pada infeksi proteus, pH urine tetap sebesar 8 atau lebih tinggi lagi. Urine yang terus menerus bersifat basa juga terjadi pada renal tubular asidosis (penyakit ginjal dimana bikarbonat tidak dapat dikonservasi), pada kekurangan kalium & pada sindroma Fanconi (penyakit ginjal dimana terjadi gangguan ekskresi amonia) (S.A. Price d Sistem uriner terdiri dari dua ginjal dua ureter, kandung kencing , dan uretra. Ginjal melakukan fungsi vital sebagai pengatur volume dan komposisi kimia darah dengan mengekskresikan solut dan air secara selektif. Fungsi vital ginjal dilakukan dalam organ dengan filtrasi plasma darah melalui glomerulus, diikuti dengan proses reabsorbsi sejumlah cairan dan air sesuai disepanjang tubulus ginjal. Kelebihan solut dan air akan diekskresikan sebagai urine melalui sistem keluar tubuh. Menurut Pearce (1997) Dalam ginjal terjadi rangkaian proses pembentukan urine, yaitu sebagai berikut : 

1. Penyaringan atau filtrasi zat-zat sisa metabolisme. Proses ini dilakukan oleh simpai Bowmen.

2. Penyerapan kembali atau reabsorbsi zat-zat yang masih berguna bagi tubuh. Proses ini berlangsung di sepanjang tubulus kontortus proksimal hingga gelung Henle.

3. Pengeluaran zat yang tidak diperlukan dan tidak dapat disimpan dalam tubuh yang disebut augmentasi. Proses ini terdapat di tubulus kontortus distal hingga tubulus kolektifus.

Pengeluaran glukosa yang terus meningkat akan menyebabkan diabetes. Hal ini disebabkan karena jika konsentrasi glukosa yang memasuki tubulus ginjal lebih dari 225 mg per menit, sebagian besar glukosa ini akan keluar melalui urine. Nilai itu sesuai dengan konsentrasi plasma yaitu 180 mg per 100 ml dan disebut renal threshoid.. Jika konsentrasi glukosa naik terus melebihi 325 mg per menit, yaitu nilai Tm untuk glukosa. Diginjal kelebihan glukosa ini keluar melalui urine. Karena pada penderita diabetes yang tidak diobati, dapat mencapai nilai gula darah diantara 300-500 mg per 100 ml, maka beberapa ratus gram glukosa dapat keluar melalui urine per hari (Effendi, 1991). Meski glukosa dapat melalui membran glomerolus, dalam keadaan normal konsentrasi glukosa dipertahankan melalui reabsorbsi yang sempurna. Dalam kenyataannya, adanya glukosa didalam urine merupakan keadaan yang tidak normal ( Tjokroprawiro , 1992 ). 

BAB IV 

METODOLOGI PRAKTIKUM 

Praktikum Dasar Fisiologi Ternak tentang penentuan HCG dalam urin dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 27 Mei 2008 pada pukul 07.00 - 09.00 WIB di Laboratorium Struktur dan Fungsi Hewan, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Diponegoro Semarang. 

4.1. Materi

Bahan yang diperlukan dalam praktikum ini adalah urine wanita hamil dan urine wanita dewasa yang tidak hamil (urine normal). Alat yang diperlukan dalam praktikum ini adalah test slide dan gelas transparan. 

4.2. Metode

Menyiapkan urine wanita hamil dan urine wanita dewasa tidak hamil (urine normal). Langkah selanjutnya adalah menyelupkan test slide ke dalam tabung yang berisi sampel urine, sampai tanda panah pada slide, tunggu selama 20 detik, lalu angkat test slide dan letakkan dalam tempat yang kering, lakukan pengamatan pada test slide setelah 3 menit. Bila pada indikator terdapat satu strip berarti hasilnya negatif, tetapi apabila pada indikator terdapat dua strip berarti hasilnya positif. Mengulangi test pada urine wanita hamil pada temperatur di bawah temperatur kamar. 

BAB V 

HASIL PERCOBAAN 

Dari hasil praktikum tentang Penentuan HCG Dalam Urine dapat diketahui bahwa urine pada wanita hamil menunjukkan dua strip pada test slide yang berarti hamil sedangkan pada urine wanita dewasa yang tidak hamil (urine normal) menunjukkan satu strip pada test slide yang berarti tidak hamil.

BAB VI 

PEMBAHASAN 

Dari hasil percobaan diperoleh hasil pada wanita hamil menunjukkan dua strip pada test slide yang berarti positif sedangkan pada wanita yang tidak hamil (urine normal) menunjukkan satu strip pada test slide yang berarti negative. 

HCG berfungsi untuk mempertahankan corpus luteum yang membuat estrogen dan progesteron sampai saat plasenta terbentuk sepenuhnya dan dapat membuat sendiri cukup estrogen dan progesteron. Pada waktu itu kadar HCG juga turun. (Prawirohardjo, 1976). Human Chorionic Gonadotropic adalah hormon yang terdapat pada urine semasa kebuntingan pada manusia. Oleh sebab itu HCG hanya dapat digunakan pada manusia saja, sedangkan pada hewan tidak dapat digunakan (Pearce, 1997). 

HGC dalam urine akan diketahui pada wanita hamil karena HGC terbentuk hanya pada wanita yang sedang hamil. Adanya HCG dapat dideteksi 8-9 hari setelah adanya peristiwa ovulasi. HCG dalam urine berisi dua reagen, pertama adalah suspensi partikel lateks yang dilapisi atau terikat secara kovalen dengan HCG dan yang lain berisi larutan antibodi HCG. Bila terdapat HCG dalam urine, HCG terikat pada antibodi dan dengan demikian akan mencegah aglutinasi partikel lateks yang dilapisi HCG yang diperlihatkan oleh antibodi tersebut. Dengan demikian uji kehamilan positif, apabila tidak terjadi aglutinasi, dan kehamilan negatif jika terjadi aglutinasi. Identifikasi HCG ini dapat dilakukan pada awal-awal kehamilan (Murray et al, 1999). 

Test slide ini sangat tergantung pada kerja sama antibodi dan antigen. Antibodi ini zat kimia yang dihasilkan oleh limfosit dan struktur lain di dalam tubuh. Sedangkan antigen, zat asing yang masuk dan merangsang reaksi kimia tubuh. Jika antigen masuk ke dalam jaringan tubuh, antibodi bereaksi sehingga antigen tidak berbahaya lagi. Tiap antibodi hanya bereaksi terhadap antigen tertentu. Antibodi-antibodi itulah yang “ditambatkan” pada media tes, yang mempunyai dua strip (garis) indicator (Pearce, 1997). 

Pada fase kehamilan bulan ketiga dan keempat, korpus luteum masih menghasilkan hormon estrogen dan progresteron. Kedua hormon tersebut mempunyai peranan dalam mengatur dinding uterus sehingga siap untuk menerima implantasi dan memberikan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh zigot yang sedang berkembang. Pada fase ini, juga sudah terjadi rangsangan pada kelenjar susu, sehingga pada saat diperlukannya sudah siap berfungsi. Selanjutnya fungsi korpus luteum diganti oleh plasenta yang menghasilkan hormon yang diperlukan untuk kehidupan janin dalam rahim. Hormon HCG (Human Chorionic Ganadotropin) yang bekerja dari hari kedelapan sampai minggu kedelapan kehamilan dapat digunakan untuk mengetes kehamilan, karena hormon tersebut dijumpai dalam urine orang yang hamil. Hormon lain yang dihasilkan oleh plasenta adalah hormon yang mempengaruhi kerja kelenjar susu untuk mengatur metabolisme ibu yang hamil, sehingga apa yang dibutuhkan ibu bisa dikurangi dan disalurkan kejanin, dan juga untuk mempersiapkan kebutuhan energi bagi ibu. Hormon penting lain yang juga dihasilkan plasenta adalah relaksin yang mempengaruhi fleksibilitas simfisis pubis dan organ-organ lain di daerah tersebut sehingga mempermudah kelahiran.(Kimball, 1994). 

BAB VII 

KESIMPULAN 

HCG (Human Chorinic Gonadotropin ) dalam urine wanita hamil menunjukkan dua stip pada test slide yang berarti wanita tersebut mengalami kehamilan sedangkan pada urine wanita tidak hamil (urine normal) menunjukkan satu stip pada test slide yang berarti wanita tersebut tidak mengalami kehamilan. 

Hormon HCG dapat ditemukan pada urine wanita hamil. Hormon ini dihasilkan oleh jaringan plasenta yang sedang berkembang sesaat setelah terjadi pembuahan. HCG dapat digunakan sebagai pendeteksi kehamilan. Prinsip kerja HCG test adalah reaksi penghambatan aglutinasi yang digunakan untuk menunjukkan hormon HCG yang disekresikan kedalam urine selama masa kehamilan. 



DAFTAR PUSTAKA

Effendi hasjim. DR, et all. 1991. Fisiologi dan Pathofisiologi Ginjal. Alumni, Bandung. 

Frandson, R.D. 1993. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta (diterjemahkan oleh B. Srigandono & Koen Praseno).

Johnson K. E. 1994. Histologi dan Fisiologi Sel. Binarupa Aksara, Jakarta.

Murray, Robert K. et al. 1999 Biokimia Harper. ECG. Jakarta.

Pearce, E. 1997. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Prawirohardjo, S. 1976. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka. Jakarta.

One Med Health Care. Test Kehamilan Instant. Dep. Kes. RI. KL.
0101200105.

Tuttle, W.W. and Schottelius, Byron A. 1961. Texbook of Physiology The C. V. Mosby Company, St. Louis, USA.

»»  Baca Selengkapnya...

Rabu, 13 Juni 2012

Polymerase Chain Reaction


A. Prinsip Kerja

Polymerase Chain Reaction (PCR) adalah metode untuk amplifikasi (perbanyakan) primer oligonukleotida diarahkan secara enzimatik urutan DNA spesifik. Teknik ini mampu memperbanyak sebuah urutan 105-106-kali lipat dari jumlah nanogram DNA template dalam latar belakang besar pada sequence yang tidak relevan (misalnya dari total DNA genomik). Sebuah prasyarat untuk memperbanyak urutan menggunakan PCR adalah memiliki pengetahuan, urutan segmen unik yang mengapit DNA yang akan diamplifikasi, sehingga oligonucleotides tertentu dapat diperoleh. Hal ini tidak perlu tahu apa-apa tentang urutan intervening antara primer. Produk PCR diamplifikasi dari template DNA menggunakan DNA polimerase stabil-panas dari Thermus aquaticus (Taq DNA polimerase) dan menggunakan pengatur siklus termal otomatis (Perkin-Elmer/Cetus) untuk menempatkan reaksi sampai 30 atau lebih siklus denaturasi, anil primer, dan polimerisasi. Setelah amplifikasi dengan PCR, produk ini dipisahkan dengan elektroforesis gel poliakrilamida dan secara langsung divisualisasikan setelah pewarnaan dengan bromida etidium.


PCR (Polymerase Chain Reaction) merupakan suatu teknik perbanyakan (amplifikasi) potongan DNA secara in vitro pada daerah spesifik yang dibatasi oleh dua buah primer oligonukleotida. Primer yang digunakan sebagai pembatas daerah yang diperbanyak adalah DNA untai tunggal yang urutannya komplemen dengan DNA templatnya. Proses tersebut mirip dengan proses replikasi DNA secara in vivo yang bersifat semi konservatif.


PCR memungkinkan adanya perbanyakan DNA antara dua primer, hanya di dalam tabung reaksi, tanpa perlu memasukkannya ke dalam sel (in vivo). Pada proses PCR dibutuhkan DNA untai ganda yang berfungsi sebagai cetakan (templat) yang mengandung DNA-target (yang akan diamplifikasi) untuk pembentukan molekul DNA baru, enzim DNA polimerase, deoksinukleosida trifosfat (dNTP), dan sepasang primer oligonukleotida. Pada kondisi tertentu, kedua primer akan mengenali dan berikatan dengan untaian DNA komplemennya yang terletak pada awal dan akhir fragmen DNA target, sehingga kedua primer tersebut akan menyediakan gugus hidroksil bebas pada karbon 3’. Setelah kedua primer menempel pada DNA templat, DNA polimerase mengkatalisis proses pemanjangan kedua primer dengan menambahkan nukleotida yang komplemen dengan urutan nukleotida templat. DNA polimerase mengkatalisis pembentukan ikatan fosfodiester antara OH pada karbon 3’ dengan gugus 5’ fosfat dNTP yang ditambahkan. Sehingga proses penambahan dNTP yang dikatalisis oleh enzim DNA polimerase ini berlangsung dengan arah 5’→3’ dan disebut reaksi polimerisasi. Enzim DNA polimerase hanya akan menambahkan dNTP yang komplemen dengan nukleotida yang terdapat pada rantai DNA templat.


PCR melibatkan banyak siklus yang masing-masing terdiri dari tiga tahap berurutan, yaitu pemisahan (denaturasi) rantai DNA templat, penempelan (annealing) pasangan primer pada DNA target dan pemanjangan (extension) primer atau reaksi polimerisasi yang dikaalisis oleh DNA polimerase.



B. Kegunaan

Polymerase Chain Reaction (PCR) dapat digunakan untuk: 
  1. amplifikasi urutan nukleotida. 
  2. menentukan kondisi urutan nukleotida suatu DNA yang mengalami mutasi. 
  3. bidang kedokteran forensik. 
  4. melacak asal-usul sesorang dengan membandingkan “finger print”. 

C. Waktu yang Dibutuhkan 
  1. 1-2 hari 
  2. PCR: 3-6 jam atau semalam 
  3. Polyacrylamide gel electrophoresis using “Mighty-small II” gel apparatus: 2.5 hours poliakrilamid gel elektroforesis menggunakan “Mighty-small II” bahan gel: 2,5 jam 
  4. Etidium bromide staining dan fotografi: 45 menit 

D. Reagen Khusus 
  1. Pasangan primer oligonukleotida sintetik mengapit urutan yang akan diamplifikasi 
  2. Buffer PCR 5X (250 mM KCl, 50 mM Tris-HCl pH 8,3, 7,5 mM MgCl2) 
  3. Campuran dari empat dNTP (dGTP, dATP, dTTP, dCTP) masing-masing sebesar 2,5 mM (ultra murni DNTP set, Pharmacia # 27-2035-01). DNTP campuran dibuat dengan volume 10 mM larutan dari masing-masing empat dNTP terpisah yang digabung. 
  4. Taq DNA Polymerase (AmpliTaqTM, Perkin-Elmer/Cetus) 
  5. Minyak mineral ringan 
  6. Akrilamida (grade elektroforesis) 
  7. N, N’-Methylenebisacrylamide (grade elektroforesis, Ultra-Pure/BRL, # 5516UB) 
  8. Amonium persulfat (Ultra-Pure/BRL, # 5523UA) 
  9. TEMED (N, N, N’N ‘Tetramethylethylenediamine, Ultra-Murni / BRL, # 5524UB) 


E. Peralatan Khusus 
  1. Mighty-small II SE-250 vertical gel electrophoresis unit (Hoefer) 
  2. Perkin-Elmer/Cetus Thermal Cycler 
  3. Sterile Thin-wall 0.5 ml Thermocycler microfuge tubes: (TC-5, Midwest Scientific) 


Komponen PCR lainnya:

1) Enzim DNA Polymerase

Dalam sejarahnya, PCR dilakukan dengan menggunakan Klenow fragment DNA Polimerase I selama reaksi polimerisasinya. Enzime ini ternyata tidak aktif secara termal selama proses denaturasi, sehingga peneliti harus menambahkan enzim di setiap siklusnya. Selain itu, enzim ini hanya bisa dipakai untuk perpanjangan 200 bp dan hasilnya menjadi kurang spesifik. Untuk mengatasi kekurangan tersebut, dalam perkembangannya kemudian dipakai enzim Taq DNA polymerase yang memiliki keaktifan pada suhu tinggi. Oleh karenanya, penambahan enzim tidak perlu dilakukan di setiap siklusnya, dan proses PCR dapat dilakukan dalam satu mesin

2) Primer

Primer merupakan oligonukleotida pendek rantai tunggal yang mempunyai urutan komplemen dengan DNA templat yang akan diperbanyak. Panjang primer berkisar antara 20-30 basa. Untuk merancang urutan primer, perlu diketahui urutannukleotida pada awal dan akhir DNA target. Primer oligonukleotida di sintesis menggunakan suatu alat yang disebut DNA synthesizer.

3) Reagen lainnya


Selain enzim dan primer, terdapat juga komponen lain yang ikut menentukan keberhasilan reaksi PCR. Komponen tersebut adalah dNTP untuk reaksi polimerisasi, dan buffer yang mengandung MgCl2. Konsentrasi ion Mg2+dalam campuran reaksi merupakan hal yang sangat kritis. Konsentrasi ion Mg2+ ini sangat mempengaruhi proses primer annealing, denaturasi, spesifisitas produk, aktivitas enzim dan fidelitas reaksi.


F. Tahapan PCR

1) Denaturasi

Selama proses denaturasi, DNA untai ganda akan membuka menjadi dua untai tunggal. Hal ini disebabkan karena suhu denaturasi yang tinggi menyebabkan putusnya ikatan hidrogen diantara basa-basa yang komplemen. Pada tahap ini, seluruh reaksi enzim tidak berjalan, misalnya reaksi polimerisasi pada siklus yang sebelumnya. Denaturasi biasanya dilakukan antara suhu 90 oC – 95 oC.

2) Penempelan primer

Pada tahap penempelan primer (annealing), primer akan menuju daerah yang spesifik yang komplemen dengan urutan primer. Pada proses annealing ini, ikatan hidrogen akan terbentuk antara primer dengan urutan komplemen pada template. Proses ini biasanya dilakukan pada suhu 50 oC – 60 oC. Selanjutnya, DNA polymerase akan berikatan sehingga ikatan hidrogen tersebut akan menjadi sangat kuat dan tidak akan putus kembali apabila dilakukan reaksi polimerisasi selanjutnya, misalnya pada 72 oC.

3) Reaksi polimerisasi (extension)

Umumnya, reaksi polimerisasi atau perpanjangan rantai ini, terjadi pada suhu 72 oC. Primer yang telah menempel tadi akan mengalami perpanjangan pada sisi 3’nya dengan penambahan dNTP yang komplemen dengan templat oleh DNA polimerase.

Jika siklus dilakukan berulang-ulang maka daerah yang dibatasi oleh dua primer akan diamplifikasi secara eksponensial (disebut amplikon yang berupa untai ganda), sehingga mencapai jumlah copy yang dapat dirumuskan dengan (2n)x. Dimana n adalah jumlah siklus dan x adalah jumlah awal molekul DNA. Jadi, seandainya ada 1 copy DNA sebelum siklus berlangsung, setelah satu siklus, akan menjadi 2 copy, sesudah 2 siklus akan menjadi 4, sesudah 3 siklus akan menjadi 8 kopi dan seterusnya. Sehingga perubahan ini akan berlangsung secara eksponensial. PCR dengan menggunakan enzim Taq DNA polimerase pada akhir dari setiap siklus akan menyebabkan penambahan satu nukleotida A pada ujung 3’ dari potongan DNA yang dihasilkan. Sehingga nantinya produk PCR ini dapat di kloning dengan menggunakan vektor yang ditambahkan nukleotida T pada ujung-ujung 5’-nya. Proses PCR dilakukan menggunakan suatu alat yang disebut thermocycler.


G. Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction (Rt-Pcr)

RT-PCR merupakan singkatan Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction. Seperti namanya, proses RT-PCR merupakan bagian dari proses PCR biasa. Perbedaanya dengan PCR yang biasa, pada proses ini berlangsung satu siklus tambahan yaitu adanya perubahan RNA menjadi cDNA (complementary DNA) dengan menggunakan enzim Reverse Transkriptase. Reverse Transcriptase adalah suatu enzim yang dapat mensintesa molekul DNA secara in vitro menggunakan template RNA.

Seperti halnya PCR biasa, pada pengerjaan RT-PCR ini juga diperlukan DNA Polimerase, primer, buffer, dan dNTP. Namun berbeda dengan PCR, templat yang digunakan pada RT-PCR adalah RNA murni. Oleh karena primer juga dapat menempel pada DNA selain pada RNA, maka DNA yang mengkontaminasi proses ini harus dibuang. Untuk proses amplifikasi mRNA yang mempunyai poly(A) tail pada ujung 3′, maka oligo dT, random heksamer, maupun primer spesifik untuk gen tertentu dapat dimanfaatkan untuk memulai sintesa cDNA.


H. Metoda Deteksi Produk PCR

Produk PCR adalah segmen DNA (amplikon) yang berada dalam jumlah jutaan copy, tetapi tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Oleh karena itu PCR perlu diikuti dengan suatu tahap akhir yang bertujuan untuk memvisualisasikan produk PCR serta sekaligus bertujuan untuk mengetahui ukuran produk PCR dan mengetahui apakah produk yang dihasilkan adalah benar seperti yang diinginkan. Salah satu metoda deteksi yang umum dilakukan adalah elektroforesis gen agarosa.



»»  Baca Selengkapnya...
Photobucket
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...